Akhirnya, sampai juga saya di Nangleng yang siang itu cukup sejuk........ Nangleng?

Saya ingat waktu itu sekitar bulan Maret 2007. Saya penasaran dengan diterbitkannya seri peta Puncak Trek Guidebook oleh WIPA (puncaktrek.com). Setelah mencari info di indobackpackers dan mr. Google, akhirnya ada e-mail dari bu Korns, dan singkatnya satu seri puncak trek diantar ke rumah...(terima kasih, bu Korns... ).
Setelah membuka peta – peta itu, akhirnya saya tahu dimana Nangleng itu ....dan ternyata pengetahuan saya tentang wilayah Indonesia – Jawa Barat – Bogor (zoom mode on) ini alangkah minimnya...... dan rasa ingin tahu saya terhadap wilayah lereng-lereng Gede Pangrango ini semakin naik tensinya dari hari ke hari. Nangleng dalam Puncak Trek Guidebook masuk dalam Sector B – Ciawi yang diapit oleh Jalan Raya Puncak dan Jalan Raya Sukabumi dan keduanya bertemu di Pasar Ciawi dengan variasi ketinggian menurun dari 1160 mdpl sampai yang terendah 711 mdpl di barat daya dekat Kampung Nangleng. Dari Kampung Nangleng ini, hutan membentang sejauh 10,5 km ke arah puncak Pangrango.... Di sektor B ini terdapat kebun – kebun teh seperti Lemahneundeut, Arca dan Pancawati. Penduduk kampung sudah mengambil alih sebagian besar perkebunan ini untuk ditanami sayuran. Di sektor B ini juga, dapat kita temui peninggalan sejarah seperti Arca Domas dan makam tentara Jerman, beberapa Curug yang masih alami, Tapos, beberapa base camp outbound, workshop keramik FX Widayanto dan kebun – kebun organik serta hutan – hutan yang masih menyimpan flora dan fauna yang beragam seperti jenis – jenis anggrek, Monyet ekor panjang, Owa Jawa, babi hutan, tupai, musang, elang Jawa, burung puyuh gonggong Jawa, cekakak sungai, cucak kutilang dan tekukur. Pengolahan kebun dan sawah yang ekspansif menjadi ancaman tersendiri terhadap keanekaragaman tersebut..... Akhirnya, sampai juga saya di Nangleng... Waktu itu hari Minggu kami bertiga : saya, om Agung dan om Ro'uf berangkat sekitar pukul 7.30 dari Kompleks Hero / Giant Pajajaran. Semula, om Guntur, kang Bagja dan om Oki akan bergabung juga tetapi karena ada kesibukan akhirnya kami bertiga yang berangkat ke Nangleng. Setelah menyempatkan diri sarapan, kami bertiga berangkat. Semula saya usulkan naik angkot saja sampai Nangleng dan di Nangleng barulah kita mulai eksplorasi rute, tetapi om Agung dan om Ro'uf mengusulkan alternatif nggowes dari meeting point : Alamaak.....batin saya..... tetapi ya apa boleh buat..... Kami bergerak menuju Tajur – Pertigaan Ciawi. Udara masih segar sisa hujan semalam. Lalu lintas padat : angkot, sepeda motor, mobil pribadi, orang – orang bersepeda.....mendekati pertigaan Ciawi, lalu lintas semakin ramai dan jalan semakin menanjak... Selepas pertigaan Ciawi, kami belok kanan ke arah Sukabumi. Jalanan semakin ramai dan semakin menanjak juga. Tetapi inilah nikmatnya bersepeda : selap selip, meliuk – liuk diantara kendaraan, kalau perlu ambil kiri full lewat celah – celah jalan yang mustahil dilewati kendaraan lain ..... Selepas Cikereteg, jalan yang menanjak berubah turun........ Waaah....turunan panjang nih....dan turunan panjang itu berakhir di pertigaan Cimande. Waktunya belok kiri ! Kami belok kiri setelah melewati jembatan baja pertama. Gunung Pangrango mulai terlihat dan jalanan yang tadi didominasi kendaraan besar sekarang didominasi sepeda motor dan pick up terbuka... Udara mulai lebih dingin dan jalanan menanjak terus, mirip jalur ke Sukamantri. Kami melewati kampung Sasak Dua, kampung Cimande Girang menuju Kampung Nangleng : sampai batas jalan aspal habis ! Tapi tanjakan seolah – olah tidak pernah habis. Saya sebagai 'penikmat' tanjakan menikmati perjalanan dengan menggenjot sepeda pelan – pelan (hehehe)....sementara om Rouf dan om Agung – dua raja tanjakan itu – sudah menghilang entah dimana di depan. Beberapa kali saya mengambil pit stop liar karena hidung yang buntu perlu dilegakan (sorry....saya flu ). Tapi bersemangat lagi melihat Pangrango di depan yang dengan indah menampakkan diri... sementara di belakang, gunung Salak tersenyum melihat saya mengejar dua raja tanjakan yang sudah hilang melesat di depan.... Akhirnya, sampai juga saya di Nangleng... Waktu itu sekitar pukul 9.30..... 
Setelah istirahat minum teh manis yang hangat, membuka peta dan bertanya ke warga setempat, kami melanjutkan perjalanan dengan asumsi bahwa kami menuju Pancawati.... Kami mengarahkan sepeda melewati rumah – rumah penduduk, kandang kambing, kebun – kebun kol yang rapat dan belok kanan.....tiba – tiba lanskap indah membentang dihadapan kami : lembah yang dihias sawah – sawah terasiring geometris berderet rapi, hijau dengan sungai cimande yang berkelok di tengahnya adalah kontras bagi hutan pinus dipuncak – puncak bukit dan Pangrango yang perkasa pagi itu berkabut misterius.... Udara lembah yang segar dingin membuat kelelahan terlupakan sejenak. 
Kami pun turun kearah lembah. Berhenti di jembatan kecil terbuat dari beton dan melewati pematang – pematang sawah menuju ke seberang : kampung Bangrung. Di jalur ini, sepeda harus rela tidak digowes. Kami berharap , di atas ada jalan sejajar dengan kontur bukit sehingga kami tidak terlalu berat memanggul sepeda. Tapi apalah daya, manusia berharap, Allah yang menentukan, jalan yang kami temukan adalah jalan setapak naik lurus menantang ketinggian bukit. No genjot, GGS (Gotong – gotong Sepeda) only.... Akhirnya kami bertiga ber-GGS ditonton orang – orang yang memandang kami dengan ekspresi : "Mas – mas......sampean ini jauh – jauh kesini kok ya cuman buat manggul sepeda, apa ya nggak ada kerjaan lain ?" But show must go on..... Kami pun ber GGS melewati jalanan setapak berundak yang licin sisa hujan tadi malam. Akhirnya, sampailah kami di sebuah musholla ...... Saya membayangkan, kalau saya bawa "My Black Scott"....walah.....ya ampun – ampunan saya melewati tanjakan dan jalur GGS tadi...... Setelah istirahat, kami melanjutkan perjalanan lagi....ke Pancawati. Tanpa babibu...kami langsung belok kiri dan berhenti di sebuah gardu pandang yang menghadap lembah. Kampung Nangleng terlihat di seberang..... indah menakjubkan.... Perjalanan kami teruskan melewati jalan makadam menurun, melewati kampung. Setelah agak jauh, saya merasa bahwa jalur yang kami lewati salah.... Apakah ini euphoria jalan turun setelah tadi habis – habisan GGS ? Akhirnya saya berhenti dan bertanya ... "Pak, jalan ini tembus kemana?" "Ke Cimande Talang, pak....." jawab mas – mas yang saya tanya..... Waduuh...itu khan pertigaan Cimande tempat kami masuk tadi..... Mau mbalik naik ? Waaah, ampuuun.... Akhirnya kami putuskan on road lagi lewat raya Sukabumi menuju Bogor.... Nanjak lagi, macet lagi malah siang itu macetnya lebih ampun ampunan........ Seperti biasa, saya menikmati tanjakan dan dua raja tanjakan melejit meninggalkan saya...... Dalam perjalanan pulang menjelang Cikereteg, om Agung terjatuh dengan sebab – sebab yang sampai sekarang masih misterius.... tapi akibatnya lumayan juga : otot betis kiri tertarik sehingga terasa nyeri setiap dipakai menggenjot pedal..... Tapi biar pun begitu, gowes tetap jalan !
