SEBAGIAN BAB DARI BUKU KEHIDUPAN.......

Muhammad's posts with tag: mtb

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag mtb
Photo AlbumEXPLORE ETAPE I : BODOGOL - PANCAWATI (64 photos)Aug 18, '08 10:35 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Berawal dari rasa penasaran saya dan pertanyaan om Oki LH, apakah dari Bodogol ada jalur ke Pancawati?
Akhirnya kemarin, hari Senin, 18 Agustus 2008, kami bertujuh : saya, pak Oni, kang Bagja, kang Petrus, om Agung, pak Ro'uf dan om Guntur memulai eksplorasi jalur Bodogol - Nangleng - Pancawati. Sayang, om Oki LH tidak bisa ikut....
Kami berangkat dari MP Bank Niaga dengan angkot ke Bodogol sekitar pk. 7.30 dan sampai di Lido Bodogol gerbang depan pk. 8.30.
Setelah rakit sepeda kembali dan berdo'a, kami berangkat melewati jalan paving dan memotong jalur via tanjakan pinus ke arah lapangan terbang Lido. Dari lapter Lido, perjalanan diteruskan melewati kebun2 penduduk sampai akhirnya tembus di penghabisan jalan paving.
Setelah penghabisan jalan paving, kami belok kiri ke arah Srogol, sebuah desa yang terletak di lembah, diapit pasir (punggungan) Bodogol. Hutan Bodogol terlihat biru kehijauan di depan kami.
Jalan ke desa Srogol berupa single track paving dan jalan tanah berliku-liku di lereng punggungan Bodogol (foto 26). Menurun dan licin !
Sesampai di Srogol, perjalanan berubah menanjak menyisir punggungan Bodogol menuju jalan ke arah Cinagara (foto 46).
Tanjakan berubah turunan memutar balik. Menurun terus sampai mendekati pertigaan jalan raya SPN Lido !
Disini kami istirahat memulihkan tenaga dengan gorengan dan teh manis. Setelah itu perjalanan dilanjutkan lagi melewati jalan Cinagara - Tangkil. Sempat berhenti melihat persiapan panjat pinang dan yang manis - manis (foto 52), hehehe... Perjalanan diteruskan melewati jalan yang terus menanjak dan akhirnya belok kiri kearah Nangleng !
Akhirnya kami sampai di jalan yang saya lewati 2 minggu lalu. Pas di area tanjakan L yang mantap itu......Fiuh.... Akhirnya kami sampai di Nangleng dan istirahat di rumah penduduk. Mengumpulkan tenaga untuk menuruni lembah menaiki bukit seperti yang saya lakukan 2 minggu lalu.
Cuaca yang cerah, berubah mendung dan gerimis.
Alamat perjalanan akan berubah menjadi berat....
Setelah sempat terjadi insiden tunggu menunggu karena salah koordinasi, akhirnya kami menyeberang ke Pancawati. Gantian sepeda yang dipanggul.
Perjalanan yang sungguh berat dan menyita tenaga dan kami membalasnya dengan semangkok mie panas di Pancawati....
Di Pancawati, kang Petrus dan kang Bagja memisahkan diri, turun ke pertigaan Cimande sementara kami terus ke arah raya Tapos.
Perjalanan melewati turunan makadam, tanjakan tanah, sampai akhirnya kami sampai di raya Pancawati. Dari sini full on road melewati turunan mak nyus (tapi ada tanjakan juga) sampai akhirnya sampai di Gadog. Jalanan macet total...
Tapi kami terus melaju via Katulampa untuk pulang.
Saya sampai di rumah pk. 17.00 pas....
Perjalanan gowes gila-gilaan bagi saya.

Jarak tempuh sekitar 70 km....
Perjalanan nyaris 12 jam bila istirahat dihitung....
2 lt air, 1 kantung coklat, 4 botol minuman suplemen, 1 mangkok mie, 1 mangkok bakso beberapa gorengan, teh manis.....

ETAPE II menunggu : Pancawati - Makam Jerman

Terima kasih, om Guntur & om Petrus untuk tambahan foto-fotonya...

Blog EntryReport Telat : Nggowes ke Nangleng Aug 12, '08 10:56 PM
for everyone

Akhirnya, sampai juga saya di Nangleng yang  siang itu cukup sejuk........

Nangleng?





Saya ingat waktu itu sekitar bulan Maret 2007. Saya penasaran dengan diterbitkannya seri peta Puncak Trek Guidebook  oleh WIPA (puncaktrek.com). Setelah mencari info di indobackpackers dan mr. Google, akhirnya ada e-mail dari bu Korns, dan singkatnya satu seri puncak trek diantar ke rumah...(terima kasih, bu Korns... ).


Setelah membuka peta – peta itu, akhirnya saya tahu dimana Nangleng itu ....dan ternyata
pengetahuan saya tentang wilayah Indonesia – Jawa Barat – Bogor (zoom mode
on)  ini alangkah minimnya...... dan rasa ingin tahu saya terhadap wilayah lereng-lereng Gede Pangrango ini semakin naik tensinya dari hari ke hari.

Nangleng dalam Puncak Trek Guidebook masuk dalam Sector B – Ciawi yang diapit oleh Jalan Raya Puncak dan Jalan Raya Sukabumi dan keduanya bertemu di Pasar Ciawi dengan variasi ketinggian menurun dari 1160 mdpl sampai yang terendah 711 mdpl di barat daya dekat Kampung Nangleng. Dari Kampung Nangleng ini, hutan membentang sejauh 10,5 km ke arah puncak Pangrango....

Di sektor B ini terdapat kebun – kebun teh seperti Lemahneundeut, Arca dan Pancawati. Penduduk kampung sudah mengambil alih sebagian besar perkebunan ini untuk ditanami
sayuran.

Di sektor B ini juga, dapat kita temui peninggalan sejarah seperti Arca Domas dan makam tentara Jerman, beberapa Curug yang masih alami, Tapos, beberapa base camp outbound,
workshop keramik FX Widayanto dan kebun – kebun organik serta hutan – hutan yang masih menyimpan flora dan fauna yang beragam seperti jenis – jenis anggrek, Monyet ekor panjang, Owa Jawa, babi hutan, tupai, musang, elang Jawa, burung puyuh gonggong Jawa, cekakak sungai, cucak kutilang dan tekukur.

Pengolahan kebun dan sawah yang ekspansif menjadi ancaman tersendiri terhadap keanekaragaman tersebut.....

Akhirnya, sampai juga saya di Nangleng...

 Waktu itu hari Minggu  kami bertiga : saya, om Agung dan om Ro'uf  berangkat  sekitar pukul 7.30 dari Kompleks Hero / Giant Pajajaran. Semula, om Guntur, kang Bagja dan om Oki akan bergabung juga tetapi karena ada kesibukan akhirnya kami bertiga yang berangkat ke Nangleng.

Setelah menyempatkan diri sarapan, kami bertiga berangkat. Semula saya usulkan naik
angkot saja sampai Nangleng dan di Nangleng barulah kita mulai eksplorasi rute, tetapi om Agung dan om Ro'uf mengusulkan alternatif nggowes dari meeting point : Alamaak.....batin
saya..... tetapi ya apa boleh buat.....

Kami bergerak menuju Tajur – Pertigaan Ciawi. Udara masih segar sisa hujan semalam.  Lalu lintas padat : angkot, sepeda motor, mobil pribadi, orang – orang bersepeda.....mendekati pertigaan Ciawi, lalu lintas semakin ramai dan jalan semakin menanjak...

Selepas pertigaan Ciawi, kami  belok kanan ke arah Sukabumi. Jalanan semakin ramai dan semakin menanjak juga. Tetapi inilah nikmatnya bersepeda : selap selip, meliuk – liuk diantara kendaraan, kalau perlu ambil kiri full lewat celah – celah jalan yang mustahil dilewati
kendaraan lain .....

Selepas
Cikereteg, jalan yang menanjak berubah turun........ Waaah....turunan panjang
nih....dan turunan panjang itu berakhir di pertigaan Cimande. Waktunya belok
kiri !

Kami belok kiri setelah melewati jembatan baja pertama.

Gunung Pangrango mulai terlihat dan jalanan yang tadi didominasi kendaraan besar sekarang
didominasi sepeda motor dan pick up terbuka... Udara mulai lebih dingin dan jalanan menanjak terus, mirip jalur ke Sukamantri.

Kami melewati
kampung Sasak Dua, kampung Cimande Girang menuju Kampung Nangleng : sampai
batas jalan aspal habis !

Tapi tanjakan seolah – olah tidak pernah habis. Saya sebagai 'penikmat' tanjakan menikmati
perjalanan dengan menggenjot sepeda pelan – pelan (hehehe)....sementara om Rouf dan om Agung – dua raja tanjakan itu – sudah menghilang entah dimana di depan. Beberapa kali saya mengambil pit stop liar karena hidung yang buntu perlu dilegakan (sorry....saya flu ). Tapi bersemangat lagi melihat Pangrango di depan yang dengan indah menampakkan diri... sementara di belakang, gunung Salak tersenyum melihat saya mengejar dua raja tanjakan yang sudah hilang melesat di depan....

Akhirnya, sampai juga saya di Nangleng...

Waktu itu sekitar pukul 9.30.....



Setelah istirahat
minum teh manis yang hangat, membuka peta dan bertanya ke warga setempat, kami
melanjutkan perjalanan dengan asumsi 
bahwa kami menuju Pancawati....

Kami mengarahkan
sepeda melewati rumah – rumah penduduk, kandang kambing, kebun – kebun kol yang
rapat dan belok kanan.....tiba – tiba lanskap indah membentang dihadapan kami :
lembah yang  dihias sawah – sawah terasiring
geometris berderet rapi,  hijau dengan
sungai cimande yang berkelok di tengahnya adalah kontras bagi hutan pinus
dipuncak – puncak bukit dan Pangrango yang perkasa pagi itu berkabut
misterius....

Udara lembah yang segar dingin membuat kelelahan terlupakan sejenak.


Kami pun turun kearah lembah. Berhenti di jembatan kecil terbuat dari beton dan melewati
pematang – pematang sawah menuju ke seberang : kampung Bangrung. Di jalur ini,
sepeda harus rela tidak digowes. Kami berharap ,  di atas ada jalan sejajar dengan kontur bukit sehingga kami tidak terlalu berat memanggul sepeda.

