Muhammad's posts with tag: am
|  | Berawal dari rasa penasaran saya dan pertanyaan om Oki LH, apakah dari Bodogol ada jalur ke Pancawati? Akhirnya kemarin, hari Senin, 18 Agustus 2008, kami bertujuh : saya, pak Oni, kang Bagja, kang Petrus, om Agung, pak Ro'uf dan om Guntur memulai eksplorasi jalur Bodogol - Nangleng - Pancawati. Sayang, om Oki LH tidak bisa ikut.... Kami berangkat dari MP Bank Niaga dengan angkot ke Bodogol sekitar pk. 7.30 dan sampai di Lido Bodogol gerbang depan pk. 8.30. Setelah rakit sepeda kembali dan berdo'a, kami berangkat melewati jalan paving dan memotong jalur via tanjakan pinus ke arah lapangan terbang Lido. Dari lapter Lido, perjalanan diteruskan melewati kebun2 penduduk sampai akhirnya tembus di penghabisan jalan paving. Setelah penghabisan jalan paving, kami belok kiri ke arah Srogol, sebuah desa yang terletak di lembah, diapit pasir (punggungan) Bodogol. Hutan Bodogol terlihat biru kehijauan di depan kami. Jalan ke desa Srogol berupa single track paving dan jalan tanah berliku-liku di lereng punggungan Bodogol (foto 26). Menurun dan licin ! Sesampai di Srogol, perjalanan berubah menanjak menyisir punggungan Bodogol menuju jalan ke arah Cinagara (foto 46). Tanjakan berubah turunan memutar balik. Menurun terus sampai mendekati pertigaan jalan raya SPN Lido ! Disini kami istirahat memulihkan tenaga dengan gorengan dan teh manis. Setelah itu perjalanan dilanjutkan lagi melewati jalan Cinagara - Tangkil. Sempat berhenti melihat persiapan panjat pinang dan yang manis - manis (foto 52), hehehe... Perjalanan diteruskan melewati jalan yang terus menanjak dan akhirnya belok kiri kearah Nangleng ! Akhirnya kami sampai di jalan yang saya lewati 2 minggu lalu. Pas di area tanjakan L yang mantap itu......Fiuh.... Akhirnya kami sampai di Nangleng dan istirahat di rumah penduduk. Mengumpulkan tenaga untuk menuruni lembah menaiki bukit seperti yang saya lakukan 2 minggu lalu. Cuaca yang cerah, berubah mendung dan gerimis. Alamat perjalanan akan berubah menjadi berat.... Setelah sempat terjadi insiden tunggu menunggu karena salah koordinasi, akhirnya kami menyeberang ke Pancawati. Gantian sepeda yang dipanggul. Perjalanan yang sungguh berat dan menyita tenaga dan kami membalasnya dengan semangkok mie panas di Pancawati.... Di Pancawati, kang Petrus dan kang Bagja memisahkan diri, turun ke pertigaan Cimande sementara kami terus ke arah raya Tapos. Perjalanan melewati turunan makadam, tanjakan tanah, sampai akhirnya kami sampai di raya Pancawati. Dari sini full on road melewati turunan mak nyus (tapi ada tanjakan juga) sampai akhirnya sampai di Gadog. Jalanan macet total... Tapi kami terus melaju via Katulampa untuk pulang. Saya sampai di rumah pk. 17.00 pas.... Perjalanan gowes gila-gilaan bagi saya.
Jarak tempuh sekitar 70 km.... Perjalanan nyaris 12 jam bila istirahat dihitung.... 2 lt air, 1 kantung coklat, 4 botol minuman suplemen, 1 mangkok mie, 1 mangkok bakso beberapa gorengan, teh manis.....
ETAPE II menunggu : Pancawati - Makam Jerman
Terima kasih, om Guntur & om Petrus untuk tambahan foto-fotonya... |
|  | A. TCC’ERS (alphabetical order ….) : 1. TCC - AGUNG 2. TCC - ARIFIN 3. TCC – BRAM 4. TCC – DANI 5. TCC - GUNTUR 6. TCC - HASBIE 7. TCC - ROUF 8. TCC - SANTO 9. TCC – YUNUS
B. RUTE : Wr Puncak Pass – Paralayang – Tmn Safari – Ngehe’ – Wr Ngehe’ – Gadog – Katulampa - Hero – Pajajaran – Jambu Dua – Hypermart Kedung Badak - TSP
C. JARAK TEMPUH : LK. 48,5 KM D. GENJOT TIME + WAKTU ISTIRAHAT : (LK) 7 jam 40 menit (8.13 – 15.53)
Setelah melalui konferensi yang (tidak seperti biasanya ) adem ayem, akhirnya TCC jadi hajatan HARKITNAS dengan nggenjot RA – Gadog via Ngehe’. Hanya 9 orang dari rencana yang sekitar 10 - 12 orang. Setelah standby mulai jam 5.15, sebagian TCC baru nggenjot sekitar jam 6.00 ke WarJam (Warung Jambu ) karena angkot yang biasa melayani TCC diembargo pak Bram. Jadi nggenjot kali ini dievakuasi dengan truk ke RA. Sekitar jam 6.30, sampai di starting point disambut TCC’er yang lain dengan agak manyun. Hehehe….ampun jam karetnya. Soal jam karet, mungkin ada yang bisa menjelaskan ? hehehe….
