SEBAGIAN BAB DARI BUKU KEHIDUPAN.......

Muhammad's posts with tag: jalan-jalan

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag jalan-jalan
Photo AlbumEXPLORE ETAPE I : BODOGOL - PANCAWATI (64 photos)Aug 18, '08 10:35 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Berawal dari rasa penasaran saya dan pertanyaan om Oki LH, apakah dari Bodogol ada jalur ke Pancawati?
Akhirnya kemarin, hari Senin, 18 Agustus 2008, kami bertujuh : saya, pak Oni, kang Bagja, kang Petrus, om Agung, pak Ro'uf dan om Guntur memulai eksplorasi jalur Bodogol - Nangleng - Pancawati. Sayang, om Oki LH tidak bisa ikut....
Kami berangkat dari MP Bank Niaga dengan angkot ke Bodogol sekitar pk. 7.30 dan sampai di Lido Bodogol gerbang depan pk. 8.30.
Setelah rakit sepeda kembali dan berdo'a, kami berangkat melewati jalan paving dan memotong jalur via tanjakan pinus ke arah lapangan terbang Lido. Dari lapter Lido, perjalanan diteruskan melewati kebun2 penduduk sampai akhirnya tembus di penghabisan jalan paving.
Setelah penghabisan jalan paving, kami belok kiri ke arah Srogol, sebuah desa yang terletak di lembah, diapit pasir (punggungan) Bodogol. Hutan Bodogol terlihat biru kehijauan di depan kami.
Jalan ke desa Srogol berupa single track paving dan jalan tanah berliku-liku di lereng punggungan Bodogol (foto 26). Menurun dan licin !
Sesampai di Srogol, perjalanan berubah menanjak menyisir punggungan Bodogol menuju jalan ke arah Cinagara (foto 46).
Tanjakan berubah turunan memutar balik. Menurun terus sampai mendekati pertigaan jalan raya SPN Lido !
Disini kami istirahat memulihkan tenaga dengan gorengan dan teh manis. Setelah itu perjalanan dilanjutkan lagi melewati jalan Cinagara - Tangkil. Sempat berhenti melihat persiapan panjat pinang dan yang manis - manis (foto 52), hehehe... Perjalanan diteruskan melewati jalan yang terus menanjak dan akhirnya belok kiri kearah Nangleng !
Akhirnya kami sampai di jalan yang saya lewati 2 minggu lalu. Pas di area tanjakan L yang mantap itu......Fiuh.... Akhirnya kami sampai di Nangleng dan istirahat di rumah penduduk. Mengumpulkan tenaga untuk menuruni lembah menaiki bukit seperti yang saya lakukan 2 minggu lalu.
Cuaca yang cerah, berubah mendung dan gerimis.
Alamat perjalanan akan berubah menjadi berat....
Setelah sempat terjadi insiden tunggu menunggu karena salah koordinasi, akhirnya kami menyeberang ke Pancawati. Gantian sepeda yang dipanggul.
Perjalanan yang sungguh berat dan menyita tenaga dan kami membalasnya dengan semangkok mie panas di Pancawati....
Di Pancawati, kang Petrus dan kang Bagja memisahkan diri, turun ke pertigaan Cimande sementara kami terus ke arah raya Tapos.
Perjalanan melewati turunan makadam, tanjakan tanah, sampai akhirnya kami sampai di raya Pancawati. Dari sini full on road melewati turunan mak nyus (tapi ada tanjakan juga) sampai akhirnya sampai di Gadog. Jalanan macet total...
Tapi kami terus melaju via Katulampa untuk pulang.
Saya sampai di rumah pk. 17.00 pas....
Perjalanan gowes gila-gilaan bagi saya.

Jarak tempuh sekitar 70 km....
Perjalanan nyaris 12 jam bila istirahat dihitung....
2 lt air, 1 kantung coklat, 4 botol minuman suplemen, 1 mangkok mie, 1 mangkok bakso beberapa gorengan, teh manis.....

ETAPE II menunggu : Pancawati - Makam Jerman

Terima kasih, om Guntur & om Petrus untuk tambahan foto-fotonya...

