SEBAGIAN BAB DARI BUKU KEHIDUPAN.......

ULASAN

ReviewReviewReviewReviewReviewMencari Nama Allah Yang KeseratusSep 13, '07 5:01 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Muhammad Zuhri
Setiap mukmin dituntut untuk menjadi saksi bahwa Allah itu ada. Maka jangan sampai kita mendengar ada orang sakit akhirnya mati sebelum terobati, ada orang lapar akhirnya harus mencuri, ada orang teraniaya mati sebelum tertolong. Kita berdosa. Sebab setiap orang yang sedang menderita sakit, lapar, atau teraniaya pasti dia berharap, berdoa, dan jika harapannya tidak terealisasi, bisa jadi dia pun bersyak wasangka, “Tuhan ini ada apa tidak? Saya merintih, meminta, tapi Dia tidak mengutus siapa pun dari hamba-hamba-Nya untuk menyelamatkan saya.” “Saya sudah memohon kepada-Nya ribuan kali, tapi Dia tidak menjawab. Apakah doa-doa saya tidak didengar Tuhan ataukah Tuhan itu tidak ada?”

Mengapa kita tidak menjadi saksi bahwa Tuhan itu ada; tandanya kita datang membelikan obat kepada orang yang sakit, memberikan makanan pada orang yang lapar, atau menolong orang yang teraniaya? Siapa pun di antara kita yang mendengar penderitaan tetangga, hendaklah mengulurkan bantuan, memberikan solusi, merealisasikan harapan dan doa-doanya. Dengan demikian, kita telah dipakai Tuhan sebagai saksi bahwa Tuhan itu ada.

Ada sebuah cerita tentang seorang sufi yang protes kepada Tuhan. Berawal ketika sang sufi itu lewat di tepi sebuah hutan. Dia terkejut ketika di tepi hutan bertemu dengan seorang kakek yang buta bersama seorang anak kecil. Kakek buta itu duduk di bawah sebuah pohon sambil menadahkan tangan sebagai tanda bahwa dia minta dikasihani. Dia buta, tidak tahu bahwa di depannya tidak banyak orang yang lewat—sebab dia berada di tepi hutan—sedangkan penuntunnya yang masih kecil tidak tahu pekerjaan kakek itu adalah meminta-minta. Maka, sang sufi protes kepada Tuhan, “Ya Tuhan. Mengapa ada hamba-Mu seperti ini tidak Kau beri petunjuk?” Jawab Tuhan, “Aku sudah menciptakan engkau. Maka engkaulah yang memberikan petunjuk!”

Tuhan telah menciptakan makhluk-Nya yang melek buat yang buta. Tuhan telah menciptakan makhluk-Nya yang pintar buat yang bodoh. Demikian pula yang kaya diciptakan-Nya untuk yang miskin dan yang perkasa diciptakan-Nya untuk yang lemah.

Jadi, melewati hamba-Nya juga Allah menolong hamba-Nya yang lain, bukan Dia sendiri yang datang untuk menangani. Itulah manajerial Tuhan. Hamba Tuhan yang dipakai untuk menangani manajerial Tuhan itulah hamba yang syahid, sebab dia telah sanggupo merealisasikan syahadat yang telah diucapkan bibirnya. Dia telah berkondisi syahadat—bersaksi bahwa Tuhan itu ada dengan cara “mengabulkan” permohonan orang yang sedang sakit, lapar, atau teraniaya. Tentu hal tersebut dia lakukan atas kekuatan dan kehendak Tuhan—berarti dia telah memanifestasikan kehendak Tuhan. Dia telah merealisasikan kemauan Tuhan di muka bumi. Dia “orangnya” Tuhan. Dia ahlullah (keluarga Allah). Maka, dia telah menjadi nama Allah yang ke-100.

Demikianlah kesadaran akan struktur ciptaan Tuhan yang ada sejak Adam a.s. sampai kiamat bahwa struktur ciptaan itu ada dalam kondisi nyaris selesai (unfinished)—hal itu sama di setiap agama. Semesta alam ditemukan oleh seorang individu dalam kondisi nyaris selesai (diibaratkan angka 99, belum genap) sebelum kita menerjunkan diri menjadi yang ke-100; menjadi keluarga Tuhan (pelaku rububiyyah atau kepelayanan Tuhan di muka bumi).

