SEBAGIAN BAB DARI BUKU KEHIDUPAN.......

Muhammad's posts with tag: hikmah

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag hikmah
Blog EntryPak Toha.....Jul 28, '08 11:32 PM
for everyone

Entah kenapa,
tiba – tiba saya ingat pak Toha.

Pak Toha dan keluarganya, dulu – berpuluh tahun yang lalu – menumpang tinggal di kebun
belakang rumah bapak ibu, yang  dalam istilah Jawa dinamakan magersari.

Saya ingat dulu, saat pertama kali pak Toha datang ke rumah, bersama istrinya – yang kemudian biasa dipanggil le' Ni – dan dua anaknya, Muslimin dan Musliman -keduanya mungkin berumur empat dan tiga tahun , hitam kecil kurus dan perutnya buncit- berdiri
agak membungkuk seperti menahan beban, menanyakan bapak kepada saya.

Entah apa yang dibicarakan, saya yang masih kecil- mungkin kelas dua atau tiga SD- hanya melihat dari ruang belakang, sampai akhirnya ibu masuk dan membawa besek berisi mangga arumanis. Mangga paling manis yang pernah saya rasakan.

Esoknya, ada kesibukan di kebun belakang rumah, karena ada  beberapa orang yang
gotong royong mendirikan rumah. Tidak sampai tiga hari, sudah berdiri sebuah rumah berdinding gedek, beratap welit - daun kelapa yang dianyam -  dan berlantai tanah…

Pak Toha dan istrinya bekerja sebagai buruh lepas. Membersihkan halaman, mengapur dinding rumah, menebang kayu sampai kadang menjaga rumah yang ditinggal pemiliknya dan
buruh cuci.

Sore ketika menerima upah, diterimanya uang itu dengan takzim... badan menghormat sambil
mengucapkan "Matur nuwuun.... Alhamdulillah...."

Dengan wajah gembira penuh syukur.......

Sore harinya, pak Toha mengajar mengaji di musholla kecil dekat rumah dan atas jasanya ini, pak Toha tidak pernah menarik bayaran. Muridnya banyak….

Disaat  akhir Ramadhan, dua hari sebelum 1 Syawal, biasanya ibu akan memanggil le' Ni, memberinya beberapa kilo beras zakat dan beberapa kilo lagi untuk membuat ketupat, beberapa kilo beras ketan, kacang tanah dan bahan-bahan lain untuk membuat lepet.

Mengenai beras zakat itu, saya mempunyai rahasia…Beras-beras zakat yang didapat pak Toha dan keluarganya, diberikan lagi kepada orang-orang yang menurutnya lebih
membutuhkan karena : "Pak Toha ini khan masih kuat, masih bisa bekerja…..…"
begitu katanya.....

Entah kenapa, tiba – tiba saya ingat almarhum pak Toha.

Mungkin Allah
sedang mengingatkan saya ......



 





Blog EntryPuasa: Menuju Makan SejatiSep 27, '07 4:33 AM
for everyone

 

Puasa: Menuju Makan Sejati

(Emha Ainun Nadjib - Budayawan)

 

 Puasa itu jalan sunyi

Tersedia makanan tapi tak dimakan

Tersedia kursi tapi tak diduduki

Tersedia tanah tapi tak dipagari/

 

 Puasa itu jalan sunyi

Menggambar tapi tak terlihat

Bernyanyi tapi tak terdengar

Menangis tapi tak diperhatikan/

 

 Puasa itu jalan sunyi

Menjadi tanpa eksistensi

Pergi menuju kembali

Hadir tapi tak dikenali

 

ILMU Rasulullah Muhammad, "hanya makan ketika lapar dan berhenti makan

sebelum kenyang", telah menjadi pengetahuan hampir setiap pemeluk Agama

Islam, tetapi mungkin belum menjadi ilmu. Puasa demi puasa, Ramadlan

demi Ramadlan beserta fatwa demi fatwa yang senantiasa menyertainya

dengan segala kerendahan hati harus saya katakan belum cukup

mengantarkan kita dari permukaan pengetahuan menuju kedalaman ilmu.