Photo AlbumDua Gaya Gudheg dan Cak Koting (18 photos)Jun 8, '08 12:57 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Siapa sesungguhnya yang mengaransemen Gudheg sehingga tercipta kombinasi sayur gudheg (nangka muda), opor ayam kampung, pindang telur bebek dan cecek kulit sapi ini? Mungkin belum pernah ada penelitian bahkan kalau diteliti, orang Yogya sendiri bingung, ”Lhaa itu warisan jadi dari mbah buyut saya dulu, lhoo mas...”

Nah, hari Selasa kemarin, saya diajak ke Widjilan untuk mencoba gudhegnya Bu Lies. Dari deretan warung gudheg, warung gudheg Bu Lies ini termasuk paling ramai.
Didalamnya enak. Ada lesehan, ada meja besar yang menampung 6 – 8 orang, ada radio kuno Grundig ada quote sumeleh juga yang dibingkai dan dipasang di dinding. Pokoknya lengkap

Ketika pesanan saya datang dan saya cicipi...wuih tendangan rasa manisnya memang dominan. Manis gurih....
Kalau ndak manis khan yaa bukan gudheg, tho?

Tapi ada juga gudheg yang nggak manis. Lokasinya disebelah Bioskop Permata di Jalan Gajah Mada. Bukanya jam 21.00 theng. Waktu saya sampai, sekitar pk. 21.30, tempat makan yang ngemper di depan toko dan pinggir gang sudah penuh sesak.
Setelah menunggu agak lama akhirnya keluar juga gudhegnya lengkap dengan assesories opor ayam, telur bebek pindang dan cecek kulit.
Rasanya? Memang kadar manisnya kurang dibanding gudheg Widjilan....

Bosan gudheg dan kepingin alternatif lain? Wah, buanyak sekali di Yogya. Tapi kalau kepingin menu burung dara ( goreng atau bakar ) atau bebek ( goreng atau bakar) khas Jawa Timur, monggo jalan – jalan ke warung makan Cak Koting & Bu Meti di depan Bioskop Mataram di Jalan Dr. Sutomo.
Warung makan Cak Koting & Bu Meti ini terkenal burung daranya. Ditambah lalapan dan sambal jeruk yang mantap pedasnya, wuaduuh.......mak nyus tenan...
Tapi selain burung dara, silahkan dicoba bebek gorengnya. Empuk, tebal dagingnya dan ditambah sambal terong yang juga puedas......

Wis pokoknya yang sedang diet akan runtuh imannya, hihihi.....


Photo AlbumMIROTA... (20 photos)Jun 8, '08 12:47 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Menyempatkan diri mampir ke Mirota setelah 'hiking' di Malioboro.
Setelah 'nuwun sewu' ke pak Satpam dan ibu - ibu yang jaga, mulailah berburu barang aneh - aneh.....

Tentang Mirota, saya kutipkan dari : http://paketrupiah.com/artikel/cari_suvenir_di_malioboro_coba_ke_mirota_batik.php

Jika anda menginginkan pengalaman unik berbelanja barang-barang khas jogja ditempat yang beraroma jogja dan dilayani oleh keramahan orang-orang yang berbusana khas jogja, cobalah datangi toko suvenir Mirota Batik. Terletak di sisi utara Pasar Beringharjo, temboknya yang bercat oranye kecoklatan pastilah mudah ditemui. Dengan rentang harga barang antara Rp10.000,00-50.000,00 untuk berbagai hiasan dinding, gantungan pintu, dan banyak kerajinan lain dan harga mulai Rp200.000,00 untuk barang-barang antik, keris, dan wayang, Mirota Batik bisa menjadi alternatif yang menawarkan kenyamanan anda dalam memilih suvenir yang paling anda inginkan dari kota Yogyakarta

Sebagai salah satu pusat suvenir dan oleh-oleh di sepanjang Malioboro, Mirota Batik telah mendapatkan tempat tersendiri di hati para turis manca maupun domestik. Toko yang dulu terletak di dekat jam gede seberang pasar Beringharjo ini menyediakan berbagai produk kerajinan gaya jogja. Mirota Batik juga menyediakan tempat bagi karya-karya kerajinan, walaupun tidak bergaya jogja, buatan masyarakat jogja. Anda pernah melihat miniatur gitar, baik elektrik maupun akustik, yang dipajang di sepanjang trotoar Malioboro? Atau miniatur "pit onthel"� (sepeda kumbang) berbahan baku besi dan aluminium? Atau mungkin miniatur becak, motor besar, atau bemo yang terbuat dari kayu? Semuanya bisa anda nikmati dan anda seleksi sekaligus di Mirota Batik.