No pain, no angkot.... Luar biasa.... Saya terus via Air Mancur, sementara om Agung & om Ro'uf pulang via Jambu Dua. Pukul 13.21, saya sampai kembali di rumah. 
Cyclometer menunjukkan 66,1 km jarak yang sudah ditempuh.... Alhamdulillah....akhirnya jadi juga saya ke Nangleng ..... Dan hutan – hutan Pinus di Gigir Pancawati membayang,
memanggil – manggil saya untuk kembali....... Foto - foto silahkan diintip di :
http://myunuswb.multiply.com/photos/album/43
Entah kenapa, tiba – tiba saya ingat pak Toha. Pak Toha dan keluarganya, dulu – berpuluh tahun yang lalu – menumpang tinggal di kebun belakang rumah bapak ibu, yang dalam istilah Jawa dinamakan magersari. Saya ingat dulu, saat pertama kali pak Toha datang ke rumah, bersama istrinya – yang kemudian biasa dipanggil le' Ni – dan dua anaknya, Muslimin dan Musliman -keduanya mungkin berumur empat dan tiga tahun , hitam kecil kurus dan perutnya buncit- berdiri agak membungkuk seperti menahan beban, menanyakan bapak kepada saya.
Entah apa yang dibicarakan, saya yang masih kecil- mungkin kelas dua atau tiga SD- hanya melihat dari ruang belakang, sampai akhirnya ibu masuk dan membawa besek berisi mangga arumanis. Mangga paling manis yang pernah saya rasakan. Esoknya, ada kesibukan di kebun belakang rumah, karena ada beberapa orang yang gotong royong mendirikan rumah. Tidak sampai tiga hari, sudah berdiri sebuah rumah berdinding gedek, beratap welit - daun kelapa yang dianyam - dan berlantai tanah… Pak Toha dan istrinya bekerja sebagai buruh lepas. Membersihkan halaman, mengapur dinding rumah, menebang kayu sampai kadang menjaga rumah yang ditinggal pemiliknya dan buruh cuci. Sore ketika menerima upah, diterimanya uang itu dengan takzim... badan menghormat sambil mengucapkan "Matur nuwuun.... Alhamdulillah...." Dengan wajah gembira penuh syukur....... Sore harinya, pak Toha mengajar mengaji di musholla kecil dekat rumah dan atas jasanya ini, pak Toha tidak pernah menarik bayaran. Muridnya banyak…. Disaat akhir Ramadhan, dua hari sebelum 1 Syawal, biasanya ibu akan memanggil le' Ni, memberinya beberapa kilo beras zakat dan beberapa kilo lagi untuk membuat ketupat, beberapa kilo beras ketan, kacang tanah dan bahan-bahan lain untuk membuat lepet. Mengenai beras zakat itu, saya mempunyai rahasia…Beras-beras zakat yang didapat pak Toha dan keluarganya, diberikan lagi kepada orang-orang yang menurutnya lebih membutuhkan karena : "Pak Toha ini khan masih kuat, masih bisa bekerja…..…" begitu katanya..... Entah kenapa, tiba – tiba saya ingat almarhum pak Toha. Mungkin Allah sedang mengingatkan saya ......
Sepeda mempunyai arti besar bagi David Cameron, Ketua Partai Konservatif Inggris yang sekarang beroposisi terhadap Partai Buruh pimpinan Gordon Brown. Tak mengherankan kalau ia sangat sedih dan marah ketika sepedanya dicuri. Rabu (23/7) malam lalu, sepeda itu dicuri dari tempat parkir supermarket tempat ia berbelanja tak jauh dari rumahnya di London barat. Padahal, sepeda itu kerap mengantarnya dari rumah ke kantornya di DPR. Sunday Mirror melaporkan, sepeda itu sudah ditemukan dan dicampakkan di pinggir jalan berkat bantuan Ernest Theophile (60)........ (Dikutip mentah -mentah dari sini )
Kalau Tukul jadi Caleg, kita jadi apa?Beritanya disini
Kemarin ada ada nomor telepon tak dikenal yang tiba – tiba muncul di layar HP saya. Ketika saya angkat, ternyata yang menelpon saya adalah saudara yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Setelah basa basi menanyakan khabar, beliau menanyakan sesuatu.... " Ada pekerjaan nggak, buat adikmu.....?" Saya membayangkan wajah 'adik' saya itu, tapi lama betul, bayangannya muncul dalam ingatan saya. Sudah berapa puluh tahun saya tidak ketemu, 'adik' saya itu ya? Akhirnya telepon ditutup dengan janji saya untuk menanyakan kesana dan kesini......sampai akhirnya saya pusing sendiri... Sering ada telepon seperti ini. Malah ada yang menelpon saya pukul setengah dua belas malam dan menanyakan, "Pak, ada kerjaan nggak buat saya? Sudah lama nganggur, nih...." Bahkan dulu, ada yang hampir tiap malam datang ke rumah, mengajak ngobrol dan endingnya meminta saya memasukkan beliau ke tempat saya kerja..... Ada juga yang ayahnya menelpon dan meminta anaknya dimasukkan ke tempat kerja saya, asal dengan syarat 'istri si anak ikut kerja juga'........ Ada yang pernah menitipkan CV juga, tapi ketika saya bilang kemungkinan akan dikirim ke Aceh, CV-nya ditarik lagi...... Apakah saya sukses sebagai informan dan 'penyalur' ? Wah, yaa tidak juga..... Ketika hal itu saya katakan kepada sahabat saya, dia bilang...... "Bersyukur, tho mas...sampean masih menjadi pihak yang menjadi bagian dari harapan mereka......"