 

Ada jarak yang tak terkirakan antara pengetahuan dengan ilmu, meskipun

khasanah kebahasaan kita dengan kalem menyebut ilmu pengetahuan di

lembaran-lembaran kamusnya. Dengan berkunjung ke sebuah museum, kita

bisa memperoleh pengetahuan tentang sebilah pedang, lengkap dengan semua

data tentang panjang-lebarnya, asal-usul sejarahnya, serta logam suku

cadangnya, termasuk berapa kepala yang dulu pernah dipenggalnya.

 

Tetapi, ilmu baru terjadi tatkala pedang itu telah menyatu dengan tangan

kita. Bukan saja kita sanggup menggenggamnya dan mendayagunakannya

dengan seribu teknik silat; lebih dari itu ilmu ditandai oleh realitas

menyeluruh, di mana pedang itu telah menjadi bagian dari diri kita,

bagian dari badan kita, akal pikiran kita, emosi hati kita, termasuk

budi dan kearifan jiwa kita.

  

Pengetahuan barulah tataran terendah dari persyaratan mutu dan

aktualitas eksistensi mahluk yang bernama manusia. Tetapi, ilmu pun

belumlah "langit" tertinggi dalam kosmos "ahsani taqwin" sebaik-baik

mahluk - manusia. Sebab, ilmu pedang bisa merupakan awal mula dari

tertikamnya dada seseorang. Oleh karena itu, di atas ilmu si penggenggam

kebenaran ada langit lebih tinggi yang bernama hubb atau cinta.


Cinta adalah rem, pembijak, pengatif, yang terkandang nikmat terkadang

sakit, bagi kemungkinan pembunuhan atau permusuhan yang dipotensialkan

oleh ilmu pedang. Ini berlaku pada skala mana pun, di kesempitan

pergaulan sehari-hari hingga di keluasan peradaban.

  

Adapun jika ilmu jika penghayatan akan kebenaran, bersenyawa, bekerja

sama, berkoperasi, berposisi, dan berkelangsungan intermanagable, atau

denan kata lain "bersuami-istri dengan hubb" atau cinta maka tercapailah

tataran "taqwa".

 

Tanpa itulah target puasa. Taqwa itulah cakrawala perjalanan kemusliman

manusia. Taqwa lebih tinggi dari nilai kebenaran dan nilai cinta.

Apalagi dibandingkan tataran norma, hukum formal, adat, serta

tabung-tabung formal kultural lainnya dalam komunitas atau kejamaahan

umat manusia. Taqwa itu suatu atmosfer yang bukan main menyejukkan,

menenteramkan, dan membahagiakan, yang terletak di garis kemungkinan

"liga rabb", yakni kemungkinan pertemuan hamba-hamba hina dina macam

kita ini dengan Allah.    Sekarang bisalah kita membandingkan, apa beda

kemungkinannya jika pedang berada di tangan orang berpengetahuan, dengan

jika ia tergenggam di tangan orang berilmu saja, atau jika ia tergenggam

di tangan orang yang bercinta saja dengan jika ia tergenggam di tangan

orang yang bertaqwa.

 

Kemudian gampanglah bagi kita untuk memproyeksikan: jika pedang itu

adalah kekuatan fisik, adalah kekuasan politik, adalah modal dan peluang

ekonomi, adalah pasal-pasal hukum, atau apa pun saja. Gampanglah kita

perhitungkan: terjaditikaman, siapa yang menikam dan yang tertikam,

seberapa dahsyat akibat sejarah dari ketertikaman itu, ataukah mungkin

berlangsung suatu ketaqwaan peradaban, di mana pedang tak pernah

menikam, di mana ketajaman pedang ditaqwai untuk hanya menguak

kesejahteraan dan kebahagiaan bersama.

 

Makan yang sejati

 

Rasanya tak enakuntuk memuji-muji Muhammad. Ada situasi psikologis

tertentu dalam pergaulan teologis dan kultural di lapangan integrasi

nasional kita, yang menjadi sumber ketidakenakan tersebut.

 

Sepenuhnya saya memahami itu. Secara kultural, untuk situasi semacam

itu, saya harus pelti" pujian. Tetapi, dalam konteks ilmu kita tidak

bisa menemukan argumentasi apa pun untuk melakukan hal yang sama. Tidak

kebetulan bahwa arti harfiah kata "Muhammad adalah juga yang terpuji".