Terletak diantara Maliboro mall dan pasar Beringharjo, bangunan dua lantai yang digunakan untuk mengganti bangunan sebelumnya yang rusak akibat peristiwa kebakaran tahun 2004 cukup mengakomodasi seluruh barang kerajinan yang ingin ditampilkan. Ditata secara artistik, semua barang yang ada dengan mudah dapat diamati detilnya oleh para calon pembeli. Di lantai bawah, pengunjung dapat mengamati berbagai kerajinan yang terbuat dari kain dan kayu. Surjan (pakaian tradisional Jawa Tengah), Kain batik, dan bunga kering dapat ditemui di lantai bawah.

Di lantai atas, barang kerajinan yang berukuran lebih kecil seperti kerajinan perak dan berbagai kerajinan miniatur tertata rapi di lemari etalase. Juga tersedia di lantai atas beberapa jenis keris, topeng kayu, kap lampu, wewangian bakar, batik, caping, hiasan bambu, patung loro blonyo, wayang-wayangan, kipas anyaman, jamu-jamu, orang membuat batik dengan canting dan malam, andong, seperangkat gong dan gamelan, boneka pasukan pengawal keraton, hingga barang-barang elektronik antik yang masih bisa difungsikan seperti radio tua, mesin ketik, kipas angin, dan sebagainya.

Photo AlbumMalioboro...... (12 photos)Jun 8, '08 12:29 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Malioboro, sepenggal jalan yang membentang antara Tugu – Kraton, selalu ramai. Jalan legendaris ini yang menjadi saksi kirab – dalem Sri Sultan dengan kereta kencana Kiai Garuda Yeksa, iring-iringan kanjeng tuan gubernur Hindia – Belanda pada saat pemerintahan kolonial dulu, prosesi Kiai Tunggul – Wulung dan pada saat revolusi menjadi saksi iring – iringan mobil butut yang membawa para pemimpin yang duduk dengan kepala tegak dan pekik ’MERDEKA’ membahana....

Malam itu saya disana, mencoba menghirup gambaran sejarah puluhan bahkan mungkin ratusan tahun yang lalu, sambil umpel-umpelan uyel-uyelan melewati lorong yang sempit penuh pedagang kaos dan handicraft khas Yogyakarta

Beginilah, Malioboro sekarang.......

Photo AlbumFrom Yogya with Bakpia Pathok (14 photos)Jun 8, '08 12:22 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
‘Hubungan’ saya dengan kota Yogya cukup unik justru bukan karena beberapa kali saya pernah kesana, karena itu hanya kunjungan 1- 2 hari yang cuma sekejap dan hanya sedikit menambah pengetahuan saya tentang Yogya.
‘Hubungan’ saya dengan Yogya justru terjalin intens gara – gara buku swargi (almarhum ) Pak Kayam yang bagi saya merupakan dokumentasi sosio-antropologis yang menarik tentang Yogyakarta.
Nah, kemarin itu saya ke Yogya lagi dan kok ya ndilalahnya juga cuma 2 hari……
Hari pertama, saya ‘jalan-jalan’ ke FH UGM dan nemu sepeda ijo yang mojok di bawah tangga. Gratis dipakai selama di dalam komplek UGM.
Suasana kampus, selalu menyenangkan apalagi suasananya adem……mengingatkan jaman – jaman kuliah dulu. Tapi sekarang lain, lhooo... Laptop – laptop berderet di teras kampus yang menghadap ke taman. Canggih tenan.... Jaman saya dulu, boro – boro laptop. Ngetik skripsi aja masih pakai PC 486 under DOS dengan word processor CW, hehehe....
Setelah urusan beres tibalah saat – saat makan siang. Hasil voting memutuskan cabut ke Widjilan, berburu Gudheg.....hehehe...belum ke Yogya kalau belum makan Gudheg...
Setelah memberesi ini itu kesana sini sampai malam dan kelaparan lagi, akhirnya voting (lagi) memutuskan makan di Cak Koting di depan bioskop Mataram yang terkenal itu.
Hari kedua full dengan meeting (halah) sampai sore menjelang malam. Badan sudah mau istirahat tapi segar lagi setelah ada ajakan jalan – jalan ke Malioboro a/k Mirota. ”Ayo Dab, jalan lagi....”
Ending jalan – jalan malam itu ditutup dengan acara berburu gudheg (lagi), kali ini gudheg Permata yang ngemper di sebelah Bioskop Permata.
Pagi – pagi hari Kamis ( 5 Juni 2008), akhirnya saya berpisah dengan hati berat dengan Yogya. Berangkat ke Tegal dengan bus.... Wah, ndak bisa nonton FKY, nih....