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal [saling mengerti, saling terlibat, saling mengurus, saling menopang]. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu ialah orang yang paling bertakwa [yang lebih berperan mewakili rububiyah Tuhan di muka bumi]. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (al-Hujurat: 13)

Pandangan bahwa semesta alam hadir di setiap kesadaran individu dalam kondisi unfinished (belum selesai) menuntut diri ini untuk ikut serta menyelesaikannya. Tidak boleh seseorang menunggu orang lain, sebab orang lain akan menyempurnakan semesta alam ini menurut cara dan kemampuannya sendiri. Diri ini belum merasa genap, masih ada ganjalan, masih ada duka jika belum terlibat di dalam manajerial. Belum sanggup menjadi saksi bahwa Allah itu ada. Oleh karena itu, setiap orang yang mengaku beriman harus menghilangkan rasa duka, kesendirian (sepi), atau takut mati dengan cara melibatkan diri menjadi nama Allah yang ke-100, menggenapi 99 nama Allah yang telah diberikan lewat Al-Quran. Jika seseorang tidak mau melibatkan diri, hal itu menandakan bahwa dia vacuum (absen); hadir ke dunia, tetapi tidak memiliki tanda kehadiran, tidak ikut “beramai-ramai” mengurus semesta alam ini.
Sebagai ilustrasi, kita sajikan sebuah cerita yang dapat diambil sebagai sebuah analogi. Pada zaman dahulu, ada seorang kesatria yang sakti mandraguna. Dia seorang tokoh “teknokrat” bernama Bandung Bondowoso. Sang kesatria tersebut mencintai seorang gadis bernama Jonggrang, tetapi Jonggrang tidak mau dilamar meskipun Bandung Bondowoso telah berjasa membunuh Raja Baka (raja kejahatan).

“Aku hanya mau diperistri oleh seseorang yang sanggup membuat 1.000 candi dalam satu malam,” kata Jonggrang. Sang kesatria yang sakti mandraguna sanggup memenuhi permintaan itu. Maka dengan “teknologi tinggi” (baca: kesaktiannya yang melangit) dia ciptakan patung-patung (candi-candi) itu, tetapi hanya bisa menyelesaikan sejumlah 999 candi. Ayam jantan berkokok sebagai tanda pagi hari telah tiba. “Aku tidak mau, karena permintaanku harus genap 1.000,” kata Jonggrang. Dalam cerita itu marahlah Bandung Bondowoso, sebab dia tahu bahwa ayam jantan berkokok karena rekayasa Jonggrang sendiri. “Engkaulah patung yang keseribu!” maka jadilah patung Roro Jongrang, dan Bandung Bondowoso pun merelakan gadis yang dicintainya itu menggenapi ciptaannya.

Demikianlah jika kita diberi aset Tuhan berupa 99 nama-Nya, dan kita masih “kecewa” dengan struktur ciptaan-Nya itu (karena masih adanya kelaparan, kebodohan, orang-orang yang tertindas, bencana alam, dan sebagainya)—pada hakikatnya hal itu karena “ulah” kita sendiri, maka hendaklah kita melibatkan diri mengurus mereka, menggenapi nama Tuhan yang ke-100. Sempurnalah struktur ciptaan Tuhan itu setelah kita menerjunkan diri mengurus alam semeseta. Walaupun halilintar meletus 999 kali di atas bubungan atap, dia yang telah melibatkan diri tidak lagi merasa cemas, khawatir atau takut, karena yang ke-1.000 adalah ketenangan batinnya. Hakikatnya dia telah memperoleh “surga”.

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah”, kemudian mereka tetap istikamah, tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tiada (pula) bersedih hati.
(Al-Ahqaf: 13).

Dia sudah tidak memiliki rasa takut menghadapi situasi sekarang dan tidak pula merasa khawatir menghadapi waktu yang akan datang. “Mengapa aku harus takut dan khawatir? Aku sudah berbuat maksimal. Tenagaku, pikiranku, kekayaanku sudah sepenuhnya kuabdikan kepada-Nya. Sudah habis apa yang telah aku punya. Kini, apa yang terjadi terserah Tuhan.”

Orang yang demikian menandakan dia berada dalam situasi surga. Tempatnya masih di dunia, tetapi situasinya sebagaimana surga. Dia sudah menjadi sebuah “kitab” yang tidak akan terbakar. Dia tidak bisa dibunuh atau dicederai karena sesungguhnya dia bukan hanya satu orang, melainkan sebuah “umat” itu sendiri; ummatan qanitan lillah—sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Allah kepada Ibrahim a.s.
......