Apa yang ingin saya lakukan dengan tulisan ini hanyalah mencicil

landasan rasional agar kita berhak menyebut rasul terakhir itu dengan

Muhammad. Kalau tak cukup pengetahuan dan ilmu, syukur cinta dan

ketaqwaan, maka jika kita memanggilnya dengan mesra "Ya Muhammad

kekasih", rasanya kosong, tak ada muatannya. Muhammad menolehkan

kepalanya dan melirikkan bola matanya ke arah kita, tetapi hati, nalar

dan budinya tak ikut merasa terpanggil, karena

panggilan kita memang tanpa nalar, hati dan budi. Beliau pasti kecewa.

 

"Makan hanya ketika lapar, dan berhenti makan sebelum kenyang"  Adalah

formula tentang kesehatan hidup. Tak hanya menyangkut tubuh, tapi juga

keseluruhan mental sejarah. Ia adalah contoh soal lebih dari sekadar

teori keilmuan tentang keefektifan dan efisiensi.

 

Selama ini pemahaman-pemahaman nilai budaya kita cenderung mentabukan

perut. Orang yang hidupnya terlalu profesional dan hanya mencari uang,

kita sebut "diperbudak oleh perut". Para koruptor kita gelari "hamba

perut" yang mengorbankan kepentingan negara dan rakyat demi perutnya

sendiri.

 

Padahal ia bukanlah hamba perut. Sebab, kebutuhan perut amat sederhana

dan terbatas. Ia sekadar penampung dan distributor sejumlah zat yang

diperlukan untuk memelihara kesehatan tubuh.

 

Perut tak pernah mempersoalkan, apakah kita memilih nasi pecel atau

pizza, lembur kuring atau masakan Jepang.

 

Yang menuntut berlebih pertama-tama adalah lidah. Perut tidak menolak

untuk disantuni dengan jenis makanan cukup seharga seribu rupiah.

Tetapi, lidah mendorong kita harus mengeluarkan sepuluh ribu, seratus

ribu, aau terkadang sejuta rupiah.

 

Mahluk lidah termasuk yang menghuni batas antara jasmani dengan rohani.

Satu kaki lidah berpijak di kosmos jasmani, kaki lainnya berpijak di

semesta rohani. Dengan kaki yang pertama ia memanggul kompleks tentang

rasa dan selera; tak cukup dengan standar 4 sehat 5 sempurna, ia

membutuhkan variasi dan kemewahan. Semestinya cukup di warung pojok

pasar, tapi bagian lidah yang ini memperkuda manusia untuk mencari

berbagai jenis makanan, inovasi dan paradigma teknologi makanan, yang

dicari ke seantero kota dan desa. Biayanya menjadi ratusan kali lipat.

  

Dengan kaki lainnya lidah memikul penyakit yang berasal dari suatu dunia

misterius, yang bernama mentalitas, nafsu, serta

kecenderungan-kecenderungan aneh yang mensifati budaya manusia. Makan,

yang dalam konteks perut hanya berarti menjaga kesehatan, di kaki lidah

itu diperluas menjadi bagian dari kompleks kultur, status sosial,

gengsi, feodalisme, kepriyayian, serta penyakit-penyakit kejiwaan

komunitas manusia lainnya.

 

Kecenderungan ini membuat makan tidak lagi sejati dengan konteks perut

dan kesehatan tubuh, melainkan dipalsukan, dimanipulir atau

diartifisialkan menjadi urusan-urusan kultur danperadaban, yang biayanya

menjadi amat, sangat mahal. Budaya artifisialisasi makan ini

dieksploitasi dan kemudian dipacu oleh etos industrialisasi segala

bidang kehidupan, serta disahkan oleh kepercayaan budaya, bahwa harus

senantiasa ada proses kreatif: orang menyelenggarakan modifikasi budaya

makan, pembaruan teknologi konsumsi, jenis makanannya, panggung tempat

makannya, nuansanya, lagu-lagu pengiringnya, pewarnaan meja kursi

dindingnya hingga karaokenya.