Kapan kapan, saya tekati mau ambil cuti 10 hari khusus buat jalan – jalan di Yogya.....

Tentang Tegal, sejauh ini yang saya tahu ya hanya sate yang mak nyuss, logat ngapak – ngapak dan warteg yang terkenal itu.....

Blog EntryMerk itu.......May 26, '08 12:25 AM
for everyone
Suatu saat, waktu saya jalan - jalan ke pelosok Bukit Tinggi, disuatu jalan dibelakang Jam Gadang yang tersohor itu, tiba - tiba nemu plang nama ini.

Entah kenapa, saya jadi tertawa sendiri, sambil memotret dan membayangkan.....
'Apa kalau gigi saya 'diservice' di sini, terus jadi tambah MAJU ?
Wah, nggak mau, ah....mending cari tempat lain yang ada plang berjudul 'SEHAT' atau 'CAKEP'


Photo AlbumYang abadi hanyalah perubahan..... (13 photos)Apr 1, '08 5:34 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Bulan lalu saya sempat sepedaan di kampung halaman. Sayangnya, waktu itu sudah sore dan habis hujan.....tapi no problemo....
Perjalanan diarahkan ke sebelah utara rumah ke sawah-sawah tempat saya dulu bermain, ke sungai yang airnya bening dan segar. Tapi waktu sampai di sana, ternyata sawah-sawah itu sudah di kapling-kapling menjadi tanah siap bangun (foto 046 dan 047)...dan sungainya sudah berubah menjadi seperti tempat pembuangan limbah...apalagi saya lihat beberapa gudang atau pabrik mengarahkan saluran pembuangan limbahnya ke sana......
Perjalanan berlanjut memotong jalan besar....menuju pantai...dulu setiap liburan sekolah, hampir setiap hari saya bermain di pantai ini...mencari kerang, remis, berenang, memancing......
Pantai yang dulu landai....sekarang sudah kena abrasi (048, 050)....dulu ada gosong pasir yang melandai jauh dari bibir pantai yang melindungi tegalan-tegalan pohon kelapa dari hajaran ombak yang kadang ganas...
Diantara gosong pasir dengan daratan yang sebenarnya terdapat sebuah kolam air payau yang besar dan tenang. Disitulah dulu kawanan mujair, ikan glodog dan hewan-hewan pantai hidup.....bahkan dulu masih sering kita menemukan telur burung puyuh di sela-sela rumput di gosong pasir itu.....
Semua berubah....semua berkembang.....yang tetap adalah kanak-kanak yang riang bermain di pantai.......dan perubahan itu sendiri.....

ddd
dThumbnaild
ddd
Nggowes berpanas-panas ke Hill 1 dan Hill 2 Gunung Bubut selalu menantang. Kali ini, kami menemani sahabat-sahabat yang penasaran pengen nyoba trek mantap ini, om Agung dan teman, dan - ini yang menarik - Pak dan Bu Norman....