Tapi apalah daya, manusia berharap, Allah yang menentukan, jalan yang kami temukan adalah jalan setapak naik lurus menantang ketinggian bukit. No genjot, GGS (Gotong – gotong Sepeda) only....

Akhirnya kami bertiga ber-GGS ditonton orang – orang yang memandang kami dengan ekspresi : "Mas – mas......sampean ini jauh – jauh kesini kok ya cuman buat manggul
sepeda, apa ya nggak ada kerjaan lain ?"

But show must go on.....

Kami pun ber GGS melewati jalanan setapak berundak  yang licin sisa hujan  tadi malam.

Akhirnya,
sampailah kami di sebuah musholla ......

Saya membayangkan, kalau saya bawa "My Black Scott"....walah.....ya ampun – ampunan
saya melewati tanjakan dan jalur GGS tadi......

Setelah istirahat, kami melanjutkan perjalanan lagi....ke Pancawati.

Tanpa babibu...kami langsung belok kiri dan berhenti di sebuah gardu pandang yang menghadap lembah. Kampung Nangleng terlihat di seberang..... indah menakjubkan....

Perjalanan kami teruskan melewati jalan  makadam menurun, melewati kampung. Setelah agak jauh, saya merasa bahwa jalur yang kami lewati salah.... Apakah ini euphoria jalan turun setelah tadi habis – habisan GGS ?

Akhirnya saya
berhenti dan bertanya ... "Pak, jalan ini tembus kemana?"

"Ke Cimande Talang, pak....." jawab mas – mas yang saya tanya.....

Waduuh...itu khan pertigaan Cimande tempat kami masuk tadi.....

Mau mbalik naik ? Waaah, ampuuun....

Akhirnya kami putuskan on road lagi lewat raya Sukabumi menuju Bogor....

Nanjak lagi, macet lagi malah siang itu macetnya lebih ampun ampunan........

Seperti biasa, saya menikmati tanjakan dan dua raja tanjakan melejit meninggalkan saya......

Dalam perjalanan pulang menjelang Cikereteg, om Agung terjatuh dengan sebab – sebab yang sampai sekarang masih misterius.... tapi akibatnya lumayan juga : otot betis kiri
tertarik sehingga terasa nyeri setiap dipakai menggenjot pedal.....

Tapi biar pun begitu, gowes tetap jalan !

No pain, no
angkot....

Luar biasa....

Saya  terus via Air Mancur, sementara om Agung
& om Ro'uf pulang via Jambu Dua.

Pukul 13.21, saya sampai kembali di rumah.


Cyclometer menunjukkan 66,1 km jarak yang sudah ditempuh....

Alhamdulillah....akhirnya  jadi juga saya ke Nangleng .....

Dan hutan – hutan Pinus di Gigir Pancawati membayang,

memanggil – manggil saya untuk kembali.......



Foto - foto silahkan diintip di : 

http://myunuswb.multiply.com/photos/album/43

 





Photo AlbumGara - Gara Benang Layang - Layang (7 photos)Jun 16, '08 4:04 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Minggu sore kemarin sebetulnya tidak ada rencana nggowes karena badan agak 'hangat' setelah hampir seminggu turne (turu mrono mene = tidur disana disini).
Berhubung sudah menyanggupi ajakan pak Bram (TCC), jadilah saya dan pak Bram (mestinya 4 orang yang ikut nggenjot) nggowes dengan tujuan 'jalur cepat Sawit'. Jadi kalau berangkat 15.30, Insya Allah pk. 17.30 sudah sampai rumah.

Selepas TSP menuju Kayu Manis, saya lihat ada belokan single track turun yang belum dicoba....Akhirnya, jadilah kami nggowes explore di rute belakang rumah.

Ternyata single track-nya maknyus juga. Naik - turun lewat jembatan bambu segala. On road ada, off road ada juga. Rutenya juga sama sekali baru, lha wong explore trial 'n error. Salah jalan ya mbalik. Begitu....

Akhirnya, saya lewat di jalan yang banyak anak-anak main layang - layang. Wuiih...ngeri juga kalau leher kena benang gelasan yang tajam itu ; dengan penuh kewaspadaan akhirnya kami lewat dengan selamat.

Disatu belokan lewat empang - empang, kami TTB ditonton anak-anak yang heran karena ngambil rute 'tidak umum'....lha ada jalan mulus kok ya milih TTB via empang.....

Lepas empang itu, horror terjadi...Waktu pedal digenjot, lha kok keras...Saya paksa karena biasanya karena shifter kepencet waktu TTB. Satu dua kali tetep seret terus ada suara "BLETHAK" dan saya lihat, RD SRAM saya sudah tergantung dengan manis....

YA ALLAH, GUSTI........saya sudah membayangkan akan panjangnya sidang dengan komisi anggaran untuk mengajukan dana non budgeter mengganti RD baru, panjangnya lobi - lobi dengan dua anggota yang biasanya minta disuap Mc D atau AW....

Fiuh....saya bernafas lega karena tidak terjadi kerusakan apa-pun dengan RD kesayangan saya...hanya anting yang patah (ini anting home made produksi Semplak)....

Saya lihat segumpal benang membelit di RD. Sungguh terlaa...luu.... kenapa saya nggak cek 'n ricek tadi, yaa?
Untung - orang Jawa selalu untung - pak Bram membawa anting cadangan dan operasi mengganti anting sukses dilalui dengan ditonton anak-anak....

Hikmahnya :
1. Jangan sepedaan dekat anak2 main layang - layang
2. Jangan percaya dengan 1 anting RD ...jadi selalu bawa cadangan
3. Jangan lupa cek 'n ricek kondisi sepeda
4. Jangan menganggap enteng trek meskipun di ' belakang rumah '
5. Jangan lupa, SRAM ternyata memang kuaaat.....hehehe....
6. Jangan lupa selalu mengantungi tool kits
7. Jangan kapok sepedaan...
8. Jangan lupa belajar repair sepeda (ganti ban, pasang + stel FD - RD, stel rem )
9. Jangan lupa bawa kamera....( untung ada kamera HP.... )

ddd
dThumbnaild
ddd
A. TCC’ERS (alphabetical order ….) :
1. TCC - AGUNG
2. TCC - ARIFIN
3. TCC – BRAM
4. TCC – DANI
5. TCC - GUNTUR
6. TCC - HASBIE
7. TCC - ROUF
8. TCC - SANTO
9. TCC – YUNUS

B. RUTE :
Wr Puncak Pass – Paralayang – Tmn Safari – Ngehe’ – Wr Ngehe’ – Gadog – Katulampa - Hero – Pajajaran – Jambu Dua – Hypermart Kedung Badak - TSP

C. JARAK TEMPUH : LK. 48,5 KM

D. GENJOT TIME + WAKTU ISTIRAHAT : (LK) 7 jam 40 menit (8.13 – 15.53)

Setelah melalui konferensi yang (tidak seperti biasanya ) adem ayem, akhirnya TCC jadi hajatan HARKITNAS dengan nggenjot RA – Gadog via Ngehe’. Hanya 9 orang dari rencana yang sekitar 10 - 12 orang.
Setelah standby mulai jam 5.15, sebagian TCC baru nggenjot sekitar jam 6.00 ke WarJam (Warung Jambu ) karena angkot yang biasa melayani TCC diembargo pak Bram. Jadi nggenjot kali ini dievakuasi dengan truk ke RA.
Sekitar jam 6.30, sampai di starting point disambut TCC’er yang lain dengan agak manyun. Hehehe….ampun jam karetnya. Soal jam karet, mungkin ada yang bisa menjelaskan ? hehehe….

Setelah sepeda naik dan penumpangnya naik dengan konfigurasi seperti ikan sarden, truk langsung tancap gas ke RA. Tiada halangan yang berarti. Bahkan polisi pun tidak. Akhirnya kami sampai dengan selamat di RA. Cuma butuh waktu untuk bisa berdiri meluruskan kaki, karena selama 1 jam lebih nggak bisa bergerak di truk…..

Setelah sarapan dan ber say ”Hello” dengan MTB’ers Tangerang yang salah satunya kolega pak Bram, TCC’ers mohon pamit berangkat duluan.....


ETAPE 1 : Warung - Paralayang

Etape 1 dilewati tanpa halangan. Hanya sepeda saya rasanya agak aneh. Apa karena ban belakang saya ganti kemarin, ya? Nggak mantep seperti biasa, tapi rasanya melejit kekanan dan kekiri. Rombongan terpisah menjadi 2 dan saya ditengah – tengah.
Turunan yang lumayan curam di akhir etape akhirnya sukses dilewati semua TCC’ers….
Tumben nggak ada yang ngajak narsis foto – foto, padahal pemandangannya (seperti biasa) sangat bagus…..


ETAPE 2 : Paralayang – Single Track Saluran Air

Diam-diam, etape ini selalu membuat saya agak grogi. Pertama, belokan- belokannya lumayan tajam dengan sisi sebelah kanan lumayan curam dan yang kedua, seluruh jalan adalah makadam yang batu – batunya sudah lepas. Ditambah faktor licin juga. Hmm lengkap bukan sebagai rute ideal ?
”Siksaan tambahan” bagi saya pribadi adalah mengganti ban belakang tanpa tes sebelumnya. Jadi, meskipun sudah memakai FS dan gaya berat tubuh sudah ditarik kebelakang, tetap saja sepeda yang saya pakai melejit kekanan kekiri.
Pada belokan terakhir, saya agak ragu, mau stop di tempat kloter I (Om Agung, Om Guntur, Om Santo ) berhenti atau terus saja mencari pit stop yang lebih aman, padahal sepeda sudah meluncur kencang. Karena saya melihat ada sedikit tanjakan ditempat kloter I berhenti, akhirnya saya teruskan saja. Tapi ampuun, sepedanya nggak melambat dan karena kuatir menabrak, handle rem saya tarik kuat-kuat. Ciiiet......Hasilnya: ban depan terkunci dan saya pun terbang nyungsep di semak – semak teh diikuti sepeda yang terbang juga di atas saya. Sungguh ter...laa...luu.....