 Sudah download web browser Firefox 3 Beta di sini ? Silahkan dicoba browser dengan rasa "bahasa Indonesia". Waktu pertama mencoba, agak kagok juga lhaa biasanya pakai "coro english" (halah), tapi lama-lama asyik juga....  Salute buat Romi Hardiyanto yang sudah bersusah payah mengoprek open source dan hasilnya bisa kita nikmati gratis! Kalau tetep pakai Firefox 2, add on Bahasa Indonesia-nya bisa di download di sini.....
Kalau belum sempat menikmati transkrip percakapan telepon yang disadap KPK.....silahkan dinikmati dan silahkan geleng - geleng kepala.....Kisah ini diawali ketika Kejaksaan Agung mengumumkan penghentian penyelidikan kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia yang menyangkut Sjamsul Nursalim pada 27 Februari 2008. Sore harinya, Jaksa Urip Tri Gunawan dan Artalyta berkomunikasi lewat telepon. Beginilah petikan percakapan mereka. Artalyta (A), Urip (U). A: Halo? Sudah beres? U: Sip. Sudah beres. Pokoknya nggak ada macam-macam. A: Pokoknya ini Minggu (2 Maret 2008), aku sudah ada. Aku sudah siap. (uang US$ 660 ribu). U: Garuk-garuk ya? Aku kan garuk-garuk tangan ini. A: Garuk-garuk tangan? U: Ngerti toh? A: Oh iya.. U: Pokoknya tenang aja, aman sekali pokoknya. A: Ya udah ini jangan terlalu lama, barang itu di rumahku kelamaan, di brankasku. U: Aku kan juga mengamankan dokumen-dokumen itu semua nanti ya itu kan. Yang ex-ex kemarin itu harus tak amankan semua. Jangan sampai muncul ke mana-mana. Tapi sesuai aku bilang kemaren nggak ini. A: Yang bilang kemarin berapa? Kan enam. U: Belum bonusnya ya? Aku garuk-garuk kepala itu? A: Aku udah komit, aku udah putus bicara itu sama ibu. U: Gitu ya…tambahi dikitlah… Pada 2 Maret 2008, dua hari setelah Kejagung menghentikan penyelidikan kasus BLBI, keduanya kembali bercakap-cakap. Urip menanyakan alamat tempat pengambilan uang kepada Artalyta. U: Jalan apa? A: Terusan Hang Lekir. Kawasan Simprug WG9. WG nomor sembilan. Rumahnya itu di huk, yang gede tinggi itu. U: Nomor mobil DK 1832. Halo ibu, saya sudah di depan rumah ini. A: Ooo … klakson aja klakson. Setelah itu, aparat Komisi Pemberantasan Korupsi meringkus jaksa Urip. *** Selain dengan jaksa Urip, Artalyta berhubungan dengan Kemas Yahya Rahman (saat itu Jaksa Agung Muda Pidana Khusus) pada 29 Februari 2008. Beginilah petikan percakapan antara Artalyta (A) dan Kemas (K): A: Halo. K: Halo. A: Ya, siap. K: Sudah dengar pernyataan saya? Hehehe. A: Good, very good. K: Jadi tugas saya sudah selesai. A: Siap, tinggal… K: Sudah jelas itu gamblang. Tidak ada permasalahan lagi. A: Bagus itu. K: Tapi saya dicaci maki. Sudah baca Rakyat Merdeka? A: Aaah … Rakyat Merdeka nggak usah dibaca. K: Bukan, saya mau dicopot hahaha. Jadi gitu ya… A: Sama ini mas, saya mau informasikan. K: Yang mana? A: Masalah si Joker. K: Ooooo nanti, nanti, nanti. A: Nggak, itu kan saya perlu jelasin, Bang. K: Nanti, nanti, tenang saja. A: Selasa saya ke situ ya… K: Nggak usah, gampang itu, nanti, nanti. Saya sudah bicarakan dan sudah pesan dari sana. Kita…. A: Iya sudah. K: Sudah sampai itu. A: Tapi begini, Bang… K: Jadi begini, ini sudah telanjur kita umumkan. Ada alasan lain, nanti dalam perencanaan … *** Nah, di bawah ini petikan rekaman percakapan via telepon antara Artalyta alias Ayin dan Untung Udji Santoso (Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara). Percakapan terjadi beberapa jam setelah jaksa Urip Tri Gunawan tertangkap pada 2 Maret 2008. Begini petikan wawancara antara Untung (U) dan Ayin (A). U: Memang dikasih berapa duit? A: 660 ribu dolar. U: 4 M. A: 6 M. U: Lailahailallah! A: Jadi bagaimana ini menyelamatkan itu semua, orang-orang kita? U: Nggak iso ngelak kalau 6 M. Gila. A: Jadi gimana? U: Tak pikir enam atus juto gitu. A: Nggak, itu banyak. Gimana? U: Itu untuk siapa? A: Ah, ya udahlah. Sekarang kita jalan keluarnya gimana? U: Aduh biyung gimana? A: Heh. U: Sik…sik… Kalau kayak gitu, susah itu. A: Aku kena loh, Mas kayak gini. U: Lah iya. A: Aku bilang kan ajudanku. U: Ajudan kok duite samono gede ne. Soko ngendi? Ngarang ae. Yo wes. Gimana caranya hubungi Antasari. A: Ya, coba sampeyan telepon dulu. U: Udah, mati teleponnya. A: Mati? Dicari. Suruh nyari dong. Feri (Direktur Penuntutan KPK Feri Wibisono) suruh nyari. U: Feri juga nggak ngangkat. A: Jadi gimana? Ini kan mesti ngamanin bos kita semua. U: (terdiam lama). A: Aku jawabnya apa ya? Sekarang anakku kan masuk lewat belakang. Dia pegang juga. Dia masuk (tiba-tiba terinterupsi, Artalyta seperti menyuruh seseorang di rumahnya melakukan sesuatu). U: Usahakan cepat you keluar. Nyari Antasari deh. A: Ya, di mana dia rumahnya? U: Di anu, di BSD. Waduh, tapi saya tidak tahu juga rumahnya. Tapi jangan, jangan ke rumahnya. Ketemu di mana, di hotel atau di mana gitu deh. A: Ya, aku kan udah mau dibawa. Sampeyanlah yang kejar, yang nyari dia, Mas. Kan nggak kentara kalau sampeyan. U: Ya, iya. Tapi teleponnya aku nggak ngerti rumahnya (suara Untung terdengar gelagapan). Teleponnya nggak diangkat, aku sudah minta Wisnu (Jaksa Agung Munda Intelijen Wisnu Subroto). A: Sekarang susulin. U: Tak telepon dulu. A: Sekarang sampeyan susulin, gerilya sama Wisnu. U: Aku udah telpon Wisnu, demi Allah ini. A: Kata Wisnu apa? U: Aku sudah dibuka teleponnya. Aku juga nggak buka. Kamu punya nomor lainnya nggak? Nggak punya, lah gimana? (Untung menirukan perkataan Wisnu padanya ke Artalyta). A: Sekarang aku kan mau dibawa. Supaya keterangannya sama gimana? Nanti kan kena gimana? Kan jangan sampai kena semua. U: Kenapa sih kok bingung gini? Aduh, gawean ae. A: Makane. Makanya, aku dari luar Jakarta, dia (Jaksa Urip) maksa (ambil uang US$ 660 ribu) hari ini. U: Uhhh, kacau kabeh. (menghela nafas). Saya kira you di rumah saja. Nanti you ditangkep kejaksaan. A: Hah? U: Ditangkep oleh jekso. Mau diskenariokan gitu loh… A: Hah? Kenapa-kenapa Mas? U: Mau diskenariokan begitu. Namun, neng endi iki? A: Nggak, udah aman. Ini nomor lain. Aku di dalem rumah. U: Nanti biar saja, kamu nanti yang ngambil kejaksaan. A: Ho..oh U: Si Urip (Jaksa Urip Tri Gunawan) dicekal KPK. Awakmu di kejaksaan. Loh ini kok sudah penyelesaian begini. Kok ada uang begini. Maksudnya apa begini loh kenapa-kenapa? A: Kan saya bilang, saya tidak ada keterkaitannya juga dengan BLBI dan saya nggak ada…. U: Jangan ngomong begitu. Nggak ada keterkaitannya. Biar saya saja yang mancing. Bilang saja ada hubungan dagang sama dia. Terserahlah. A: Lalu bilang apa? Dikutip mentah-mentah dari : http://ndorokakung.com/2008/06/17/artalyta-pecas-ndahe/