Setelah sepeda naik dan penumpangnya naik dengan konfigurasi seperti ikan sarden, truk langsung tancap gas ke RA. Tiada halangan yang berarti. Bahkan polisi pun tidak. Akhirnya kami sampai dengan selamat di RA. Cuma butuh waktu untuk bisa berdiri meluruskan kaki, karena selama 1 jam lebih nggak bisa bergerak di truk…..
Setelah sarapan dan ber say ”Hello” dengan MTB’ers Tangerang yang salah satunya kolega pak Bram, TCC’ers mohon pamit berangkat duluan.....
ETAPE 1 : Warung - Paralayang
Etape 1 dilewati tanpa halangan. Hanya sepeda saya rasanya agak aneh. Apa karena ban belakang saya ganti kemarin, ya? Nggak mantep seperti biasa, tapi rasanya melejit kekanan dan kekiri. Rombongan terpisah menjadi 2 dan saya ditengah – tengah. Turunan yang lumayan curam di akhir etape akhirnya sukses dilewati semua TCC’ers…. Tumben nggak ada yang ngajak narsis foto – foto, padahal pemandangannya (seperti biasa) sangat bagus…..
ETAPE 2 : Paralayang – Single Track Saluran Air
Diam-diam, etape ini selalu membuat saya agak grogi. Pertama, belokan- belokannya lumayan tajam dengan sisi sebelah kanan lumayan curam dan yang kedua, seluruh jalan adalah makadam yang batu – batunya sudah lepas. Ditambah faktor licin juga. Hmm lengkap bukan sebagai rute ideal ? ”Siksaan tambahan” bagi saya pribadi adalah mengganti ban belakang tanpa tes sebelumnya. Jadi, meskipun sudah memakai FS dan gaya berat tubuh sudah ditarik kebelakang, tetap saja sepeda yang saya pakai melejit kekanan kekiri. Pada belokan terakhir, saya agak ragu, mau stop di tempat kloter I (Om Agung, Om Guntur, Om Santo ) berhenti atau terus saja mencari pit stop yang lebih aman, padahal sepeda sudah meluncur kencang. Karena saya melihat ada sedikit tanjakan ditempat kloter I berhenti, akhirnya saya teruskan saja. Tapi ampuun, sepedanya nggak melambat dan karena kuatir menabrak, handle rem saya tarik kuat-kuat. Ciiiet......Hasilnya: ban depan terkunci dan saya pun terbang nyungsep di semak – semak teh diikuti sepeda yang terbang juga di atas saya. Sungguh ter...laa...luu.....
ETAPE 3 : Single Track – Gunung Mas
Saluran air dilewati tanpa kejadian berarti. Karena masih ’trauma’, beberapa tempat saya menggunakan jurus TTB, hehehe. Rasanya baru plong setelah masuk area kebun teh Gunung Mas. Setelah regroup, kami berangkat lagi. Tapi belum jauh, pak Hasbie yang ada didepan saya berhenti sambil terus mengambil sesuatu yang sepertinya jatuh. Semula saya pikir kaca mata milik salah satu TCC’ers yang sudah berangkat duluan, eeeh ternyata sadel pak Hasbie lepas. Lebih surprise lagi, lepasnya sadel itu karena baut pengikat sadel ke seatpost patah menjadi 2 bagian. Ampuun...... Kalau ban bocor atau rantai putus, sudah biasa....kalau sadel lepas karena baut seatpost patah? Ini baru luar biasa......
Masing – masing sepeda diperiksa barangkali ada baut yang cukup panjang dan bisa dikanibal. Ada baut pengikat reflektor di sepeda pak Arifin tapi ternyata terlalu pendek. Saya sudah membayangkan pak Hasbie naik angkot cari bengkel terdekat .....sampai akhirnya pak Arifin punya ide brilian untuk menukar baut pengikat seatpost sepedanya dengan baut pengikat reflektor. Fiuuh, ternyata pas juga. Akhirnya sadel sepeda pak Hasbie bisa terpasang kembali dengan menggunakan baut pengikat seatpost sepeda pak Arifin. Hanya saja baut itu tetap terlalu pendek dan membawa masalah pada etape – etape berikutnya.....