Photo AlbumKE RINDU ALAM...... (15 photos)Dec 9, '07 8:06 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
A. TCC’ERS (alphabetical order ….) :
1. TCC - ADI
2. TCC – AGUS
3. TCC - ANTO
4. TCC – BRAM
5. TCC – DANI
6. TCC - HASBIE
7. TCC - ISMU
8. TCC - SYAIFUL
9. TCC – YUNUS
10. TCC - ZAKI
B. RUTE :
Wr Puncak Pass – Paralayang – Tmn Safari – Ngehe’ – Wr Ngehe’ – Gadog – Katulampa - Hero – Air Mancur – Pahlawan – Cimanggu - TSP

C. JARAK TEMPUH NR : 48,5 KM

D. GENJOT TIME + WAKTU ISTIRAHAT : 8 jam 19 menit 21 detik (7.35 – 15.53)

Hari Sabtu, akhirnya tiba juga…setelah melewati seminggu berkonferensi via e-mail yang bertubi – tubi, ngalah-ngalahi konferensi meja bundar, akhirnya tiba juga ‘genjot day’ yang spesial. Spesial karena TCC mau nggowes pertama ke Rindu Alam yang terkenal legendaris itu. Legendaris, karena katanya baru diakui sebagai penggenjot setelah penggenjot itu mengkhatamkan rute ini.

Karena spesial genjot, maka persiapan juga lebih dari biasanya. Ada yang beli sepatu baru (2 orang), beli baju baru, beli rante baru, beli klem seat post, beli ban dalam, beli kaus kaki (kalau ini saya, hehe..) dan tas baru…Untung belum ada yang beli sepeda baru gara-gara genjot ke RA…hahaha…Nggak tahu kalau setelah nggenjot nanti kepikiran lha kok pakai fullsus kok lebih maknyus ? Wah, kalau itu resiko ditanggung penumpang…

Jam 5.15, 3 angkot datang mau langsung antar alamat ke RA. TCC segera mbongkar sepeda. Tercatat 10 TCC’ers yang ikut pagi ini. Karena ‘special day’
juga, ada yang diantar sang istri segala. Ada yang komentar, “Walah, apa sudah nggak dipercaya, nih ?”
Haha…Ampuun, bukan saya lho pak…
Setelah foto-foto dan berdo’a bersama, TCC berangkat. Jam 5.45 (cmiiw). Udara segar, cuaca berawan. Semoga tidak hujan….






Kami sampai pukul 7.00. Udara yang dingin segera menyambut. Setelah sepeda dibongkar dari angkot dan cek semua peralatan, kuatir ketinggalan, kami segera merakit sepeda kembali. Sip.
Semua lancar. Kecuali kloter 3 (pak Hasbie, pak Anto dan pak Dani) yang belum datang karena terpaksa ganti angkot karena ada masalah dengan angkot yang lama. Waktu menunggu dipakai untuk cek bekal lagi, sarapan dan minum teh. Heran juga kok masih sepi. Biasanya daerah RA banyak MTB’ers yang mau nggenjot juga. Setelah Kloter 3 datang dan merakit sepeda kembali, kami segera siap-siap. Alhamdulillah, tidak ada yang ketinggalan…
Jam 7.35, kami berangkat…..

ETAPE 1 : Warung - Paralayang

Udara dingin segar dan matahari segera menyambut kami….juga tukang karcis yang juga ikut-ikutan berpartisipasi, hehe. Pemandangan indah. Mantap betul.
Etape ini didominasi makadam dan jalan tanah yang menurun…dan semak-semak…Sehingga antena radio pak Agus yang tinggi harus dibongkar karena mengganggu. Etape ini ditutup dengan drop off diujung etape dan dilalui TCC dengan sukses

ETAPE 2 : Paralayang – Nyasar


Rute ini didominasi jalan makadam yang full turun diselingi jalan datar dan pemandangan indah. Mungkin ini kenapa trek RA – Gadog jadi rute favorit. Mumpung masih segar, mari narsis habis dengan berfoto – foto….
Gara- gara keasyikan turun saya lupa ngecek GPS. Walah, kebablasan, nih…padahal pak Ismu dan pak Zaki yang di depan sudah nanjak. Seorang ibu pemetik teh menunjukkan jalur yang benar. GPS juga menunjukkan arah yang sama. “Punten, om. Ongkosnya….khan saya sudah menunjukkan jalan….Saya jalan dari atas, lhoo…” kata ibu tadi….Saya hanya tersenyum asem…Kok ya jadi komersil begini, ya?
Kami masuk ke single trek yang licin dan nggak mungkin digenjot jadi ya dipersilahkan TTB…..