Arifin C. Noer
Perempuan yang bernama kesabaran pabila malam menutup pintu - pintu rumah masih saja ia duduk menjaga anak - anak yang sedang gelisah dalam tidurnya
Perempuan itu adalah ibuku
Perempuan yang menangguhkan segalanya bagi impian - impian yang mendatang. Telah memaafkan setiap dosa dan kenakalan anak - anak sepanjang zaman
Perempuan itu adalah ibuku
Bagi siapa Tuhan menerbitkan matahari surga. Bagi siapa Tuhan memberikan singgasanaNya. Dan dengan segala ketulusan ia membasuh setiap niat busuk anak - anaknya
Dia adalah ibuSastra, No. 4, Th. VII, April 1969 (Dikutip dari : TONGGAK 3 )
Foto dari : http://www.pbase.com/image/25481309
Kemarin -terpaksa- saya sempatkan, hehehe....membongkar rak buku karena sudah banyak debu dan kalau mencari, tumpang tindih campur dengan buku masakan dan komik Franklin. Saya iseng juga untuk melakukan sort , buku apa saja yang belum 'ditamatkan....' Yaa ampun.....ternyata banyak juga, hehehe... Mau tahu ? Beberapa text book tentang arsitektur, filsafat Islam, terjemahan cerpen Gabriel Marquez yang amburadul (jadi pusing bacanya) dan beberapa judul buku yang mau dibaca kembali, karena 'logika' saya dulu belum 'sampai' waktu membacanya. Apakah sekarang sudah 'sampai' ? Ya mari kita lihat, hihihi....
Obrolan tentang ‘merk’ atau ‘brand’, selalu menarik. Apakah yang kita bayangkan waktu seseorang menyebut ’VIRTUE’ atau ’MERCEDES’ tentu berbeda waktu orang lain menyebut ’ NEXIA’ atau ’DAIHATSU’.... Tapi untuk membangun suatu image, ternyata bukan perkara mudah. Berapa miliar rupiah yang dibelanjakan untuk iklan setiap tahunnya ? Kita pasti geleng – geleng kepala....ck..ck...ck....sebegitu banyak itu, uang semua ? Dalam dunia ’branding’ dikenal istilah ’mind share’, ‘market share’ dan ‘commitment share’ juga ada istilah ‘top of mind’….. Kalau kita membayangkan mobil, misalnya….merk apa yang pertama terbayang di benak kita? Nah itu mind share…tapi karena apa daya uang di dompet….akhirnya kita beli merk C saja……nah itu adalah market share. Kok enak pakai merk C ? Beli lagi 2, ah….nah itu commitment share…… (sstt…..semoga saya nggak salah, hehehe… wong ini amatiran, kok….). Kemampuan suatu merk ‘mengintrodusir’ bawah sadar lewat bombardir iklan di TV, radio, media cetak, baliho, dlsb sungguhlah hebat sehingga kadang suatu merk menjadi nama generik barang tersebut. Contohnya ini: - ODOL. Odol adalah (dulu) merk pasta gigi. Pada tahun 80-an, saya masih sempat ‘merasakan’ odol ini. Tapi entah kenapa, sekarang kalah terkena terpaan produk – produk Unilever. Kalau dulu, saya bilang ...”Buu...odolnya habis...” Sampai sekarang pun ya tetep.....”Odolnya yang Pepsodent aja.......
- WING. Wing adalah merk sabun colek yang warna kuning itu....
- DOP. Dop, pertama adalah merk bohlam lampu pijar
- PAMPERS. ”Ma, pempersnya habis, lhoo..... Beli pempers yang HUGGIES aja, jangan SWEETY.....
- AQUA. Beli aqua yang VIT, jangan aqua yang TOTAL...
- KODAK. Difoto pakai kodak merk apa, tho? Kok hasilnya ciamik?
- LEVIS. ”Levis Wrangler- ku mana, tho? Kalau dicuci, aku pakai levis yang LEA saja...
- ORSON. Orson adalah merk syrup seperti sirup ABC sekarang
- BAYGON untuk obat semprot nyamuk
- RINSO untuk detergent
- SANYO untuk pompa air
- SOFTEX untuk pembalut wanita (kalau di TV, semua perempuan berdarah biru, hihihi )
- WALKMAN, ada walkman SONY, ada walkman SANYO...
- TOA untuk menggantikan ‘megaphone’
- TAMIYA untuk mainan mobil radio kontrol
- HONDA
Kalau ini, ada cerita....Alkisah baru sehari sampai di Padang Panjang, mas B yang asal Wonogiri itu tertangkap polisi... ”Lho pak, kok bisa tho saya ditilang karena ndak pakai helm?” katanya ngotot..... ”Sebab, bapak tidak pakai helm...” kata pak polisi asli Padang Panjang itu.... ”Lhoo.....bapak gimana, tho pak....di spanduk itu ada tulisan : Pengendara HONDA wajib memakai helm..” ”Terus......?” kata pak polisi itu ”Ealah bapak......Bapak tahu sendiri, saya ini pakai SUZUKI......” kata mas B....... Tentang konsep branding inilah menurut beberapa pakar merk, mobil merk NISSAN itu susah laku di Indonesia karena merk yang dekat dengan bau kematian . TOKAI, merk korek gas itu katanya juga susah...... Kalau yang ini, saya belum tahu.... Ada yang tertarik jadi agen resmi Indonesia?
Suatu saat, waktu saya jalan - jalan ke pelosok Bukit Tinggi, disuatu jalan dibelakang Jam Gadang yang tersohor itu, tiba - tiba nemu plang nama ini.  Entah kenapa, saya jadi tertawa sendiri, sambil memotret dan membayangkan..... 'Apa kalau gigi saya 'diservice' di sini, terus jadi tambah MAJU ? Wah, nggak mau, ah....mending cari tempat lain yang ada plang berjudul 'SEHAT' atau 'CAKEP'
Makan 'candle light dinner' bersama orang yang anda sayangi, terus pesen makanan ini, kira - kira mak-nyus, nggak? Kata saya, tergantung....... Tergantung daging apa di piring ini.....  Hehehe....kira-kira ini daging (mentah) apa, yaa?