ETAPE 4 : Gunung Mas – Parkir Taman Safari
Setelah masalah sadel pak Hasbie bisa diatasi kami segera meluncur ke arah Taman Safari. Nggenjot nanjak lumayan setelah menikmati turunan panjang. Gunung Mas ramai dengan orang – orang yang berlibur tanggal merah Waisak. Belum lepas dari area Gunung Mas, sadel pak Hasbie bermasalah kembali, tapi berhasil diatasi dengan mengencangkan mur baut sadel. Akhirnya di bengkel motor, kami berhenti. Kali ini untuk mengganti baut seatpost darurat yang terpasang di sadel pak Arifin dan sudah tidak bisa diselamatkan.
ETAPE 5 : Parkir Taman Safari – Top Ngehe’
“Dorong Om…dorong Om…” Mengiringi kami mulai dari parkiran Taman Safari. Ojek sepeda sepertinya kok tambah banyak saja. Masing – masing rebutan mencari mangsa. Untung saja TCC’ers tetap kukuh sampai akhir. Nggenjot atau TTB yang penting tanpa ojek. Biar pun nanjak atau pun becyek (Cinta Laura mode On ). Setelah nggowes, (terpaksa) TTB.... hehehe dan gowes lagi. Akhirnya sampai juga di Saung Seng I. Setelah foto – foto dan mengisi perut sambil membayangkan makan nasi padang hangat – hangat, akhirnya TCC’ers nanjak lagi ke Saung 2. Tetep dengan jurus gowes ’n TTB. Istirahat lagi dan lanjut lagi sampai Top Ngehe’. Fiuh. Jalannya ampun – ampunan.
ETAPE 6 : Ngehe’ Top – Ujung Makadam
Sampai di Top Ngehe’ wajah yang tanpa ekspresi mulai tersenyum lagi. Bayangan turunan sampai Gadog sudah terbayang...... Apalagi sudah jam 12.00, waktunya makan siang. Setelah memulihkan stamina, kami berangkat lagi dengan semangat. Perjalanan pulang selalu menimbulkan semangat, bukan? Tapi jalannya ternyata ampun – ampunan, rusaknya. Apalagi di turunan kebun sayur. Bekas – bekas ban motor menimbulkan alur yang dalam apalagi batu – batu makadam yang lepas disana – sini. Di rute ini, mendung semakin tebal sampai akhirnya hujan sangat deras di area hutan. Ternyata hujan deras dan jalan yang licin masih ketambahan sadel pak Hasbie yang lepas lagi. Sampai di bangunan yang tidak terpakai, operasi darurat dilaksanakan. Ternyata satu sisi mur yang mengikat sadel sudah halus sehingga menggunakan jurus Side B karena tadi memakai Side A. Perjalanan diteruskan kembali. Hujan tetap turun dengan deras bahkan semakin deras karena kami masuk area kebun teh yang terbuka. Sampai di dekat tower hujan buatan kembali sadel sepeda pak Hasbie lepas kembali dan setelah saya cek, drat murnya sudah habis sama sekali. Khabar baiknya, diujung aspal ada bengkel. Khabar buruknya, pak Hasbie harus TTB sampai ujung aspal. Dan jaraknya ? Ampuun dijee.... Akhirnya dikeluarkanlah jurus darurat : menggunakan kabel ties ! Kebetulan saya dan pak Bram bawa kabel ties. Sadel pun diikat dengan kabel ties ke seat post. Belum cukup? Diikat pakai kawat juga...hihihi..... Darimana kawatnya? Itu rahasia kami berempat....... Setelah melewati hujan, turunan dan makadam hancur, akhirnya sampai juga kami di ujung aspal mulus. Bengkelnya juga ketemu ! Tapi hujannya masih tetap turun.
ETAPE 7: Ujung Makadam – Gadog
Rute Ujung Makadam – Gadog full dikebut. Tapi hujan derasnya minta ampun. Rombongan terpisah menjadi 2 kelompok besar. Saya, pak Bram, pak Arifin dan ( juga) pak Hasbie di belakang sementara yang lain sudah melejit jauh di depan. Mendekati Gadog, sadel pak Hasbie bermasalah lagi tapi untung ada bengkel sehingga segera bisa diatasi. Rombongan I saya pikir menunggu di Gadog, tapi ternyata tidak. Akhirnya kami berempat melewati Katulampa dan istirahat sebentar di warung bakso. Lumayan buat tambahan energi nggowes ke Tamansari. Sekitar jam 4 sore, kami kloter II sampai di TSP dengan selamat. Lapar, lelah dan basah karena hujan tapi puass...... Minggu depan, rute Gunung Batu – Pura sudah menunggu....... Katanya tanjakannya nggak kalah sama Ngehe’......... Ampuuun.......
|
| |