ETAPE 3 : Single Track – Gunung Mas



Single Track yang licin itu bersambung dengan rute bak kontrol yang sering menjebak mereka yang tidak hati – hati. Jalanan yang licin bekas hujan juga menjadi salah satu masalah lain. Lepas dari rute bak kontrol, kami disambut jalanan makadam yang menurun lagi…..Fiuh…lega….Sekarang bisa rame-rame lagi dan foto-foto lagi…juga mengosongkan ‘tangki air’ yang penuh…Mungkin ini yaa, rahasia kenapa teh Walini itu jadi ‘enak’, hahaha….Kami sampai di Gunung Mas…jalan makadam berubah jadi jalan aspal…tapi lha kok nanjak?

ETAPE 3 : Gunung Mas – Parkir Taman Safari

Jalan nanjak aspal berubah menjadi jalan makadam yang…..nanjak juga. Tapi karena banyak yang bening-bening, gengsi doong kalau pasang muka lelah. Kalau pun mau TTB, yaa berhenti dulu pura-pura mbetulin sepeda, hehe…Jalan nanjak berubah turun dan turun terus sampai parkir Taman Safari….
Lho-lho, kok ada panitia penyambutan ? “Dorong Om…dorong Om…”

ETAPE 4 : Parkir Taman Safari – Saung Ngehe’ 1

“Dorong Om…dorong Om…” Mengiringi kami mulai dari parkiran Taman Safari. Dorong gimana ? Lha tanjakannya belum kelihatan, kok? Waktu saya belok kiri, terpampang didepan saya jalan lurus ke depan yang aduhai….nanjaknya. Lurus dan menanjak bener….straight forward….. Bener bener meruntuhkan mental. Apalagi ojek usil itu yang menunggui. “Dorong aja, Om…Pasti Om nggak kuat…” katanya sambil ngos-ngosan gara-gara lari dari parkiran. Wee….anda meremehkan saya? Batin saya….Tekad saya adalah genjot terus tanpa TTB….meskipun harus berhenti untuk tarik nafas….walah…sisa-sisa flu ikutan mengganggu juga, nih…Saya melanjutkan nggenjot lagi….si ojek usil saya suruh nunggu aja yang di belakang saya…..Di jalan yang datar saya berhenti lagi…Fiuh beurat euy…Saya bertekad kalau sudah diganti RS yang air harus dicoba di sini pada kesempatan pertama….coil mah minta ampun bobbing-nya…atau ini kambing hitam saya? Hahaha….Bagaimana pak Bram, pak Agus ? Bener bobbing, khan?
Setelah yang lain berangkat, tinggal saya dan pak Syaiful….Saung sudah kelihatan…genjot lagiii…Sampai juga akhirnya….Masih ada Saung 2 yang menunggu di atas….


ETAPE 5 : Saung Ngehe’ 1 - Ngehe’ Top


Setelah istirahat di Saung 1, kami nggenjot lagi ke Saung 2. Istirahat lagi dan nggenjot lagi…tapi karena kondisi jalan single track sudah mirip selokan, terpaksa kami TTB….Ampuun….Panas juga mulai menyengat….Jam menunjukkan pukul 12…..
Akhirnya kami sampai juga di Ngehe’ Top yang ditandai dengan jalan makadam yang Alhamdulillah menurun….Fiuuh, leganya…..