ETAPE 3 : Single Track – Gunung Mas

Saluran air dilewati tanpa kejadian berarti. Karena masih ’trauma’, beberapa tempat saya menggunakan jurus TTB, hehehe. Rasanya baru plong setelah masuk area kebun teh Gunung Mas. Setelah regroup, kami berangkat lagi. Tapi belum jauh, pak Hasbie yang ada didepan saya berhenti sambil terus mengambil sesuatu yang sepertinya jatuh. Semula saya pikir kaca mata milik salah satu TCC’ers yang sudah berangkat duluan, eeeh ternyata sadel pak Hasbie lepas. Lebih surprise lagi, lepasnya sadel itu karena baut pengikat sadel ke seatpost patah menjadi 2 bagian. Ampuun......
Kalau ban bocor atau rantai putus, sudah biasa....kalau sadel lepas karena baut seatpost patah? Ini baru luar biasa......

Masing – masing sepeda diperiksa barangkali ada baut yang cukup panjang dan bisa dikanibal. Ada baut pengikat reflektor di sepeda pak Arifin tapi ternyata terlalu pendek. Saya sudah membayangkan pak Hasbie naik angkot cari bengkel terdekat .....sampai akhirnya pak Arifin punya ide brilian untuk menukar baut pengikat seatpost sepedanya dengan baut pengikat reflektor. Fiuuh, ternyata pas juga. Akhirnya sadel sepeda pak Hasbie bisa terpasang kembali dengan menggunakan baut pengikat seatpost sepeda pak Arifin. Hanya saja baut itu tetap terlalu pendek dan membawa masalah pada etape – etape berikutnya.....


ETAPE 4 : Gunung Mas – Parkir Taman Safari

Setelah masalah sadel pak Hasbie bisa diatasi kami segera meluncur ke arah Taman Safari. Nggenjot nanjak lumayan setelah menikmati turunan panjang. Gunung Mas ramai dengan orang – orang yang berlibur tanggal merah Waisak. Belum lepas dari area Gunung Mas, sadel pak Hasbie bermasalah kembali, tapi berhasil diatasi dengan mengencangkan mur baut sadel.
Akhirnya di bengkel motor, kami berhenti. Kali ini untuk mengganti baut seatpost darurat yang terpasang di sadel pak Arifin dan sudah tidak bisa diselamatkan.

ETAPE 5 : Parkir Taman Safari – Top Ngehe’

“Dorong Om…dorong Om…” Mengiringi kami mulai dari parkiran Taman Safari. Ojek sepeda sepertinya kok tambah banyak saja. Masing – masing rebutan mencari mangsa. Untung saja TCC’ers tetap kukuh sampai akhir. Nggenjot atau TTB yang penting tanpa ojek. Biar pun nanjak atau pun becyek (Cinta Laura mode On ).
Setelah nggowes, (terpaksa) TTB.... hehehe dan gowes lagi. Akhirnya sampai juga di Saung Seng I. Setelah foto – foto dan mengisi perut sambil membayangkan makan nasi padang hangat – hangat, akhirnya TCC’ers nanjak lagi ke Saung 2. Tetep dengan jurus gowes ’n TTB. Istirahat lagi dan lanjut lagi sampai Top Ngehe’. Fiuh. Jalannya ampun – ampunan.


ETAPE 6 : Ngehe’ Top – Ujung Makadam

Sampai di Top Ngehe’ wajah yang tanpa ekspresi mulai tersenyum lagi. Bayangan turunan sampai Gadog sudah terbayang...... Apalagi sudah jam 12.00, waktunya makan siang. Setelah memulihkan stamina, kami berangkat lagi dengan semangat. Perjalanan pulang selalu menimbulkan semangat, bukan? Tapi jalannya ternyata ampun – ampunan, rusaknya. Apalagi di turunan kebun sayur. Bekas – bekas ban motor menimbulkan alur yang dalam apalagi batu – batu makadam yang lepas disana – sini. Di rute ini, mendung semakin tebal sampai akhirnya hujan sangat deras di area hutan. Ternyata hujan deras dan jalan yang licin masih ketambahan sadel pak Hasbie yang lepas lagi. Sampai di bangunan yang tidak terpakai, operasi darurat dilaksanakan. Ternyata satu sisi mur yang mengikat sadel sudah halus sehingga menggunakan jurus Side B karena tadi memakai Side A.
Perjalanan diteruskan kembali. Hujan tetap turun dengan deras bahkan semakin deras karena kami masuk area kebun teh yang terbuka. Sampai di dekat tower hujan buatan kembali sadel sepeda pak Hasbie lepas kembali dan setelah saya cek, drat murnya sudah habis sama sekali. Khabar baiknya, diujung aspal ada bengkel. Khabar buruknya, pak Hasbie harus TTB sampai ujung aspal. Dan jaraknya ? Ampuun dijee....
Akhirnya dikeluarkanlah jurus darurat : menggunakan kabel ties !
Kebetulan saya dan pak Bram bawa kabel ties. Sadel pun diikat dengan kabel ties ke seat post. Belum cukup? Diikat pakai kawat juga...hihihi..... Darimana kawatnya? Itu rahasia kami berempat.......
Setelah melewati hujan, turunan dan makadam hancur, akhirnya sampai juga kami di ujung aspal mulus. Bengkelnya juga ketemu ! Tapi hujannya masih tetap turun.


ETAPE 7: Ujung Makadam – Gadog

Rute Ujung Makadam – Gadog full dikebut. Tapi hujan derasnya minta ampun. Rombongan terpisah menjadi 2 kelompok besar. Saya, pak Bram, pak Arifin dan
( juga) pak Hasbie di belakang sementara yang lain sudah melejit jauh di depan. Mendekati Gadog, sadel pak Hasbie bermasalah lagi tapi untung ada bengkel sehingga segera bisa diatasi.
Rombongan I saya pikir menunggu di Gadog, tapi ternyata tidak. Akhirnya kami berempat melewati Katulampa dan istirahat sebentar di warung bakso. Lumayan buat tambahan energi nggowes ke Tamansari.
Sekitar jam 4 sore, kami kloter II sampai di TSP dengan selamat. Lapar, lelah dan basah karena hujan tapi puass......
Minggu depan, rute Gunung Batu – Pura sudah menunggu....... Katanya tanjakannya nggak kalah sama Ngehe’.........
Ampuuun.......

ddd
dThumbnaild
ddd
Foto - foto hasil nggenjot ke Sawit kemarin (Sabtu, 10 Mei 2008). Laporan bisa diintip di http://myunuswb.multiply.com/journal/item/39/MENJELAJAH_SAWIT_VIA_CANDALI_BARENG_GCC_YCC_DAN_BCC.....

A. TCC’ERS (alphabetical order ….) :

1.      TCC -  ADI

2.      TCC - AGUNG

3.      TCC – AGUS R

4.      TCC –  ANTO

5.      TCC – DANI

6.      TCC – GUNTUR

7.      TCC – HASBIE

8.      TCC - IMAN

9.      TCC – ISMU

10.  TCC - KAMAL

11.  TCC -  SYAIFUL

12.  TCC –  YUNUS

13.  GCC – BAGJA N (GCC= GUNUNG BATU CYCLING CLUB J)

14.  GCC – DHANIS W

15.  GCC- HARIS

16.  GCC – LUKMAN  H / OKKY

17.  GCC – PETRUS SURYADI

18.  YCC – ACO (YCC= YASMIN CYCLING CLUB J)

19.  YCC – KAMTO

20.  YCC – RENDI

21.  YCC -  REYMOND

22.  YCC – WIDODO

23.  BCC – SANTO (BCC= BVC CYCLING CLUB J)

 

B. RUTE :

Tamansari Persada – Kampung – Jemb. Bambu –Jl Raya Parung – Kemang Kiara – Candali – Bubut 1 – Bubut 2 – Tanjakan Semen -Kemang Kiara – Jl Raya Parung – Sholeh Iskandar -  Tamansari Persada

 

C. JARAK TEMPUH : 32,5 KM

    

D. GENJOT TIME  + WAKTU ISTIRAHAT : LK.  6 jam 30 menit (7.00 – 13.30)

 

Genjot kali ini diluar dugaan mencapai rekor dalam jumlah peserta, tercatat pada awal start dari rumah pak Ismu yang sudah repot – repot menyiapkan sarapan, ada sekitar 22 MTB’er yang berangkat ke Sawit. Sekian banyak peserta ini berasal dari TCC ( 12 orang), om Haris CS dari Gunung Batu (5 orang) dan om Aco Cs dari Yasmin (5 orang) dan om Santo dari Bukit Cimanggu Villa.

 

 Saya pribadi agak kuatir karena semalam,  Bogor habis disiram hujan besar dan biasanya setelah hujan, rute sawit sebagian besar tidak bisa dilewati, kecuali dengan TTB…..

Akhirnya disepakati, goweser melambung saja ke Candali untuk mencari trek yang aman.

Kami berduapuluh dua melewati rute klasik via makadam kearah Billabong, tapi sebelum kebun  bambu, kami melewati pertigaan belok kiri via Jl. Prihatin, empang dan jembatan bambu sampai muncul di jalan aspal sesudah pom bensin Billabong. Sampai disini, jumlah peserta berkurang 4 orang (pak Iman, pak Hasbie, om Agung dan om Guntur) karena harus balik. Setelah terus ke Kemang Kiara, peserta berkurang  2 lagi, karena pak Adi dan Ustadz Kamal harus balik juga, tetapi ada pak Agus Rohman yang menyusul kemudian.

Udara segar sekali, jalanan mulai ramai karena orang-orang berangkat kerja atau sekolah. Jalanan on road yang mulus membuat  sepeda enak dipacu, tetapi di Masjid setelah turunan Pabuaran, rantai sepeda om Reymond  dari Yasmin putus, dan lebih parahnya, RD-nya juga mengalami masalah sehingga harus diganti single speed. Tapi dengan pertimbangan kondisi medan yang akan dilalui, terpaksa om Reymond mengundurkan diri karena kuatir kerusakan menjadi lebih parah.

Kami berenam belas kembali memacu sepeda kearah gerbang Candali.  Cuaca masih mendung. Sebelum gerbang Candali, kami melakukan pit stop lagi untuk mengisi cadangan air minum, mengisi perut dan membuktikan kebenaran gossip dari pak Syaiful tentang teteh yang katanya manis, hehehe.....