Kemarin pas ngobrol - ngobrol dan diskusi nyerempet tentang trend laki - laki jadi wanita di TV. Ambillah contoh acara Ngelenong Yook atau Extravaganza atau acara - acara 'aneh' yang dipandu Ivan Gunawan atau Indra 'Ceriwis'..... Tiba - tiba ada pertanyaan, "Kenapa sih, laki - laki itu, dandan sedikit, dikasih lipstik, kelihatan seperti 'wanita beneran' ? Tapi untuk mengubah Luna Maya jadi laki - laki kok susah banget, yaa?" Ada yang bilang begini..."Khan kode pria itu XY sedang wanita itu XX. Jadi sebetulnya setengah dari pria itu ya wanita, karena unsur X itu....." Hmm....menarik juga teori ini....
Pada hari Rabu itu, saya ada di daerah Gajah Mada Plaza, dengan orang - orang TELKOM. Waktu itu sekitar pukul 8.30 pagi. Sekitar pukul 9.00, banyak truk tentara yang lewat di jalan depan gedung. Wah, ada apa? Semula saya pikir kesibukan itu untuk meredam demonstrasi untuk memprotes aparat atas tragedi Trisakti. Sekitar jam 9.30, massa mulai bergerombol di depan gedung. Karena penasaran, kami keluar. Beberapa dari kami sudah panik. Tiba - tiba ada polisi yang menghampiri, "Pak, sebaiknya tinggalkan kawasan ini, karena akan ada demo besar-besaran." "Waduh..." Kami segera meng-evakuasi diri. Jalan Gajahmada sudah diblokir. Tentara - tentara sudah bersiaga, mungkin mengamankan kawasan istana. Untung, rekan dari TELKOM tahu jalan - jalan tikus sehingga kami bisa terus ke kawasan Kemayoran. Orang-orang mulai turun ke jalan. Suasana sangat mencekam waktu itu. Jalan-jalan tikus juga beberapa sudah diblokir. Gawat.... Akhirnya dengan bantuan tentara, kami bisa melewati jalan itu hingga selamat di Kemayoran.  Setelah berhasil mengantar rekan dari TELKOM, saya dan teman mengarahkan mobil ke Parung, Bogor, home base saya waktu itu. Suasana semakin mencekam karena sirine mobil yang meraung - raung dan banyak rombongan mobil dengan kecepatan tinggi mengarah ke tol Priok. Akhirnya kami sampai di gerbang tol dan disuruh terus oleh petugas tol.  Dari jalan tol Priok kearah Cawang, saya lihat asap hitam mengepul di beberapa tempat. Saya ingat, suasana hening sekali.....kami membisu, berdo'a.... Saya dan rekan, selamat sampai homebase di Parung disambut teman-teman yang panik melihat berita TV dan jalan yang dipenuhi mobil mobil pengangkut orang orang Jakarta yang eksodus ke wilayah Bogor. Menjelang malam, listrik padam. Mobil - mobil disarankan 'disembunyikan' di halaman belakang. Ada info, kawasan Ciputat sudah dibakar dan bergerak kearah Parung. Benar saja, rombongan massa bergerak dari arah Ciputat. Toko - toko tutup. Massa yang beringas men-sweeping toko - toko itu termasuk home base kami. Suasana sangat tegang. Tiba-tiba entah siapa yang memulai, tiba - tiba terdengar suara 'SERBU - SERBU' diikuti bunyi kaca - kaca dipecahkan dan orang - orang yang membawa karung beras, bungkusan tas plastik, susu, lampu neon, bahkan payung.... Akhirnya saya tahu, supermarket yang berjarak 200 meter dari tempat kami, dijarah massa dan isinya ludes diangkut. Padahal supermarket itu baru buka seminggu sebelumnya.... Listrik mati sampai pagi dan kami berjaga sampai pagi.....
A. TCC’ERS (alphabetical order ….) : 1. TCC - ADI 2. TCC - AGUNG 3. TCC – AGUS R 4. TCC – ANTO 5. TCC – DANI 6. TCC – GUNTUR 7. TCC – HASBIE 8. TCC - IMAN 9. TCC – ISMU 10. TCC - KAMAL 11. TCC - SYAIFUL 12. TCC – YUNUS 13. GCC – BAGJA N (GCC= GUNUNG BATU CYCLING CLUB J) 14. GCC – DHANIS W 15. GCC- HARIS 16. GCC – LUKMAN H / OKKY 17. GCC – PETRUS SURYADI
18. YCC – ACO (YCC= YASMIN CYCLING CLUB J) 19. YCC – KAMTO 20. YCC – RENDI 21. YCC - REYMOND 22. YCC – WIDODO 23. BCC – SANTO (BCC= BVC CYCLING CLUB J) B. RUTE : Tamansari Persada – Kampung – Jemb. Bambu –Jl Raya Parung – Kemang Kiara – Candali – Bubut 1 – Bubut 2 – Tanjakan Semen -Kemang Kiara – Jl Raya Parung – Sholeh Iskandar - Tamansari Persada C. JARAK TEMPUH : 32,5 KM D. GENJOT TIME + WAKTU ISTIRAHAT : LK. 6 jam 30 menit (7.00 – 13.30) Genjot kali ini diluar dugaan mencapai rekor dalam jumlah peserta, tercatat pada awal start dari rumah pak Ismu yang sudah repot – repot menyiapkan sarapan, ada sekitar 22 MTB’er yang berangkat ke Sawit. Sekian banyak peserta ini berasal dari TCC ( 12 orang), om Haris CS dari Gunung Batu (5 orang) dan om Aco Cs dari Yasmin (5 orang) dan om Santo dari Bukit Cimanggu Villa. Saya pribadi agak kuatir karena semalam, Bogor habis disiram hujan besar dan biasanya setelah hujan, rute sawit sebagian besar tidak bisa dilewati, kecuali dengan TTB….. Akhirnya disepakati, goweser melambung saja ke Candali untuk mencari trek yang aman.