ETAPE 6 : Ngehe’ Top – Turunan Panjang Nyasar



Setelah disiksa TTB di single track Ngehe’ 2 , kami kembali menggenjot diturunan makadam. Di rute ini, perjalanan sempat berhenti karena pak Adi kram. Di rute ini juga, pak Ismu terjatuh karena trek turunan yang licin dan berbatu.
Trek ini bener-bener hadiah setelah kami disiksa di tanjakan Ngehe’ 1 dan 2. Akibat terlalu menikmati turunan, rombongan jadi terpencar. Saya sendiri berhenti dulu karena membantu pak Ismu membetulkan rem. Setelah cek GPS, saya baru sadar, bahwa mestinya kami belok kiri. Waduh, yang lain sudah jauh di depan….Ampuun…


ETAPE 7: Turunan Panjang Nyasar – Road Joint



Kami akhirnya benar – benar nyasar. Jalanan makadam berubah menjadi jalan tanah dan berakhir di kebun orang. Tidak ada penduduk setempat yang bisa ditanya, kami terpaksa berpedoman pada rute yang ditunjuk oleh GPS. GPS menunjuk bahwa jalan yang benar itu ada di ‘sana’….masalahnya, untuk ke ‘sana’, kami harus melewati lembah….Mau balik kucing juga sudah juauh bener….Akhirnya kami nekad menyeberangi lembah…dan horee….berdasarkan pengamatan pak Zaki, ada jalan setapak di bawah. Ternyata jalan setapak itu memutar ke seberang dan terus sampai akhirnya kami menemukan jalan makadam….Alhamdulillah….GPS juga menyatakan bahwa ini rute yang benar…Jalan makadam akhirnya bergabung dengan aspal mulus yang turun ke arah Gadog….


ETAPE 8: Road Joint – Warung Ngehe’



Jalan aspal itu terus turun. Kecepatan sepeda berkembang di kisaran 50 – 60 KpJ. Ampun…TCC ternyata IPDN…..Ikatan Penggemar Djalan Nurun, hahaha….Jalan turun itu terus turun sampai berubah nanjak di jembatan sebelum pertigaan ke arah Caringin…Kami istirahat sebentar di warung untuk isi bekal dan mengisi perut.

ETAPE 9: Warung Ngehe’ – Gadog

















Dari warung Ngehe’ perjalanan dilanjutkan lagi ke Gadog. Tetep full turun dan full ngebut….




ETAPE 10: Gadog – TSP


Dari Gadog, perjalanan diteruskan ke TSP melalui Katulampa, BMC, Hero, Baranangsiang, Kebun Raya, Air Mancur, Tentara Pelajar, Cimanggu sampai akhirnya sampai TSP. Kami sampai di rumah pak Syaiful pukul 15.53…Alhamdulillah, semua lancar tidak ada halangan dan kejadian yang mengganggu perjalanan kami. Total jarak sekitar 48,5 km.
Rasa penasaran terhadap trek RA – Gadog lengkap, sudah terobati.
Lapar juga sudah terobati sop buntut yang maknyus. Matur nuwun pak Syaiful…..untuk sop buntutnya…..



DATA KONTUR, MONGGO DILIHAT DARI GAMBAR DI BAWAH…..


Photo AlbumBukittinggi & Maninjau (20 photos)Jun 21, '07 3:55 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Ini perjalanan dinas ke Padang pertengahan April sampai awal Mei kemarin.
Bukittinggi kota yang cantik dan mengandung kekayaan kuliner yang amboi (hallo om Budi...).
Bayangin, nggak sampai 5 menit dari pusat kota, udah bisa ke Jam Gadang. 10 menit dari Jam Gadang, udah bisa ke Panorama, motret Ngarai Sianok sepuasnya.
Di pusat kota Bukittinggi, keselip di Ruko2, ada warung sederhana, penjual martabak yang masih pakai kayu bakar untuk membuat martabak. "Kayu khusus, Da" kata si penjual. Sayang, nama kayunya aku lupa.
35 km dari Bukittinggi, ada danau indah, yang untuk mencapainya harus melewati Kelok 44.
Danau ini, airnya bening, sejuk dan belum terpolusi. Ada jalan memutar disekeliling danau (menurut informasi lebih kurang 75 km), daaan voila: ada persewaan sepeda, untuk bersepeda sepuasnya.

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help