Apakah gossipnya terbukti? Pak Dani dalam beberapa menit sudah mengajukan sanggahan ke pak Syaiful, hahaha.....

Melewati gerbang Candali, genjot yang sebenarnya dimulai. Jalan mulai menanjak dan makadam berubah menjadi jalan berbatu – batu lepas. Bekas-bekas ban truk yang melewati jalan berlumpur dan mulai mengering kadang juga menjebak ban sepeda. Setelah melewati pertigaan kedua, jalan makadam berubah menjadi jalan tanah menanjak. Jejak truk yang dalam juga semakin menyulitkan. Nafas mulai berat dan keringat mulai membasahi jersey, tetapi pemandangannya juga mulai mengasyikkan. Sawah – sawah dibawah mulai kelihatan, juga hamparan sawit yang hijau. Hmm, udaranya juga masih segar.....

Sampai di pertigaan, kami melakukan pit stop untuk menormalkan nafas yang sudah tidak teratur. Lumayan juga, ternyata yaa.... Sampai di pertigaan ini, om Petrus Suryadi  harus balik ke Bogor karena ada keperluan. Wah sayang, Om. Padahal diatas banyak sekali obyek foto menarik.....

Perjalanan dilanjutkan menuju Hill 1. Jalanan yang biasanya berumput, sekarang sudah dipangkas bersih....tapi, lhaa jalan ke Hill 1, mana? Jalanan single trek yang biasanya jelas, sekarang dipenuhi semak dan rumput . Mau terus melewati jalan besar, rasanya nggak afdol tanpa melewati Hill 1 yang terkenal itu. Akhirnya dengan patokan GPS, saya menerabas jalan yang sepertinya single track. Setelah jalan, baru ketahuan kalau ada selisih jarak antara jalan masuk dengan jalan yang biasanya dilewati TCC. Waduh, lumayan juga TTB dan angkat – angkat sepedanya.....tapi Alhamdulillah, mendekati Hill 1, mulai kelihatan jalur yang sebenarnya harus dilewati, tapi lhaa kok diatas sana ? Wah, memang benar-benar salah masuk tadi.....

Akhirnya, kami sampai juga di Hill 1. Udara mulai panas, dikejauhan, Hill 2 sudah menunggu kami..... pemandangan bagus….. hmmm….Saya harus bersyukur karena dengan nggenjot kurang dari 1 jam dari rumah, saya sudah bisa menikmati trek lengkap seperti Bubut hill ini….

Setelah istirahat sekitar 20 menit, kami siap-siap mencoba turunan bubut 1. Turunan ini berupa jalan tanah  lurus menuju bubut 2 dengan kemiringan berkisar antara 20 o – 30o . Turunan sebagai bonus setelah tadi nanjak… Meskipun tetap harus hati – hati karena sering ada lubang atau batu…. di tengah jalan, apalagi sekarang jalan tersebut didominasi rumput – rumput tebal.

Alhamdulillah, kami sukses melewati turunan tanpa ada hambatan atau musibah terjatuh…

Tujuan berikutnya : Hill 2. Untuk mencapai Hill 2, kami harus melewati jalan makadam batu lepas yang menanjak dan ’siksaan’ yang cukup menyiksa adalah  cuaca yang panas. Angin pun tidak cukup mendinginkan sehingga beberapa goweser terpaksa istirahat dulu di bawah pohon – pohon  sawit.

Setelah belok kiri melewati jalan tanah, jalan makadam berubah menjadi jalan tanah, tapi masih ada tanjakan akhir sebelum masuk single track jalan rumput, mengikuti single track dan pemandangan sebelah kanan berubah menjadi sangat indah. Bagian depan terhampar kebun sawit yang luas dan hijau, bagian belakang ada hamparan hijau diselingi atap atap rumah dan bangunan dan jauuh dibelakang, lanskap kota Jakarta berdiri membentang dari ujung timur ke barat......hmmm tempat yang cocok buat NR, bukan?

Setelah foto-foto, kami siap-siap down hill. Jalanan Single Track didominasi rumput tebal di kanan kiri, tapi karena itu, bonggol karet dan batu yang tersembunyi menjadi sumber bahaya tersembunyi.

Beberapa kali saya berhenti untuk menandai ranjau bonggol karet dan batu yang tertutup rumput. Alhamdulillah, semua lewat dengan sukses….

Setelah turunan hill 2 dan sampai pertigaan kami putuskan untuk belok kiri. Hill 3 yang sudah menunggu kami terpaksa harus menunggu lagi di kesempatan berikut, karena stamina dan bayangan sop kambing sudah benar – benar menggoda. Belok kiri, artinya menikmati turunan yang panjang sampai tanjakan beton…hajar, bung….

 

Tapi tunggu dulu...ternyata turunan sawit tadi memakan korban !  Ban sepeda om Santo dan teman dari GCC menjadi korban duri sawit ! Untung ada ban dalam cadangan sehingga masalah dapat segera diatasi.

 

Setelah ban dalam diganti dan ngobrol dengan 3 bapak – bapak goweser dari Pamulang, kami segera tancap gas kearah Kemang Kiara. Full speed karena turunannya mantap, slow down melewati tanjakan semen dan belok kanan masuk jalan Kemang Kiara lagi...

Alhamdulillah, tidak ada yang jatuh atau cedera.....

Perjalanan ke Sawit siang itu ditutup dengan acara makan siang bersama di sop kambing depan Jembatan Timbang Salabenda. 

Terima kasih pak Ismu yang sudah repot – repot menyiapkan sarapan. Terima kasih buat teman2 TCC, GCC, YCC dan BCC.  Sampai jumpa lagi di acara nggenjot berikutnya........

Blog EntryWhy Do You Love Biking So MuchMay 8, '08 6:55 AM
for everyone

Ini salah satu topik di sepedaku.com ( 153 posting dan dibaca sebanyak 3259  kali !! per hari Rabu 7 Mei 2008 ).

Kalau pertanyaan yang sama diajukan kepada saya, waah jawabannya bisa panjang karena harus flashback ke masa – masa puluhan tahun yang lalu….Naah…..

Saya ingat, dulu saya bisa sepedaan itu kelas 1 SD, perlu belajar selama 3 hari keliling lapangan bola samping rumah dan entah berapa puluh atau ratus kali jatuh untuk menguasai sepeda mini warisan kakak perempuan saya.

Hari keempat, setelah bisa jalan dengan lurus, waduuh senengnya bukan main. Langsung keliling kampung dan beberapa kali nabrak…..hehehe….yang jelas dan bekasnya tertinggal sampai sekarang, adalah waktu nabrak tembok tetangga dan dengkul saya sukses mendarat di pinggiran got…meninggalkan tanda di dengkul saya sebelah kiri….

Tapi karena seneng ya biarpun jatuh, ya tetep senyum aja, hehehe….dan itu terbawa sampai sekarang…….

Setelah itu, radius jarak jelajah saya melebar drastis sampai area puluhan km2, tapi berangkat  dan pulang sekolah masih jalan kaki, 8 km PP karena bapak ibu masih nggak tega melepas saya yang (dulu) imut itu menjelajahi jalan besar melawan kendaraan kendaraan yang lebih besar…..

Saya baru diijinkan naik sepeda sekitar kelas 5 SD, tetep dengan sepeda mini kesayangan yang sudah bulukan, tapi menginjak kelas 6 SD, sepeda saya di-upgrade menjadi sepeda jengki Phoenix  lungsuran kakak….yaa nasib si bungsu itu khan selalu menerima lungsuran thoo?

Tapi dengan si jengki itu, saya ‘n the gank mengeksplorasi sisi – sisi Banyuwangi sampai ke blusukan – blusukan yang sebelumnya tidak terbayangkan. Waktu itu, belum kenal istilah single track, offroad, on road yang penting sepedaan. Tapi hobi saya waktu itu adalah menyusuri sepanjang pantai Banyuwangi dari arah kota ke pelabuhan Ketapang bahkan sampai ke pantai Watudodol  yang jaraknya lumayan itu…..

Alhamdulillah, kelas 1 SMP, saya dapat hadiah sepeda BARU !!  Wuih mantap bener. Saya inget benar, merknya NITAKA...dan butuh waktu beberapa minggu untuk melepas si NITAKA dari sebelah tempat tidur saya, hahaha.....

Ini dalam pengertian sebenarnya, karena sejak pertama beli, sepeda itu kalau malam diparkir di dalam kamar, di sebelah tempat tidur saya, hehehe......

Sepeda balap, waktu saya SMP itu, menjadi semacam status simbol. Rasanya keren benar berangkat dan pulang naik sepeda sambil balapan melawan Raleigh, meskipun NITAKA saya itu kalau diketuk bunyinya TING – TING nyaring bener, hahaha.....but show must go on..... ekses – eksesnya terlalu panjang untuk diceritakan disini nanti malah jadi roman, hihi...

Sampai kelas 1 SMA, saya menggunakan NITAKA saya itu untuk transportasi ke sekolah, setiap Minggu juga saya bongkar sendiri untuk dibersihkan dan   di-grease  ulang. Lengkap mulai BB, hub, fork. Sampai sekarang saya heran, kenapa ya Bapak atau Ibu tidak pernah protes kalau sepeda saya itu saya bongkar habis hampir tiap minggu.....

Hobi saya mulai berubah menginjak akhir-akhir kelas 1, waktu itu masa-masa para gadis demam dengan Anita Cemerlang dan mengidamkan sang pujaan adalah seorang pendaki gunung dengan jaket kumal yang menyandang carrier di pundak.... tidak lupa membawa edelweis yang nanti akan dipersembahkan baginya.....

Mulailah saya terlibat aktif di dunia ke-Pecinta Alam – an, meskipun  waktu itu daerah eksplorasi saya & rekans hanya domestik disekitar  Pegunungan Ijen saja yang paling dekat rumah. Tapi lumayan juga, lhoo...saya pernah ikut eksplorasi dengan jalan kaki dari Banyuwangi – Ijen – Bondowoso yang lumayan juga melepuhkan telapak kaki....

Avonturir seperti itu bertahan sampai akhir kuliah, meskipun wilayah eksplorasi saya masih sebatas di Jawa Timur saja, sepedaan masih jalan meskipun itu sebatas pinjam sepeda untuk puter-puter kampus setelah suntuk menggambar di studio.....