Kami berduapuluh dua melewati rute klasik via makadam kearah Billabong, tapi sebelum kebun bambu, kami melewati pertigaan belok kiri via Jl. Prihatin, empang dan jembatan bambu sampai muncul di jalan aspal sesudah pom bensin Billabong. Sampai disini, jumlah peserta berkurang 4 orang (pak Iman, pak Hasbie, om Agung dan om Guntur) karena harus balik. Setelah terus ke Kemang Kiara, peserta berkurang 2 lagi, karena pak Adi dan Ustadz Kamal harus balik juga, tetapi ada pak Agus Rohman yang menyusul kemudian. Udara segar sekali, jalanan mulai ramai karena orang-orang berangkat kerja atau sekolah. Jalanan on road yang mulus membuat sepeda enak dipacu, tetapi di Masjid setelah turunan Pabuaran, rantai sepeda om Reymond dari Yasmin putus, dan lebih parahnya, RD-nya juga mengalami masalah sehingga harus diganti single speed. Tapi dengan pertimbangan kondisi medan yang akan dilalui, terpaksa om Reymond mengundurkan diri karena kuatir kerusakan menjadi lebih parah. Kami berenam belas kembali memacu sepeda kearah gerbang Candali. Cuaca masih mendung. Sebelum gerbang Candali, kami melakukan pit stop lagi untuk mengisi cadangan air minum, mengisi perut dan membuktikan kebenaran gossip dari pak Syaiful tentang teteh yang katanya manis, hehehe..... Apakah gossipnya terbukti? Pak Dani dalam beberapa menit sudah mengajukan sanggahan ke pak Syaiful, hahaha..... Melewati gerbang Candali, genjot yang sebenarnya dimulai. Jalan mulai menanjak dan makadam berubah menjadi jalan berbatu – batu lepas. Bekas-bekas ban truk yang melewati jalan berlumpur dan mulai mengering kadang juga menjebak ban sepeda. Setelah melewati pertigaan kedua, jalan makadam berubah menjadi jalan tanah menanjak. Jejak truk yang dalam juga semakin menyulitkan. Nafas mulai berat dan keringat mulai membasahi jersey, tetapi pemandangannya juga mulai mengasyikkan. Sawah – sawah dibawah mulai kelihatan, juga hamparan sawit yang hijau. Hmm, udaranya juga masih segar..... Sampai di pertigaan, kami melakukan pit stop untuk menormalkan nafas yang sudah tidak teratur. Lumayan juga, ternyata yaa.... Sampai di pertigaan ini, om Petrus Suryadi harus balik ke Bogor karena ada keperluan. Wah sayang, Om. Padahal diatas banyak sekali obyek foto menarik..... Perjalanan dilanjutkan menuju Hill 1. Jalanan yang biasanya berumput, sekarang sudah dipangkas bersih....tapi, lhaa jalan ke Hill 1, mana? Jalanan single trek yang biasanya jelas, sekarang dipenuhi semak dan rumput . Mau terus melewati jalan besar, rasanya nggak afdol tanpa melewati Hill 1 yang terkenal itu. Akhirnya dengan patokan GPS, saya menerabas jalan yang sepertinya single track. Setelah jalan, baru ketahuan kalau ada selisih jarak antara jalan masuk dengan jalan yang biasanya dilewati TCC. Waduh, lumayan juga TTB dan angkat – angkat sepedanya.....tapi Alhamdulillah, mendekati Hill 1, mulai kelihatan jalur yang sebenarnya harus dilewati, tapi lhaa kok diatas sana ? Wah, memang benar-benar salah masuk tadi..... Akhirnya, kami sampai juga di Hill 1. Udara mulai panas, dikejauhan, Hill 2 sudah menunggu kami..... pemandangan bagus….. hmmm….Saya harus bersyukur karena dengan nggenjot kurang dari 1 jam dari rumah, saya sudah bisa menikmati trek lengkap seperti Bubut hill ini…. Setelah istirahat sekitar 20 menit, kami siap-siap mencoba turunan bubut 1. Turunan ini berupa jalan tanah lurus menuju bubut 2 dengan kemiringan berkisar antara 20 o – 30o . Turunan sebagai bonus setelah tadi nanjak… Meskipun tetap harus hati – hati karena sering ada lubang atau batu…. di tengah jalan, apalagi sekarang jalan tersebut didominasi rumput – rumput tebal. Alhamdulillah, kami sukses melewati turunan tanpa ada hambatan atau musibah terjatuh… Tujuan berikutnya : Hill 2. Untuk mencapai Hill 2, kami harus melewati jalan makadam batu lepas yang menanjak dan ’siksaan’ yang cukup menyiksa adalah cuaca yang panas. Angin pun tidak cukup mendinginkan sehingga beberapa goweser terpaksa istirahat dulu di bawah pohon – pohon sawit. Setelah belok kiri melewati jalan tanah, jalan makadam berubah menjadi jalan tanah, tapi masih ada tanjakan akhir sebelum masuk single track jalan rumput, mengikuti single track dan pemandangan sebelah kanan berubah menjadi sangat indah. Bagian depan terhampar kebun sawit yang luas dan hijau, bagian belakang ada hamparan hijau diselingi atap atap rumah dan bangunan dan jauuh dibelakang, lanskap kota Jakarta berdiri membentang dari ujung timur ke barat......hmmm tempat yang cocok buat NR, bukan? Setelah foto-foto, kami siap-siap down hill. Jalanan Single Track didominasi rumput tebal di kanan kiri, tapi karena itu, bonggol karet dan batu yang tersembunyi menjadi sumber bahaya tersembunyi. Beberapa kali saya berhenti untuk menandai ranjau bonggol karet dan batu yang tertutup rumput. Alhamdulillah, semua lewat dengan sukses…. Setelah turunan hill 2 dan sampai pertigaan kami putuskan untuk belok kiri. Hill 3 yang sudah menunggu kami terpaksa harus menunggu lagi di kesempatan berikut, karena stamina dan bayangan sop kambing sudah benar – benar menggoda. Belok kiri, artinya menikmati turunan yang panjang sampai tanjakan beton…hajar, bung…. Tapi tunggu dulu...ternyata turunan sawit tadi memakan korban ! Ban sepeda om Santo dan teman dari GCC menjadi korban duri sawit ! Untung ada ban dalam cadangan sehingga masalah dapat segera diatasi.  Setelah ban dalam diganti dan ngobrol dengan 3 bapak – bapak goweser dari Pamulang, kami segera tancap gas kearah Kemang Kiara. Full speed karena turunannya mantap, slow down melewati tanjakan semen dan belok kanan masuk jalan Kemang Kiara lagi... Alhamdulillah, tidak ada yang jatuh atau cedera..... Perjalanan ke Sawit siang itu ditutup dengan acara makan siang bersama di sop kambing depan Jembatan Timbang Salabenda. Terima kasih pak Ismu yang sudah repot – repot menyiapkan sarapan. Terima kasih buat teman2 TCC, GCC, YCC dan BCC. Sampai jumpa lagi di acara nggenjot berikutnya........