 

Artifisialisasi budaya makan itu akhirnya juga menciptakan berbagai

ketergantunan manusia, sehingga agar selamat sejahtera dalam

keterlanjuran ketergantungan itu, manusia bernegosiasi di bursa efek,

menyunat uang proyek, memborong gunung-gunung dan hutan-hutan, bahkan

berperang dan membunuh satu sama lain.

 

Padahal perut hanya membutuhkan "makan ketika lapar dan berhenti makan

sebelum kenyang".

 

Maka yang bernama "makan sejati" ialah makan yang sungguh-sungguh untuk

perut. Adapun yang pada umumnya kita lakukan selama ini adalah "memberi

makan kepada nafsu".

 

Perut amat sangat terbatas dan Allah mengajarinya untuk tahu membatasi

diri. Sementara nafsu adalah api yang tak terhingga skala perbesaran

atau pemuaiannya. Jika filosofi makan dirobek dan dibocorkan menuju

banjir bandang nafsu tak terbatas, jika ia diartifisialkan dan

dipalsukan dan tampaknya itulah salah satu saham utama beribu konflik

dan ketidakadilan dalam sejarah umat manusia maka sesungguhnya itulah

contoh paling konkret dari terbunuhnya efisiensi dan keefektifan.

Rekayasa budaya makan pada masyarakat kita, dari naluri sehari-hari

hingga aplikasinya di pasal-pasal rancangan pembangunan jangka pendek

dan jangka panjang, mengandung inefisiensi atau keborosan dan

keserakahan, yang terbukti mengancam alam dan kehidupan manusia sendiri;

di samping sangat tidak efektif mencapai hakikat tujuan makan itu sendiri.

 

Kebutuhan sejati

 

Aktivitas puasa selalu diartikan - dan memang benar demikian - sebagai

peperangan melawan nafsu. Cuma barangkali karena pengetahuan dan ilmu

kita tentang musuh yang harus diperangi itu tidak bertambah, maka

strategi dan taktik perang kita pun kurang berkembang.

 

Kalau kita mendengar tentang nafsu makan, asosiasi kita menunjuk ke

makan, bukan ke nafsunya. Maka ketika istri kita ke pasar, yang dibeli

terutama adalah pesanan-pesanan nafsu, bukan kapasitas kebutuhan makan

yang diperlukan. Setiap pelaku puasa punya pengalaman untuk cenderung

mendambakan dan menumpuk berbagai jenismakanan dan minuman sepanjang

hari, kemudian ketika saat berbuka tiba, ia baru tahu, bahwa perut sama

sekali tidak membutuhkan sebanyak dan semewah itu.

  

Pelajaran yang diperoleh dari peristiwa semacam itu seharusnya adalah

kesanggupan memilahkan antara dorongan nafsu dengan kebutuhan makan.

Kegiatan puasa jadinya bukanlah pertempuran melawan "tidak boleh makan"

atau "tidak adanya makanan", melainkan melawan nafsu itu sendiri yang

menuntut pengadaan lebih dari sekadar makanan.

  

Puasa adalah penguraian "nafsu" dari "makan". Untuk tidak makan dari

subuh hingga maghrib, putra kita yang baru duduk di kelas III Sekolah

Dasar saja pun sudah sanggup. Untuk "tidak makan" jauh lebih gampang dan

ringan dibanding untuk "tiak bernafsu makan", terutama bagi para

penghayat "makan yang sejati".

  

Seorang Sufi yang taraf pergaulannya dengan makan tinggal hanya

berkonteks kesehatan tubuh, dalam hidupnya ia tak pernah lagi ingat

makan, kecuali ketika perutnya lapar. Ia bukan merekayasa untuk hanya

makan ketika lapar, tapi memang betul-betul sudah tak ingat makan sampai

perutnya mengingatkan, bahwa ia lapar.

  

Untuk ingat lapar, cukup perut yang melakukannya, tapi untuk berhenti

makan sebelum kenyang, manusia memerlukan dimensi-dimensi rohani tinggi

kemanusiaannya untuk mengingatnya. Ia memerlukan nalar ilmu kesehatan

tentang makan yang sehat, yakni tentang kurang dan tak lebih. Ia juga

memerlukan ilmu dan kearifan yang lebih tinggi untuk melatih ketepatan

kapasitas makan, agar ia memperoleh ketepatan pula dalam aktivitas

"makan" yang lain di bidang-bidang kehidupan yang lebih luas.