Beberapa tahun yang lalu setelah sempat vakum dari kegiatan eksplorasi karena setelah selesai kuliah langsung sok sibuk kerja dan langsung disibukkan mengurusi ’anak orang’, mulailah terasa ada yang hilang waktu melihat ransel kesayangan, melihat foto-foto lama waktu di Semeru, tapi kalau sekarang naik gunung rasanya sudah lumayan ribet exit permitnya karena pasti akan meninggalkan orang rumah. Akhirnya.....kenapa nggak main sepeda aja? Yang jelas sehat, eksplorasi juga ada,  tambah sahabat juga dan yang pasti, kenangan waktu saya balapan dengan si Raleigh dan waktu saya jatuh ke got sampai berdarah-darah, masih jelas tergambar sampai sekarang.....

Jadi, kesimpulannya ? Why Do You Love Biking So Much ?

 


ddd
dThumbnaild
ddd
Setelah beberapa minggu nggowes di dekat-dekat rumah, acara nggowes ke TW disambut meriah oleh TCC'er & rekan. Terbukti hari Minggu kemarin, rumah Gus Iful meriah seperti hajatan apalagi waktu datang konvoi 4 angkot...wuih bener-bener ramai....

Kami ber-enam belas (nanti ber-tujuh belas setelah om Ian bergabung di Taman Safari ) berangkat pukul 6.30 lebih. Agak kesiangan karena harus menunggu beberapa TCC'er. Acara nggowes kali ini lebih mantap, karena pak Yusuf yang lama absen akhirnya datang juga....

Diselingi angkot yang ndut-ndutan dan kejebak jalan yang mulai ramai, akhirnya kami sampai di Pos I sekitar pukul 8.00. Rakit ulang sepeda, ada yang sarapan, ada yang setor, ada yang ngelamun, ada yang pemanasan....sekitar pukul 8.30, TCC & friends start menuju TW trek...
Trek TW hari Minggu kemarin khusus dibooking oleh TCC, jadi sepanjang jalan sampai finish nggak ketemu goweser lain...

Setelah masuk gerbang TW, insiden pertama terjadi : rantai sepeda pak Zaki putus karena nggak sanggup menahan power yang sedemikian besar....
Karena di urutan buncit, akhirnya pak Syaiful dan saya yang menemani pak Zaki, TCC'er yang lain sudah melejit karena tidak tahan melihat turunan mulus di depan...
Setelah rantai sepeda pak Zaki bisa dibereskan, kami menyusul rombongan yang sudah melejit di depan.

Trek TW agak berbeda dibandingkan RA. Trek TW didominasi jalanan makadam naik turun yang relatif seimbang. Didominasi batu-batu lepas hampir sepanjang perjalanan, nyaris tanpa single trek yang cihui mantap, kecuali nanti di turunan pinus...
Harus diakui, pemandangan alam TW lebih mantap punya...kalau pas di punggungan bukit dan kita melihat sekitar.......Maha Besar Allah yang menciptakan keindahan ini.....
Beberapa kali saya berhenti - terutama di tanjakan - untuk mengagumi indahnya trek TW sambil mengatur nafas (hehehe.....ada aja alasan...)

Setelah sampai di pos sekolah, perjalanan dilanjutkan melewati tanjakan yang berhenti di pertigaan. Trek di GPS saya mengatakan, silahkan ambil kanan atau kiri....Saya coba konfirmasi ke om Ian dan Pak Ismu, akhirnya disepakati ambil jalan kiri....
Setelah menanjak dan belok kanan, ternyata jalan tersebut berakhir buntu yang ada hanya single trek ke arah kanan. QUE SERA SERA, ....show must go on...
Pak Zaki yang jago mencari jalan hilang dengan yakin melewati single trek tersebut. Ada juga jalan pintas melewati turunan terjal, tapi rombongan pertama main aman saja melewati jalur yang lebih panjang tapi rombongan kedua (pak Syaiful, pak Ismu, pak Dani, pak Norman, pak Aco) sebagai DH'er, mencoba short cut turunan tadi.... beberapa adegan jatuh, terpeleset, angkat-angkat sepeda sempat direkam, sementara saya melacak rombongan pertama yang lepas tadi....

Entah bagaimana kejadiannya, setelah ditunggu lama tapi akhirnya datang juga, pak Ismu muncul di tanjakan sambil membawa ban belakang. "Ada masalah...." kata pak Ismu dari jauh....Saya balik kucing sambil membawa kunci pas yang katanya diperlukan....
Walah-walah....anting RD pak Ismu yang punya bakat bengkok, sekarang lebih bengkok nyaris berbentuk L.....Dicoba diluruskan tapi tetep bengkok, akhirnya diputuskan mengikuti aliran single speed....

Akan halnya jalan ke kanan dan ke kiri tadi, ternyata rombongan pertama muncul nggak sampai 500 meter dari pertigaan 'bermasalah' tadi, hehehe....

Perjalanan berlanjut melewati turunan berbatu lepas sampai akhirnya kami sampai di turunan pinus yang terkenal itu.....

Seat post diturunkan, decker dipakai, helm dikencangkan, do'a diucapkan.....mari kita turuun......tapi lha kok treknya begitu....memang benar turunan....tapi oh my god....lha itu ada akar, ada batu, ada bonggol kayu di tengah jalan? Dan waduuh...licin juga....drop off-nya juga mana tahan....belum lagi tikungan patah-patahnya..... Tapi itu kesan pertama.....beberapa tempat ada yang bisa dinikmati...beberapa tempat ada yang lebih parah dari trek awal kita masuk....
Saya yang sempat menikmati turunan, akhirnya jatuh juga karena salah ambil jalur dan membentur batang kayu yang tertutup rumput....TCC'er lain? Silahkan ditambahi cerita waktu melewati turunan pinus....yang jelas, semua merasakan jatuh, lecet-lecet dan mungkin memar-memar.... Tapi syukur tidak ada yang terluka....

Akhirnya kami sampai di jalan aspal mulus yang basah terkena hujan. Kami segera turun arah pulang ke TSP. Hujan mengiringi sepanjang jalan kearah Gadog. Beberapa tempat sangat lebat sampai wajah seperti ditusuki jarum. Sempat ada insiden rotor rem depan om Ian bengkok, tapi setelah dilepas -karena darurat- perjalanan berlanjut lagi sampai Gadog.
Dari Gadog, perjalanan berlanjut kearah TSP melewati Katulampa. Karena saya harus mengejar jadwal jam 5 harus ke Jakarta, minta maaf harus cepat-cepat dan nggak sempat menikmati sup buntut yang kondang seantero jagat TCC...
Salute buat pak Yusuf yang kembali bergabung, salute buat pak Iwan, salute buat semuanya...

ddd
dThumbnaild
ddd
TAJUR HALANG : LICIN, JATUH DAN TTB

Untuk ketiga kalinya, saya nggowes ke Tajur Halang dan uniknya, semua melewati jalur yang berbeda. Nggowes pertama, bareng rombongan B2W (Dani Cs), nggowes kedua bareng dedengkot kuliner B2W – (Budissimo Cs) dan yang ketiga – sekarang- bareng kuncen Tajur Halang, pak Oni.

Sayang nggowes ketiga kemarin, pesertanya cuma sedikit : 4 orang ( Saya, pak Bram, om Agung dan pak Oni – kuncen Tajur Halang ). Mau dibatalkan dan digeser, tapi nggak enak sama guide yang belum tentu bisa menemani minggu depan.

Hari Sabtu ( 8/3/2008) – sehari sebelumnya- pak Ismu, pak Dani dan pak Adi S sudah berangkat lebih dahulu, tetapi hanya menyelesaikan trek pendek. Pak Adi malah melejit lebih dulu ke TSP meninggalkan pak Ismu dan pak Dani yang 2 minggu ini punya hobi baru, nambal ban bocor, hehehe.....

Berdua dengan pak Bram, jam 6.00 saya berangkat dari TSP ke meeting point : LIPPO Bogor dekat kantor Walikota. Sampai disana sekitar jam 6.30, om Agung ternyata sudah sampai. Tumben sepi. Biasanya beberapa puluh MTB’er ngumpul disini untuk genjot ke Embrio atau Tajur Halang.

Jam 7.00, pak Oni datang dan kami langsung ke BTM untuk masuk angkot. Sebetulnya ada opsi nggenjot ke Meeting Point berikut tetapi, hehehe.....naik angkot waelah.....Ampun tanjakannya....

Empat sepeda sukses masuk angkot berikut penumpangnya dengan tujuan berikutnya: Patung Garuda. Tajur Halang........kami datang........


PATUNG GARUDA

Angkot dengan sukses mengantarkan kami ke Patung Garuda. Hujan besar ternyata turun sejak kemarin sore (8/3/2008). Waduh alamat trek bakalan licin, nih.....
Kami segera men- set up ulang sepeda. Cek FD, RD, rem dan tekanan ban. Walah, baru ketahuan, kampas rem belakang sepeda pak Oni sudah habis...tapi apa mau dikata the show must go on....
Berangkatlah kami berempat setelah terlebih dahulu berdo’a....semoga tidak terjadi apa-apa....


PATUNG GARUDA – PERTIGAAN

Dari Patung Garuda, kami langsung disuguhi jalan tanah yang sedikit menanjak dan licin, setelah itu belok kanan masuk single track menurun yang sangat licin. Harus hati-hati karena disebelah kiri ada jurang yang lumayan dalamnya. Lepas dari single track, kita disuguhi belokan patah yang menanjak kekiri....licin habis....ban sepeda selip dan akhirnya kami sukses TTB.....
Lepas dari tanjakan licin tersebut jalan tetap menanjak tetapi berumput, sehingga tetap bisa digowes....hanya ada beberapa bagian jalan yang diperkeras dengan batu mc adam, tapi karena bekas hujan, bagian jalan tersebut malah licin dan membuat selip ban sepeda kami.
Akhirnya kami sampai di pertigaan yang kalau kita belok kiri akan mengikuti jalur full turun sampai di Bogor Nirwana....tapi kali ini, kami belok kanan....full nanjak lagi... fiuuh....