Ini salah satu topik di sepedaku.com ( 153 posting dan dibaca sebanyak 3259 kali !! per hari Rabu 7 Mei 2008 ). Kalau pertanyaan yang sama diajukan kepada saya, waah jawabannya bisa panjang karena harus flashback ke masa – masa puluhan tahun yang lalu….Naah….. Saya ingat, dulu saya bisa sepedaan itu kelas 1 SD, perlu belajar selama 3 hari keliling lapangan bola samping rumah dan entah berapa puluh atau ratus kali jatuh untuk menguasai sepeda mini warisan kakak perempuan saya. Hari keempat, setelah bisa jalan dengan lurus, waduuh senengnya bukan main. Langsung keliling kampung dan beberapa kali nabrak…..hehehe….yang jelas dan bekasnya tertinggal sampai sekarang, adalah waktu nabrak tembok tetangga dan dengkul saya sukses mendarat di pinggiran got…meninggalkan tanda di dengkul saya sebelah kiri…. Tapi karena seneng ya biarpun jatuh, ya tetep senyum aja, hehehe….dan itu terbawa sampai sekarang……. Setelah itu, radius jarak jelajah saya melebar drastis sampai area puluhan km2, tapi berangkat dan pulang sekolah masih jalan kaki, 8 km PP karena bapak ibu masih nggak tega melepas saya yang (dulu) imut itu menjelajahi jalan besar melawan kendaraan kendaraan yang lebih besar….. Saya baru diijinkan naik sepeda sekitar kelas 5 SD, tetep dengan sepeda mini kesayangan yang sudah bulukan, tapi menginjak kelas 6 SD, sepeda saya di-upgrade menjadi sepeda jengki Phoenix lungsuran kakak….yaa nasib si bungsu itu khan selalu menerima lungsuran thoo? Tapi dengan si jengki itu, saya ‘n the gank mengeksplorasi sisi – sisi Banyuwangi sampai ke blusukan – blusukan yang sebelumnya tidak terbayangkan. Waktu itu, belum kenal istilah single track, offroad, on road yang penting sepedaan. Tapi hobi saya waktu itu adalah menyusuri sepanjang pantai Banyuwangi dari arah kota ke pelabuhan Ketapang bahkan sampai ke pantai Watudodol yang jaraknya lumayan itu….. Alhamdulillah, kelas 1 SMP, saya dapat hadiah sepeda BARU !! Wuih mantap bener. Saya inget benar, merknya NITAKA...dan butuh waktu beberapa minggu untuk melepas si NITAKA dari sebelah tempat tidur saya, hahaha..... Ini dalam pengertian sebenarnya, karena sejak pertama beli, sepeda itu kalau malam diparkir di dalam kamar, di sebelah tempat tidur saya, hehehe...... Sepeda balap, waktu saya SMP itu, menjadi semacam status simbol. Rasanya keren benar berangkat dan pulang naik sepeda sambil balapan melawan Raleigh, meskipun NITAKA saya itu kalau diketuk bunyinya TING – TING nyaring bener, hahaha.....but show must go on..... ekses – eksesnya terlalu panjang untuk diceritakan disini nanti malah jadi roman, hihi... Sampai kelas 1 SMA, saya menggunakan NITAKA saya itu untuk transportasi ke sekolah, setiap Minggu juga saya bongkar sendiri untuk dibersihkan dan di-grease ulang. Lengkap mulai BB, hub, fork. Sampai sekarang saya heran, kenapa ya Bapak atau Ibu tidak pernah protes kalau sepeda saya itu saya bongkar habis hampir tiap minggu..... Hobi saya mulai berubah menginjak akhir-akhir kelas 1, waktu itu masa-masa para gadis demam dengan Anita Cemerlang dan mengidamkan sang pujaan adalah seorang pendaki gunung dengan jaket kumal yang menyandang carrier di pundak.... tidak lupa membawa edelweis yang nanti akan dipersembahkan baginya..... Mulailah saya terlibat aktif di dunia ke-Pecinta Alam – an, meskipun waktu itu daerah eksplorasi saya & rekans hanya domestik disekitar Pegunungan Ijen saja yang paling dekat rumah. Tapi lumayan juga, lhoo...saya pernah ikut eksplorasi dengan jalan kaki dari Banyuwangi – Ijen – Bondowoso yang lumayan juga melepuhkan telapak kaki.... Avonturir seperti itu bertahan sampai akhir kuliah, meskipun wilayah eksplorasi saya masih sebatas di Jawa Timur saja, sepedaan masih jalan meskipun itu sebatas pinjam sepeda untuk puter-puter kampus setelah suntuk menggambar di studio..... Beberapa tahun yang lalu setelah sempat vakum dari kegiatan eksplorasi karena setelah selesai kuliah langsung sok sibuk kerja dan langsung disibukkan mengurusi ’anak orang’, mulailah terasa ada yang hilang waktu melihat ransel kesayangan, melihat foto-foto lama waktu di Semeru, tapi kalau sekarang naik gunung rasanya sudah lumayan ribet exit permitnya karena pasti akan meninggalkan orang rumah. Akhirnya.....kenapa nggak main sepeda aja? Yang jelas sehat, eksplorasi juga ada, tambah sahabat juga dan yang pasti, kenangan waktu saya balapan dengan si Raleigh dan waktu saya jatuh ke got sampai berdarah-darah, masih jelas tergambar sampai sekarang..... Jadi, kesimpulannya ? Why Do You Love Biking So Much ? 
Dikutip mentah-mentah dari
http://www.surya.co.id/web/index.php/Malang_Raya/Antisipasi_Peraktek_Esek-esek_Pemijat_Wajib_Pakai_Gembok_.htmlThursday, 03 April 2008 BATU, SURYA - Mengantisipasi maraknya praktek esek-esek di panti pijat di Kota Batu, Pemkot setempat baru-baru ini menerapkan aturan baru. Para peramu pijat diwajibkan memakai gembok dengan mengunci rok dan celana dalam yang dipakai sehingga para pelanggan tidak mudah membuka celana dalam pemijat. Hal ini dilakukan agar image Batu sebagai Kota Pariwisata tidak dikotori dengan praktek sebagian panti pijat yang diduga melakukan praktek esek-esek terselubung.  Kepala Satpol PP Kota Batu, Drs Imam Suryono mengatakan aturan baru ini sudah disosialisasikan kepada para pengelola panti pijat yang ada. Sementara ini, lanjut Imam, dari sembilan panti pijat yang ada baru dua panti yang sudah mewajibkan karyawannya memasang gembok di rok mereka sebelum melayani pelanggan. Dua panti itu adalah Panti Pijat Rini Jaya dan Panti Pijat Doghado di Jl Raya Beji Kota Batu. “Memang, sampai saat ini kebijakan baru ini baru bersifat anjuran. Ke depan, kami akan melegalkan aturan ini menjadi kebijakan pemkot yang tertuang dalam peraturan wali kota,” katanya kepada Surya, Rabu (2/4). Dijelaskan, setelah resmi menjadi peraturan daerah (perda) aturan perarutan wali kota, pihaknya akan menerapkan sanksi kepada para pengelola panti pijat yang membiarkan pemijatnya tidak memakai gembok saat melayani pelanggan. “Sebagai Kota Wisata, Batu tidak mungkin menghapus bisnis ini. Kebijakan yang bisa dilakukan adalah menjaga agar bisnis ini tidak diselewengkan sebagai bisnis esek-esek terselubung,” paparnya. Selama ini, bisnis panti pijat di Kota Batu tumbuh subur dan banyak diminati para wisatawan khususnya dari luar kota. Selain