Demikianlah, syahadah (syahadat) yang berawal dari kesaksian kata-kata harus dibuktikan dengan suatu tindakan. “Allah-lah sesembahanku. Maka jika seluruh potensi yang kumiliki dari pemberian-Nya ini diminta, pasti akan kuberikan.” Orang yang demikian telah menjadi syuhada meskipun dia tidak maju ke medan perang. Dia adalah syuhada yang berperan menanggung beban sosial. Dan kita harus sudah berangkat ke sana. Medan kita adalah orang-orang yang berada di bawah garis kondisi kita; kepandaiannya, kekayaannya, kekuatan fisiknya, keluasan persepsinya terhadap kenyataan. Merekalah “sajadah” kita. Oleh karena itu, sifat air yang senantiasa turun ke bawah menghidupi tanaman menjadi lambang bagi orang-orang beriman.

Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan ‘Arsy-Nya [tempat Dia mengatur] di atas air [ada pada orang-orang beriman yang bisa bersifat seperti air; yaitu “turun ke bawah” menghidupi orang-orang yang berada di bawah garis kondisi yang dia miliki], agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. (Hud: 7)

Demikianlah peran diri kita diciptakan Tuhan di muka bumi ini, tidak lain untuk menyempurnakan struktur ciptaan-Nya yang kondisinya nyaris selesai (diibaratkan angka 99), dan kita berkewajiban menyelesaikannya (menggenapi menjadi 100). Kita mesti menerjunkan diri membantu mereka keluar dari penderitaan, turun ke bawah sebagaimana sifat air yang senantiasa turun ke bawah menyuburkan tanah dan menghidupi tanaman. Selebihnya, air akan mengalir menuju ke samudra menciptakan sebuah keagungan. []

(Muhammad Zuhri, Mencari Nama Allah Yang Keseratus: Panduan Menjadi Teman Dialog Tuhan, Serambi, 2007, hal. 30-41). Email: barzakh@pakmuh.com


ReviewReviewReviewReviewALIVEJul 29, '07 8:51 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Piers Paul Read
ALIVE
16 Orang – 72 Hari di Neraka Salju (Kisah Nyata)
Pengarang : Piers Paul Read
Alih Bahasa : Febriani Sihombing
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo, 2007
Tebal : 390 hal.

ALIVE adalah buku yang disusun berdasarkan kisah nyata tentang pesawat yang membawa tim pemain rugbi Uruguay, jatuh di daerah Pegunungan Andes yang dingin bersalju dan terpencil. Sepuluh minggu kemudian, hanya enam belas dari empat puluh lima orang penumpang yang ditemukan dalam keadaan hidup. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 12 Oktober 1972.

Buku ini mengisahkan tentang bagaimana mereka menghabiskan 72 hari di neraka salju tanpa makanan dan harapan untuk ditolong. Para korban yang selamat saling melindungi dan menolong sampai pada sebuah kesimpulan yang menyesakkan. Mereka hanya dapat hidup dengan melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan. Memakan tubuh teman – temannya yang sudah meninggal :

‘Ada satu hal yang mungkin terdengar menakjubkan untukmu – dan terdengar luar biasa juga untukku-bahwa hari ini, kami mulai memotong jasad orang mati dan memakan daging mereka. Tidak ada lagi dapat kami lakukan. Aku berdoa kepada Tuhan dari lubuk hatiku yang paling dalam, supaya hari ini tidak akan datang. Tapi kami sedang menjalani hari ini dan kamiharus menghadapinya dengan keberanian dan iman. Iman, karena aku berpendapatbahwa jasad-jasad itu masih disana karena Tuhan menaruh mereka disana dan yang paling penting adalah jiwa mereka. Aku tidak merasakan penyesalan luar biasa; dan jika saatnya tiba sewaktu aku harus menyerahkan tubuhku demi menyelamatkan yang lain, aku akan menyerahkannya dengan senang hati…’(hal. 75 -76)

Sampai akhirnya, ada salah satu dari mereka yang tampil menghadapi kekejaman alam dengan mendaki puncak Andes demi mencari pertolongan..

Piers Paul Read menuliskan kembali kisah para korban yang selamat dengan gaya reportase yang bagus. Penulis mengatakan, ‘Biarlah fakta yang berbicara dan kita harus menghindarkan intervensi.’

Saya membacanya di dalam pesawat yang membawa saya ke Padang dan beberapa saat kemudian menutupnya kembali…..merinding....


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help