PERTIGAAN – BAWAH SAUNG SENG / START TURUN

Belokan demi belokan dilewati dengan penuh perjuangan.....tanjakannya mantap abiss.....Pak Oni dan om Agung sudah melejit lebih dulu....saya dan pak Bram selalu setia di kloter kedua....Sampai akhirnya kami sampai di bawah saung seng. Saung Seng adalah pondok tempat istirahat para peladang yang menanami kawasan lereng Gunung Salak ini dengan sayur mayur dan buah. Gerimis sempat turun beberapa kali. Suasana juga mulai berkabut....


BAWAH SAUNG SENG / START TURUN - PATUNG GARUDA

Siap – siap turun........
Wah, saya akhirnya menarik nafas lega.....
Protector segera dipasang dan seat post mulai diturunkan....tapi, lhoo...jalannya mana?
Kami masih harus bersabar TTB karena single track-nya sudah habis digerus hujan. Lepas dari pipa air yang melintang, akhirnya tibalah saat-saat turun....tapi tetap harus dengan kewaspadaan tinggi karena di sebelah kiri ada pipa-pipa air dari bambu yang rawan pecah, jalur yang penuh batu dan disebelah kanan, banyak rumpun nanas yang sayang belum berbuah. Kalau jatuh kesitu, waduh alamat babak belur kita....
Single trek berbatu ini lumayan panjang dan full turun juga full licin....Manfaat full sus kelihatan banget disini. Kampas rem belakang yang habis membuat sepeda pak Oni mencuit-cuit mengerikan....
Etape ini diakhiri dengan turunan panjang jalan semen yang berlumut......harus hati –hati....lebih baik sepeda jangan di rem terus tapi direm bilamana perlu. Sangat berbahaya....
Tapi lhoo? Kita kok muncul di Patung Garuda lagi? Pendek amaat.....kata om Agung...


PATUNG GARUDA - WARUNG

Dari Patung Garuda, perjalanan bersambung ke kebun-kebun penduduk. Tetap single trek, hanya saja sudah lebih aman daripada trek sebelumnya....Hanya saja, menjelang on road, kita melewati single trek turun yang licin menyusuri pinggir jalan aspal. Ada beda tinggi sekitar 2 – 4 meter antara jalur offroad dan on road. Single trek tersebut berubah menjadi jalur tangga sebelum masuk on road yang turun.....Karena tidak direm dan sepeda melompat – lompat melewati jalur tangga itu, begitu on road, sepeda seperti mendapat momentum untuk melejit. Waduuh mantapp.... tapi tiba-tiba ada yang terlompat dari stang saya dan BLETHAKK....GPS saya jatuh. Suara blethaknya lumayan keras di jalan aspal.....Walah gimana nasib GPS yang sudah udzur itu? Alhamdulillah, setelah agak pusing sedikit, GPS kesayangan saya normal
kembali....

WARUNG – BOGOR NIRWANA RESIDENT

Perjalanan berlanjut lagi setelah menghabiskan beberapa kaleng Pocari, beberapa botol air minum, beberapa batang Beng – Beng dan sebungkus kacang. Kali ini rombongan bertambah menjadi sekitar 10 orang setelah grup om Jerri bergabung.
Single trek Tajur Halang di etape ini cukup unik, karena lepas dari single trek sawah dan sungai kita tiba – tiba melewati single trek diantara rumah penduduk yang padat.... Hati – hati jangan sampai salah masuk kamar rumah orang, hehe...
Di etape ini juga ada turunan –turunan pendek yang curam dan licin bersambung tanjakan semen yang juga licin. Tercatat ada beberapa insiden jatuh di jalur ini....
Beberapa jalur di etape ini juga memaksa kita untuk TTB, karena harus melewati pematang-pematang sawah sempit yang padinya baru ditanam. Melelahkan juga. Apalagi matahari sedang terik-teriknya....Akhirnya sampai juga kami di Bogor Nirwana Resident, tepatnya di belakang The Jungle.... Setelah mampir di toko sepeda om Jerri, kami bertiga terus ke arah Air Mancur - TSP, sementara pak Oni belok kanan ke Tajur.....

Perjalanan yang mantapp.....
Terima kasih untuk om Agung, om Bram, om Oni....

Photo AlbumUpload telat : NR 26 Januari 2008 (26 photos)Feb 1, '08 11:39 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Ini NR paling nekat sampai detik ini....
ALASAN PERTAMA, saya baru sampai bogor hari Jum'at sore setelah lama 'jalan-jalan' ke Jawa Timur, jadi ada alasan untuk menolak NR ini...
ALASAN KEDUA, sejak sore Bogor hujan deras dan baru reda sekitar jam 18.30. Saya bayangkan rute yang alamaak lumpurnya....
ALASAN KEDUA, ternyata banyak TCC'er yang mundur pada detik H....

Tapi semua alasan itu lewat setelah saya kontak pak Gun dan dengan semangat '45, pak Gun mengatakan (via HP): " SAYA SUDAH DI DEPAN YOGYA, PAK. IYA..NGGENJOT...SORRY....AGAK TELAT...SUDAH NGUMPUL SEMUA, YAA?"
Akhirnya saya ketularan semangat dan segera memakai sepatu.
Angin dingin. Awan bergerak cepat di sebelah barat (di atas SAWIT !!!) dan satpam yang memandang keheranan "Mau kemana, malam-malam, pak?" Saya acungkan jempol, "Jalan-jalan..."
Diatas sadel, ngoper gear depan dan belakang, menyalahkan lampu, tiba-tiba saya merasakan semacam kegairahan, saya lihat ke atas, awan gelap berarak...tenaaang sudah bawa jas hujan.......saya semakin bersemangat...
Saya juga tetep semangat meskipun tahu, kalau yang ikut NR hanya 3 orang, saya, pak Bram dan pak Gun saja...
Dengan bersemangat juga, kami ngebut tanpa mengambil pit stop ke arah gerbang Billabong...
Kami sepakat ke arah Candali karena kalau lewat musholla, bisa terjebak lumpur di awal-awal rute...Diselingi dangdutan hot sebelum Candali, kami mulai masuk rute offroad....suasana berbalik dengan rute yang sudah-sudah....disini gelap betul, dingin, dan asing.....daun-daun sawit yang melambai-lambai dan mendadak tersorot lampu terkadang seperti siluet orang yang mendadak berdiri di kiri kanan saya....hiiii......Beberapa kali, selintas saya melihat dua benda berpendar kehijauan yang bergerak mendadak di kanan saya.....mungkin luak yang mencari tikus atau ular..........
Jalanan mendadak tidak bersahabat, menanjak, berlumpur dan ada genangan air cukup dalam yang tertutup rumput. Beberapa kali kami terjebak di genangan - genangan air itu, ban sepeda menancap tidak bergerak. Saya jadi ingat rumah....ngapain nyasar-nyasar kesini, ya?
Kami sampai di Pertigaan Bubut 1, kalau ke kanan, kita bisa sampai di Hill 1, tapi kalau kita lurus, kita bisa dapat turunan panjang sebelum menanjak ke Hill 2. Kami pilih alternatif kedua....
Lagi - lagi : Jalanan mendadak tidak bersahabat, berlumpur dan ada genangan air cukup dalam yang tertutup rumput. Beberapa kali kami terjebak di genangan - genangan air itu, ban sepeda menancap tidak bergerak.
Tapi bulan mulai muncul dan kerlap-kerlip lampu yang berserak di bawah sungguh sayang untuk dilewatkan.....
Kami sampai di simpang empat dengan sukses....
Setelah istirahat sejenak, kami berangkat lagi ke arah hill 2....rute siksaan yang kalau siang benar-benar garang, malam itu sangat ramah. Angin bertiup dingin, lampu kerlap-kerlip mengiringi perjalanan kami dan yang penting, jalan yang kami duga menyiksa ternyata sangat bersahabat....
Permasalahan muncul kembali waktu kami belok kiri kearah Hill 2. Jalanan tanah yang terkena hujan menjadi bubur lumpur dan licin sekali untuk dilewati...Ban sudah menjadi donat tapi sepeda masih bisa dinaiki....
Akhirnya sampai juga kami di Hill 2.....Indah...Sunyi.....

KITA ADALAH SETITIK DEBU DI KEMAHALUASAN SEMESTA INI.......

Entah siapa yang memulai, kami tiba-tiba merencanakan menikmati purnama sekaligus matahari terbit dari Hill 2 bulan depan....


ddd
dThumbnaild
ddd
Tanggal 19 Jauari lalu, saya agak gimanaa... gitu karena biasanya Sabtu atau Minggu saya 'bergairah' karena pasti ada acara nggenjot bareng teman2 TCC. Lhaa tanggal 19 itu saya terjebak di Surabaya tanpa sepeda.
Akhirnya, saya putuskan ke kota masa-masa indah saya (hehehe) : MALANG.
Singkat cerita, saya sampai di rumah saudara di Malang, disambut keponakan yang Audzubillah semakin gemuk dan saudara2 yang beberapa abad tidak basuo, hehehe...
Lhadalah....waktu masuk garasi, pandangan saya terpaku pada sebiji Tyrano dan sebiji Hybrid Heizz (semoga salah nulisnya, hihihi...), wah rasanya seperti nemu emas beberapa puluh gram.....Wah, ternyata mas ipar saya keracunan sepeda waktu nyoba sepeda saya di Bogor dulu....
Minggu subuh, saya bangun dengan semangat '45 karena semalam diimingi trek Bedengan yang katanya maknyus nanjaknya....
Berhubung saya nggak bawa seluruh peralatan sepedaan, akhirnya beberapa part saya pinjam dari mas ipar dan keponakan, hehehe....
5.30 pas, kami start . Berdua saja.... Rute yang dipilih, pun 90% on road karena mempertimbangkan sepeda hyrid Heizz tadi....Tapi ini on road yang mantap nanjaknya dan bersih udaranya...nggak seperti Sukamantri...
Kami lewat jalan kecil beraspal bagus di sebelah rumah....rute pertama langsung turun tajam mak wuss.....tapi jangan salah....itu satu satunya turunan sebelum tanjakan tiada habis....menuju Perkemahan Bedengan...
Satu - satu landscape hijau - indah tersaji di depan mata....Gunung Arjuno , Perbukitan Panderman, Putri Tidur, Gunung Kawi..... Pagi yang indah... Sinar matahari yang hangat - hangat diselimuti udara yang dingin.....Hmmm....Apa yang lebih indah selain hal ini?
Tanjakan demi tanjakan dilewati dengan antusias...Sempat ada penanda TCC JALAN TERUS.....hehehe
Sampailah saya di daerah Petung Sewu, daerah perkebunan jeruk di kaki pegunungan Panderman....Sayang, jeruknya baru layak petik sebulan lagi...Hiks..
Setelah melewati turunan panjang, akhirnya saya sampai di Bedengan. Daerah ini ditandai dengan pohon-pohon pinus dan sungai berair sangat jernih. Bersih dan adem.....Hmmm....dan landscape yang sangat memikat....
Dikejauhan, sebelah kanan terlihat Gunung Semeru yang mengepulkan asap dari puncak Mahamerunya , sebelah kiri, terlihat Gunung Arjuna dan Welirang....ditengah-tengah, terhampar kota Malang yang semakin berat menanggung beban ekspansi perumahan dan ruko yang serakah...
Dengan enggan, saya meninggalkan Bedengan ini....kalau tadi nanjak, sekarang full turuuuuun....kecepatan sepeda mungkin bisa sampai 60 - 65 km. Angin dingin berkesiuran ditelinga, wuuzzz - wuuzzz...
Mendekati akhir turunan, saya berpapasan dengan banyak genjoter yang mulai naik....ada 2 - 3 rombongan dengan sekitar 10 genjoter tiap rombongan....sampai di suatu warung, saya berhenti karena ada yang memanggil saudara saya....
Ternyata yang ngumpul adalah pak dosen doktor dan profesor yang rutin nggenjot ke sekitar Bedengan sini.... Sampun sepuh - sepuh (sudah tua-tua), tapi semangatnya bikin malu yang muda-muda....Heibatt....
Di warung itu juga, ada masakan yang membangkitkan nostalgia masa kecil saya : nasi empog (nasi jagung) dengan bandeng goreng dan sambal jeruk...ada apetizer pisang goreng gede-gede maknyus dan teh nasgitel....dinikmati sambil memandangi sawah terasiring dielus angin dingin pegunungan ......semilir......