 

Dalam pelajaran keaktoran teater, ada metoda "biasakan makan minum yang

pas, agar dalam bermain drama engkau tidak overacting dan juga tidak

underacting."

  

Padahal ilmu "makan sejati" atau "makan pas"-nya Rasulullah Muhammad

juga berlaku untuk segala makan dalam kehidupan.

  

Kita masuk ke toko serba ada dengan segala gemerlap yang tidak

memanggil-manggil kebutuhan kita, melainkan mengundang nafsu kita. Saya

mohon maaf, bukan saya bermaksud mematikan nafkah para pedagang, tetapi

bermilyar-milyar rupiah dikeluarkan orang untuk membeli pelayanan atas

nafsu, bukan pelayanan atas kebutuhan.

  

Program-program pembangunan kita memacu tahyul; mengetalasekan

beribu-ribu jenis konsumsi yang tak sejati, yang sebenarnya belum tentu

dibutuhkan oleh konsumen. Iklan-iklan industri adalah kendaraan budaya

yang mengangkut jutaan manusia dari terminal kebutuhan ke terminal

nafsu, dari kesejatian dan kepalsuan. Mereka dicetak untuk merasa rendah

atau bahkan merasa tak ada, apabila tidak memiliki celana model ini dan

kosmetika model itu. Merk-merk dagang adalah strata tahyul dan klenik.

Para pasien di rumah sakit budaya tinggi, budaya gengsi, budaya kelas

priyayi, menyerbu warung-warung status modernitas tidak untuk membeli

barang, melainkan membeli anggapan-anggapan tentang barang.

 

Salah satu wajah dunia industri modern adalah tahyul konsumtifisme, yang

menjadi sumber dari berbagai konflik serius di bidang persaingan

ekonomi, pergulatan kekuasaan politik hingga penyelewengan hukum.

  

Ini adalah kata-kata "purba", yang terasa lucu dan naif untuk

diperdengarkan. Tapi, tak bisa kita menghapusnya, karena setiap orang -

setidaknya beberapa hari menjelang ajalnya - akan mendengar kata-kata

semacam itu dari lubuk hati dan kesadarannya sendiri.

  

Puasa mengajarkan dan melatih pelaku-pelakunya untuk makan, untuk

memiliki sejumlah uang dan kekayaan, untuk bersedia menggenggam

kekuasaan, untuk menjadi ini-itu atau melakukan apa pun saja hanya

ketika benar-benar dalam keadaan "lapar sejati", bukan dalam keadaan

"merasa lapas karena nafsu".

  

Jika orang menjalankan puasa dengan pengetahuan, ilmu, cinta, dan

ketaqwaan, ia akan terlatih untuk bertahan pada "makan yang sejati".

Yakni, terlatih untuk mengambil jarak dari nafsu. Terlatih untuk tidak

melakukan penumpukan kuasa dan milik, tidak melakukan monopoli,

ketidakadilan, serta penindasan, karena telah diketahui dan dialaminya,

bahwa itu semua adalah "makanan palsu".

  

/Tetapi, alangkah sedihnya menyaksikan, betapa dunia ini diisi oleh

banyak manusia yang tak henti-hentinya makan, padahal ia tak lapar,

serta oleh banyak manusia yang tak habis-habisnya makan, padahal ia

sudah amat kekenyangan./

 

Untunglah, bahwa bagi para pelaku puasa sejati, kesabaran untuk

menyaksikan keburaman hidup semacam itu bisa justru meningkatkan

perolehan kemuliaan dan kesejatiannya.


Blog EntryBERKAHSep 27, '07 4:30 AM
for everyone

BERKAH

(Mohamad Sobary)

 

Mohamad Mustofa, Ramadhan bulan suci katamu

Kau hanya menirukan Nabi

Apa kau merasakan sendiri kesuciannya

Melalui kesucianmu?