memanfaatkan pelanggan dari luar kota, bisnis ini memiliki pelanggan tetap yang berasal dari Malang Raya. Ditambahkan, selama ini bisnis panti pijat di Kota Batu relatif tertib dan mematuhi semua aturan yang diterapkan Pemkot Batu. “Buktinya, saat bulan puasa mereka selalu mengikuti aturan yang kami tetapkan agar tidak beroperasi di siang hari. Bahkan, sebagian panti pijat memilih tutup agar ketenangan melaksanakan ibadah bulan puasa tidak terganggu image negatif bisnis ini,” bebernya. Pantauan Surya, bisnis ini tergolong bisnis menjanjikan karena pelanggan yang setia memanfaatkan jasa para peramu pijat ini tidak hanya kalangan menengah ke bawah tetapi kalangan menengah ke atas. Terbukti, lokasi pijat yang ada rata-rata dipenuhi para pelanggan berdasi dengan membawa kendaraan sedan mewah. Jika tidak diantisipasi sejak dini, bisnis ini bisa dimanfaatkan sebagai sarana efektif bertransaksi esek-esek. Jika ini yang terjadi, kecocokan antara pemijat dengan pelanggan bisa berlanjut di luar panti dengan melakukan praktek prostitusi di luar tempat kerja mereka. st25
Minggu lalu, saya blusukan sendirian di Jl. Gajahmada, Sidoarjo. Jalan ini terkenal sebagai pusat toko oleh-oleh makanan khas Sidoarjo dan sebagian Jawa Timur. Misi saya yang utama adalah mencarikan pesanan orang rumah yang terobsesi dengan petis Sidoarjo yang katanya terkenal di seluruh dunia. Petis? Ya, petis ! Itu adalah pasta lengket yang biasanya berwarna hitam dan ada juga yang kecoklatan hasil fermentasi udang yang dimasak overcooked dan baunya (tentu) menggemparkan jagad kuliner internasional...... Tapi, rujak cingur tanpa petis atau tahu campur tanpa petis, adalah seperti laut tanpa garam.....dan kok ya ’kebetulannya’.....saya hobi makan rujak cingur dan campur itu...... Jadi.....dimana dikau wahai petis tersayang? Supaya saya nggak nyasar kemana-mana, akhirnya saya mendamparkan diri di toko oleh-oleh yang kelihatannya ramai saja....ambil petis dan segera kabur ke Juanda. Tapi sampai di dalam toko, tetap saja saya bingung dengan banyaknya jenis petis yang dijual, akhirnya ya sudah saya jalan-jalan dulu....ada teripang, timun laut, otot teripang, lidah sapi asap (lidah sapi ternyata panjang betul yaa? Baru tahu saya), berbagai jenis kacang goreng, lorjuk, keripik jamur, berbagai macam keripik udang, ting ting jahe, berbagai macam kerupuk, ..... dan tiba-tiba pandangan saya tertuju ke bungkusan plastik yang rasanya saya kenal.....   ”Lhaa...ini khan permen Sarsaparilla saya dulu”.....kata saya membatin dengan agak heran....”Ternyata masih ada, thoo....” Saya bolak balik bungkusan itu dengan masih tidak yakin. Permen berbentuk elips itu dibungkus dengan kertas membentuk tabung elips panjang. Gambar kepala suku Indian-nya masih saya kenal...Gradasi warna orange, merah, biru dan kuningnya juga menguatkan saya bahwa ini permen masa SD saya dulu...apalagi tulisan Sin A (dibaca Sina...) ...waah ya betul....ini permen Sarsaparilla saya dulu.....Walaah masih ada thoo....Batin saya dengan campuran antara heran, kaget dan bahagia........ Walah....permen Sarsaparilla.....Bukan main. Dulu itu....permen ini adalah favorit saya… Di jaman masih sepi banjir snack seperti sekarang, walah permen ini termasuk barang mewah di lingkungan saya. Saya ingat, dulu selain sarsaparilla ini, ada lagi permen kopi dan permen jeruk produksi Sin A juga ( Sin A ini kepanjangan dari Sindhu Amritha, nama pabrik permen di Pasuruan sana). Selain permen manis ini, saya ingat juga, dulu ada permen coklat jam JAGO dan permen coklat berbungkus putih dengan merk....saya lupa....tapi saya ingat betul ada tulisan FULL CREAM berwarna biru..... Permen Sarsaparilla? Rasanya gimana sih? Hmm...rasanya seperti root beer atau Coca Cola tapi tidak terlalu manis. Enak dan unik rasanya.... Saya tanya ke mbak penjaga, ”Berapa harganya?” Si mbak menjawab ” Enam ribu rupiah, pak.......” ” Hohoho....sebungkus isi 10 batang, harganya enam ribu rupiah?” kata saya dalam hati. Masih murah juga, ya? Dulu, kalau saya nggak salah ingat, harganya sekitar 25 atau 20 rupiah di tahun 80-an.....Saya tanyakan juga permen kopi dan permen jeruk ke mbak penjaga itu. Tapi stok lagi kosong, katanya. Gara-gara Sarsaparilla itu, misi saya gagal total..... Setelah sampai rumah dan oleh-oleh dibongkar, baru ketahuan si petis Sidoarjo tersayang lupa dimasukkan tas belanjaan......
rasa kecukupan dan kekayaan jarang bersamaan. anda boleh pilih kekayaan, biarlah rasa kecukupan buat saya
Benjamin Franklin
 Bogor yang kota hujan, memang mengandung banyak konsekuensi.... Seperti kemarin itu....ternyata ada yang bocor di beberapa bagian atap rumah...satu di kamar belakang, satu di kamar depan, satu di ruang tv, satu di dekat dapur dan sebaris di teras...waduh cilaka, banyak juga..... Terpaksa sore-sore yang berhujan lebat itu, saya nekat naik genteng rumah....lha paginya mau ditinggal, kok...jadi harus dibereskan dulu kekacauan ini... Tiba-tiba saya ingat masa kecil saya dulu...kalau pas hujan lebat seperti ini, saya dan gank sudah pasti tanpa janjian langsung melejit ke jalan yang puanjang dan lebar dan yang pasti sepi, karena jalan ini jalan khusus untuk keluar masuk ke pabrik. Kalau hujan lebat, jalan ini seperti sungai yang panjang dan lebar dan pasti rame oleh mereka yang main hujan-hujanan....sepak bola, lari-lari, berendam (!)...pokoknya sebelum hujan reda, bibir biru dan jari-jari mngkisut kedinginan tiada kata berhenti.... Airnya bening, segar dan herannya, diantara kami tidak pernah ada yang kena flu gara-gara main hujan-hujanan itu....  Dua berandal saya keheranan melihat saya 'main' hujan-hujanan...."Kalau sakit, gimana? Nanti dibawa ke dokter, lhooo...." kata bungsu saya... Si sulung malah ngendon di kamar, asyik main game Zuma... "Ayo hujan-hujanan..." kata saya. "Nggak mau...!!" jawab mereka kompak.... Jalanan depan rumah sepii...saya ke teras, ngambil ember bekas nyuci sepeda yang lupa dimasukkan....penuh air hujan... Walaah.....air hujannya lhaa kok hitam pekat begini....waduh...lhaa ini acid rain, iniii.... Saya langsung bilas, mandi air hangat, minum tera F dan minta jahe hangat ke PM saya..... Nanti saya pasang pengumuman : ANAK - ANAK DILARANG MAIN HUJAN-HUJANAN........ yang besar di pintu depan..... Foto dari : http://l.yimg.com/www.flickr.com/images/spaceball.gif
| |