KEBAHAGIAAN, KADANG TIMBUL DARI HAL-HAL SEDERHANA, saudaraku....

ddd
dThumbnaild
ddd
Nggowes berpanas-panas ke Hill 1 dan Hill 2 Gunung Bubut selalu menantang. Kali ini, kami menemani sahabat-sahabat yang penasaran pengen nyoba trek mantap ini, om Agung dan teman, dan - ini yang menarik - Pak dan Bu Norman....


Photo AlbumKe SUKAMANTRI (30 photos)Jan 2, '08 11:53 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
A. TCC’ERS :
1. TCC - AGUS PRANOTO
2. TCC - ANTO
3. TCC – BRAM PRANOTO
4. TCC - DANI
5. TCC - ISMU
6. TCC - SYAIFUL
7. TCC – YUNUS
8. TCC- ZAKI
9. GS - NORMAN
B. RUTE :
Tamansari Persada – Taman Yasmin – Gunung Batu –Pertigaan Ciomas –Cikaret- Kota Batu – Pert. Lap. Bola Sukamantri – Warung Tutup – Kujang Raiders – Perkemahan Sukamantri – Simp 4 Taman Sari– Pom Bensin- Ciomas – Laladon – Bubulak – Taman Yasmin– Tamansari Persada

C. JARAK TEMPUH : 48,4 KM

D. GENJOT TIME + WAKTU ISTIRAHAT : 8 jam 14 menit (6:38 – 14:52)

E. TOPOGRAFI KONTUR :
TERENDAH 176,5 asl , TERTINGGI 888,9 asl (selisih 712 mtr dg jarak 23,81 km)


Waktu saya baca e-mail pak Syaiful waktu ngajak ke Sukamantri, saya sebetulnya agak grogi juga. Wah, alamat pasti nanjak, nih...nanjaaak terus ngalahi Sentul kemarin. Tapi berhubung penasaran, ya di - ok saja sambil deg-degan.
Beberapa hari sebelumnya, sepeda di tune-up biar maknyus. Driver-nya juga di-tune up dengan pemanasan sebelum nggenjot (beberapa kali kram saya telusuri ternyata karena kurang pemanasan, ternyata). Pas hari H, akhirnya saya putuskan memakai sepeda HT yang saya culik dari kantor, hehehe....

Minggu pagi yang mendung dan basah....Pas lagi mbales SMS, pak Dani datang....
Waduh, ampun pak, pesenan yang saya janjikan ketinggalan di kantor.....
Ngumpul di Orchid jam 6.00, akhirnya jam 6.30, ada sekitar 8 TCC’ers berkumpul...semua HT, kecuali sepeda pak Syaiful dan pak Bram










Beberapa saat kemudian, setelah berdo’a, kami berangkat....lewat Yasmin, pasar kaget, terus lurus ke arah kampung. Di TL RS. Karya Bhakti, kami belok kanan ke arah Gunung Batu. Turunan dan tanjakan sukses dilewati. Belok kiri ke arah Ciomas, waduh....obstacle berupa angkot mulai jadi hambatan tersendiri, karena hanya supir dan Allah yang tahu, mau dibawa kemana si angkot itu. Sampai di pertigaan, kami re-group dulu, dan ngebut lagi ke arah Cikaret.......eits...tapi macet panjang menghadang kami di depan. Ada bubaran pengajian, sepertinya....Akhirnya kami belok kanan, ngambil jalan-jalan tikus lewat perkampungan padat penduduk ( yang ....sssttt......menyimpan ’bening – bening’ kata penggenjot yang sempat-sempatnya survey di jalan sempit begitu, hahaha.... untung nggak jatuh di lapangan bulu tangkis....)

Setelah melewati jalan tikus, kami masuk jalur angkot yang ke arah Sukamantri. Dimulailah perjalanan nanjak nan panjang itu...Mulanya sih biasa saja, setelah itu....lha kok nafas sesak, betis kenceng, paha linu dan mata mulai kepyur – kepyur berkunang – kunang. Sampai di suatu tempat entah dimana, pak Dani berhenti. Pak Ismu sudah melejit jauh. Saya sih....berhenti juga.... Waktu berhenti itu, ada penggenjot misterius yang menyalip sambil senyum-senyum. Nggak pakai helm, pakai celana pendek, kaos BALI. Saya pikir warga sekitar....

Setelah ambil nafas 1 -2. Saya nggenjot lagi ngejar pak Ismu. Tubuh mulai panas mesinnya, jadi sayang kalau lama berhenti. Akhirnya penggenjot misterius itu saya salip dan ganti saya berhenti di pos ojek pertigaan lapangan bola.
Penggenjot misterius itu akhirnya berhenti juga di pos ojek. Ternyata penggenjot misterius itu namanya pak Norman, dari Cilebut....Mantaap....Kalau saya, pikir-pikir dulu nggenjot sendirian ke Sukamantri sini....pak...

Satu persatu, TCC’ers bergabung kembali. Kloter pertama (pak Ismu – only) berangkat dulu ke arah Warung Tutup. Sementara yang lain, narsis, foto-foto dulu. Setelah tambah perbekalan, kami berangkat lagi.....Dimulailah petualangan yang sebenarnya.....

Waduuh jadi nanjak dari bawah tadi masih kurang berat, ya?

Jalanan berupa makadam sepertinya datar....tapi lha kok berat digenjotnya, ya? Udara mulai berubah lebih dingin dan segar....sudah bau-bau gunung, nih...Semangat terpacu lagi begitu melihat di depan sepertinya ada warung. Hmmm....enak juga kalau minum teh manis panas – panas.....
Eeeh, ternyata bukan warung, saudara..... Mungkin dulu warung, tapi sekarang dijadikan rumah, tapi ada yang jual gorengan....Berhenti atau nggak? Saya putuskan terus saja...Sementara TCC’ers yang lain memilih berhenti untuk mengisi perut.










Ternyata jalanan makadam berubah menjadi jalan berbatu lepas. Pakai hard tail ternyata lumayan.....lumayan pegel, maksudnya..hehehe... Di tengah jalan, saya ketemu pak Ismu yang sudah meluncur turun dari Warung Tutup. Langsung pulang ke TSP...
Pemandangan kota Bogor yang diselimuti kabut tipis mulai terlihat. Bagus sekali. Sayang jalannya tetep jelek seperti waktu saya kesini setahun lalu. Setahun lalu, saya kesini tanpa haheho kecapekan, lhooo...soalnya naik mobil, hehehe...
Sampailah saya di warung tutup....beberapa goweser lewat dari arah Simpang 4 Tamansari. Sambil haheho dan berkeringat juga....Berarti trek ini memang berat, ya? Dari mana pun arah datangnya....
Setelah foto-foto dan istirahat, kami meneruskan perjalanan lagi. Tetep jalanan dengan batu lepas, nanjak dan angin lebih kencang. Di pertigaan kami berhenti untuk re-group lagi, dikejauhan kelihatan jajaran pohon-pohon pinus ....sepertinya sudah dekat, ya?
Dari arah atas, saya berpapasan dengan beberapa orang yang turun dari Buper Sukamantri...hmm, yaa, sepertinya sudah dekat, karena sudah dekat, kami berhenti lagi ..



Jalan yang nanjak berbatu, berubah menjadi jalan berbatu yang nanjak dan licin. Ban sepeda selip melulu....waduh....Kami sampai di gerbang Kujang Raiders dengan penuh perjuangan. Foto – foto dulu di gerbang yang legendaris itu terus berangkat lagi...Indomie panas terbayang – bayang terus....tapi jalan kok ya nggak habis-habis, ya?

Jalur dari gerbang Kujang Raiders ke arah Buper Sukamantri dikenal dengan nama Jalur Kelok 12. Berkelok – kelok memang benar...tapi kalau jumlahnya 12, saya belum menghitung...lha untuk bernafas saja susah, hehehe.....

Jalan berbatu yang nanjak dan licin berubah menjadi jalan berbatu licin yang nanjak dan berkelok – kelok....tapi dibeberapa tempat mulai tertutup rontokan pinus jadi agak kurang licin juga....akhirnya di suatu kelokan mulai terlihat rumah jaga Buper Sukamantri. Ayo semangat – semangat....