   

(Mustofa Bisri)

 

MALAM  sudah  larut  dan  sepi. Saya mendorong pelan-pelan pintu depan

rumah  Tuhan  yang tak terkunci. Derit engselnya yang tua dan karatan

memecah  sunyi  dan terpaan angin malam yang dingin seperti menambahkan

suasana lebih magis.

 

Di  bagian  pojok,  yang  agak terlindung dari cahaya lampu yang

temaram  dari  luar,  saya  sujud.  Allah yang maha terpuji, pemilik

rumah  ini, saya puji nama-Nya, saya agungkan segenap kemurahan-Nya,

dan  kemudian  saya  pun  bersyukur dan bersyukur, karena tahun ini,

seperti  doa  saya tahun lalu, Ia masih menganugerahiku umur panjang

buat  bertemu  Ramadhan,  bulan  suci  penuh  berkah,  ampunan, dan

pembebasan dari api neraka.

 

Seperti di  malam-malam  sepanjang  Ramadhan  tahun  lalu,  di

malam-malam  Ramadhan  tahun  ini  pun  seolah  percuma saya biarkan

berlalu  tanpa  berbuat  sesuatu  yang  lebih berarti.

 

Saya rindukan bulan ini, dan kepada Tuhan saya memohon supaya saya bisa

menemuinya lagi.  Tetapi,  wahai diriku, apa yang kau perbuat setelah

pertemuan itu terjadi?

  

Mengapa  pertemuan ini tidak  tampak  gegap-gempita dengan kerinduan

membara  seperti layaknya  seorang kekasih yang merindu?

 

Mengapa  pertemuan  di  malam-malam  tahun  ini pun terasa bisu, tak

tampak dialogis,  tak  terasa lebih intim, dan tak muncul pemahaman

kreatif akan makna kesucianmu?

 

Di  bagian  pojok  yang  agak  terlindung dari cahaya lampu yang

temaram  dari  luar,  saya  mengadili  diri  sendiri  yang  terampil

mendamba,  merindu,  dan  merangkai  kata-kata,  tetapi tak terampil

melakukan tindakan penting yang lebih mulia dari sekadar kata.

 

Tuhan, dengan setulus hati di rumah-Mu ini aku membuat pengakuan, bahwa

aku  hakikatnya  cuma  seperti  seekor  burung  nyanyi,  yang

mencericit  dan merdu suaranya, dan terampil meniru bunyi kata-kata,

tetapi tak paham harus memberi makna macam apa.

 

Tuhan,  puisi kiai dari Rembang yang aku kutip di awal tulisanku ini,

seperti  sengaja  menegurku secara halus tetapi tajam bagaikan sembilu,

bahwa  aku-dalam  umur  setua ini-cara menyikapi hidup dan ajaran

suci-Mu,  hakikatnya sama saja dengan sikap anak-anakku yang masih bocah.

 

Aku  tiba-tiba  baru sadar, hidupku kehilangan spontanitas, rasa humor

dan  ketulusan.  Dan  di  tengah kegelapan jiwa bangsaku yang

porak-poranda, korup dan kalap, dan mudah mengumbar semangat amuk di

mana-mana,  saya  pun merasa seperti dalam gelap gua di tengah hutan

seribu tahun lamanya.

 

Rinduku  pada  Ramadhan  mungkin,  atau  ternyata, cuma retorika

keagamaan  agar  terkesan  saleh,  tetapi  intinya  cuma  kata  yang

terhenti  pada  kata. Padahal kata-di negeriku-telah lama kehilangan

makna.

 

Aku  tahu  Engkau maha kuasa, tetapi aku pun tahu Engkau tak akan

mengubah  nasib  buruk  bangsaku,  selama  mereka masih merasa nyaman

dalam  kezaliman  terhadap  diri  sendiri,  dan sibuk saling

menyalahkan  dan  saling  mengutuk, tanpa menyadari bahwa dalam tiap

pribadi menggumpal batu hitam yang membikin kelam jiwa mereka.

 

Ampunilah  aku  ya  Tuhan, dan ampunilah pula rindu-rinduku pada

Ramadhan-Mu  yang  ternyata  cuma  hampa  tanpa  makna.  Maka,  kini

ajarilah  aku  untuk mencoba dengan tulus merangkai dan menghadirkan

makna-makna.

.................................

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help