Akhirnya dengan mengerahkan sisa – sisa tenaga, sampai juga saya di Buper Sukamantri yang terkenal ini.....
Sepertinya enak juga kalau berkemah di sini yaa? Sempat terlintas bagaimana kalau NR ke sini...tapi sementara saya simpan dalam – dalam dulu...hehehe... ADA YANG TERTARIK ?
Indomie dan teh panas segera diserbu...hmmm...rasanya ini Indomie terenak di dunia....tehnya juga enak....tiduran disini juga enaak.....
Setelah istirahat dan pemulihan, jam 12.45 kami berangkat turun. Ada rencana offroad, tapi berhubung tidak ada trek dalam GPS dan menurut informasi jalur yang akan dilewati rusak berat, kami putuskan lewat jalur on road.

Jalur on road full turun. Melewati jalan berbatu lepas, full sus memang mak nyus di banding hard tail. Punggung dan tangan saya jadi linu sampai harus berhenti beberapa kali. Memasuki jalur aspal (warung tutup belok kiri ) linu-linu langsung hilang tapi angkot giliran datang.....

Sempat ada insiden kecelakaan kecil menimpa ’temannya pak Anto’ tapi perjalanan bisa diteruskan tanpa ada masalah serius. Kebut-kebutan terus melewati jalan-jalan kecil sepanjang Ciomas, Laladon, Bubulak, Yasmin, akhirnya kami sampai di TSP pukul 14.52. Sehat, bahagia tidak kurang suatu apa. Alhamdulillah....


Photo AlbumKE RINDU ALAM...... (15 photos)Dec 9, '07 8:06 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
A. TCC’ERS (alphabetical order ….) :
1. TCC - ADI
2. TCC – AGUS
3. TCC - ANTO
4. TCC – BRAM
5. TCC – DANI
6. TCC - HASBIE
7. TCC - ISMU
8. TCC - SYAIFUL
9. TCC – YUNUS
10. TCC - ZAKI
B. RUTE :
Wr Puncak Pass – Paralayang – Tmn Safari – Ngehe’ – Wr Ngehe’ – Gadog – Katulampa - Hero – Air Mancur – Pahlawan – Cimanggu - TSP

C. JARAK TEMPUH NR : 48,5 KM

D. GENJOT TIME + WAKTU ISTIRAHAT : 8 jam 19 menit 21 detik (7.35 – 15.53)

Hari Sabtu, akhirnya tiba juga…setelah melewati seminggu berkonferensi via e-mail yang bertubi – tubi, ngalah-ngalahi konferensi meja bundar, akhirnya tiba juga ‘genjot day’ yang spesial. Spesial karena TCC mau nggowes pertama ke Rindu Alam yang terkenal legendaris itu. Legendaris, karena katanya baru diakui sebagai penggenjot setelah penggenjot itu mengkhatamkan rute ini.

Karena spesial genjot, maka persiapan juga lebih dari biasanya. Ada yang beli sepatu baru (2 orang), beli baju baru, beli rante baru, beli klem seat post, beli ban dalam, beli kaus kaki (kalau ini saya, hehe..) dan tas baru…Untung belum ada yang beli sepeda baru gara-gara genjot ke RA…hahaha…Nggak tahu kalau setelah nggenjot nanti kepikiran lha kok pakai fullsus kok lebih maknyus ? Wah, kalau itu resiko ditanggung penumpang…

Jam 5.15, 3 angkot datang mau langsung antar alamat ke RA. TCC segera mbongkar sepeda. Tercatat 10 TCC’ers yang ikut pagi ini. Karena ‘special day’
juga, ada yang diantar sang istri segala. Ada yang komentar, “Walah, apa sudah nggak dipercaya, nih ?”
Haha…Ampuun, bukan saya lho pak…
Setelah foto-foto dan berdo’a bersama, TCC berangkat. Jam 5.45 (cmiiw). Udara segar, cuaca berawan. Semoga tidak hujan….






Kami sampai pukul 7.00. Udara yang dingin segera menyambut. Setelah sepeda dibongkar dari angkot dan cek semua peralatan, kuatir ketinggalan, kami segera merakit sepeda kembali. Sip.
Semua lancar. Kecuali kloter 3 (pak Hasbie, pak Anto dan pak Dani) yang belum datang karena terpaksa ganti angkot karena ada masalah dengan angkot yang lama. Waktu menunggu dipakai untuk cek bekal lagi, sarapan dan minum teh. Heran juga kok masih sepi. Biasanya daerah RA banyak MTB’ers yang mau nggenjot juga. Setelah Kloter 3 datang dan merakit sepeda kembali, kami segera siap-siap. Alhamdulillah, tidak ada yang ketinggalan…
Jam 7.35, kami berangkat…..

ETAPE 1 : Warung - Paralayang

Udara dingin segar dan matahari segera menyambut kami….juga tukang karcis yang juga ikut-ikutan berpartisipasi, hehe. Pemandangan indah. Mantap betul.
Etape ini didominasi makadam dan jalan tanah yang menurun…dan semak-semak…Sehingga antena radio pak Agus yang tinggi harus dibongkar karena mengganggu. Etape ini ditutup dengan drop off diujung etape dan dilalui TCC dengan sukses

ETAPE 2 : Paralayang – Nyasar


Rute ini didominasi jalan makadam yang full turun diselingi jalan datar dan pemandangan indah. Mungkin ini kenapa trek RA – Gadog jadi rute favorit. Mumpung masih segar, mari narsis habis dengan berfoto – foto….
Gara- gara keasyikan turun saya lupa ngecek GPS. Walah, kebablasan, nih…padahal pak Ismu dan pak Zaki yang di depan sudah nanjak. Seorang ibu pemetik teh menunjukkan jalur yang benar. GPS juga menunjukkan arah yang sama. “Punten, om. Ongkosnya….khan saya sudah menunjukkan jalan….Saya jalan dari atas, lhoo…” kata ibu tadi….Saya hanya tersenyum asem…Kok ya jadi komersil begini, ya?
Kami masuk ke single trek yang licin dan nggak mungkin digenjot jadi ya dipersilahkan TTB…..


ETAPE 3 : Single Track – Gunung Mas



Single Track yang licin itu bersambung dengan rute bak kontrol yang sering menjebak mereka yang tidak hati – hati. Jalanan yang licin bekas hujan juga menjadi salah satu masalah lain. Lepas dari rute bak kontrol, kami disambut jalanan makadam yang menurun lagi…..Fiuh…lega….Sekarang bisa rame-rame lagi dan foto-foto lagi…juga mengosongkan ‘tangki air’ yang penuh…Mungkin ini yaa, rahasia kenapa teh Walini itu jadi ‘enak’, hahaha….Kami sampai di Gunung Mas…jalan makadam berubah jadi jalan aspal…tapi lha kok nanjak?

ETAPE 3 : Gunung Mas – Parkir Taman Safari

Jalan nanjak aspal berubah menjadi jalan makadam yang…..nanjak juga. Tapi karena banyak yang bening-bening, gengsi doong kalau pasang muka lelah. Kalau pun mau TTB, yaa berhenti dulu pura-pura mbetulin sepeda, hehe…Jalan nanjak berubah turun dan turun terus sampai parkir Taman Safari….
Lho-lho, kok ada panitia penyambutan ? “Dorong Om…dorong Om…”

ETAPE 4 : Parkir Taman Safari – Saung Ngehe’ 1

“Dorong Om…dorong Om…” Mengiringi kami mulai dari parkiran Taman Safari. Dorong gimana ? Lha tanjakannya belum kelihatan, kok? Waktu saya belok kiri, terpampang didepan saya jalan lurus ke depan yang aduhai….nanjaknya. Lurus dan menanjak bener….straight forward….. Bener bener meruntuhkan mental. Apalagi ojek usil itu yang menunggui. “Dorong aja, Om…Pasti Om nggak kuat…” katanya sambil ngos-ngosan gara-gara lari dari parkiran. Wee….anda meremehkan saya? Batin saya….Tekad saya adalah genjot terus tanpa TTB….meskipun harus berhenti untuk tarik nafas….walah…sisa-sisa flu ikutan mengganggu juga, nih…Saya melanjutkan nggenjot lagi….si ojek usil saya suruh nunggu aja yang di belakang saya…..Di jalan yang datar saya berhenti lagi…Fiuh beurat euy…Saya bertekad kalau sudah diganti RS yang air harus dicoba di sini pada kesempatan pertama….coil mah minta ampun bobbing-nya…atau ini kambing hitam saya? Hahaha….Bagaimana pak Bram, pak Agus ? Bener bobbing, khan?
Setelah yang lain berangkat, tinggal saya dan pak Syaiful….Saung sudah kelihatan…genjot lagiii…Sampai juga akhirnya….Masih ada Saung 2 yang menunggu di atas….


ETAPE 5 : Saung Ngehe’ 1 - Ngehe’ Top


Setelah istirahat di Saung 1, kami nggenjot lagi ke Saung 2. Istirahat lagi dan nggenjot lagi…tapi karena kondisi jalan single track sudah mirip selokan, terpaksa kami TTB….Ampuun….Panas juga mulai menyengat….Jam menunjukkan pukul 12…..
Akhirnya kami sampai juga di Ngehe’ Top yang ditandai dengan jalan makadam yang Alhamdulillah menurun….Fiuuh, leganya…..






ETAPE 6 : Ngehe’ Top – Turunan Panjang Nyasar



Setelah disiksa TTB di single track Ngehe’ 2 , kami kembali menggenjot diturunan makadam. Di rute ini, perjalanan sempat berhenti karena pak Adi kram. Di rute ini juga, pak Ismu terjatuh karena trek turunan yang licin dan berbatu.
Trek ini bener-bener hadiah setelah kami disiksa di tanjakan Ngehe’ 1 dan 2. Akibat terlalu menikmati turunan, rombongan jadi terpencar. Saya sendiri berhenti dulu karena membantu pak Ismu membetulkan rem. Setelah cek GPS, saya baru sadar, bahwa mestinya kami belok kiri. Waduh, yang lain sudah jauh di depan….Ampuun…


ETAPE 7: Turunan Panjang Nyasar – Road Joint



Kami akhirnya benar – benar nyasar. Jalanan makadam berubah menjadi jalan tanah dan berakhir di kebun orang. Tidak ada penduduk setempat yang bisa ditanya, kami terpaksa berpedoman pada rute yang ditunjuk oleh GPS. GPS menunjuk bahwa jalan yang benar itu ada di ‘sana’