Muhammad's posts with tag: perjalanan
|  | Berawal dari rasa penasaran saya dan pertanyaan om Oki LH, apakah dari Bodogol ada jalur ke Pancawati? Akhirnya kemarin, hari Senin, 18 Agustus 2008, kami bertujuh : saya, pak Oni, kang Bagja, kang Petrus, om Agung, pak Ro'uf dan om Guntur memulai eksplorasi jalur Bodogol - Nangleng - Pancawati. Sayang, om Oki LH tidak bisa ikut.... Kami berangkat dari MP Bank Niaga dengan angkot ke Bodogol sekitar pk. 7.30 dan sampai di Lido Bodogol gerbang depan pk. 8.30. Setelah rakit sepeda kembali dan berdo'a, kami berangkat melewati jalan paving dan memotong jalur via tanjakan pinus ke arah lapangan terbang Lido. Dari lapter Lido, perjalanan diteruskan melewati kebun2 penduduk sampai akhirnya tembus di penghabisan jalan paving. Setelah penghabisan jalan paving, kami belok kiri ke arah Srogol, sebuah desa yang terletak di lembah, diapit pasir (punggungan) Bodogol. Hutan Bodogol terlihat biru kehijauan di depan kami. Jalan ke desa Srogol berupa single track paving dan jalan tanah berliku-liku di lereng punggungan Bodogol (foto 26). Menurun dan licin ! Sesampai di Srogol, perjalanan berubah menanjak menyisir punggungan Bodogol menuju jalan ke arah Cinagara (foto 46). Tanjakan berubah turunan memutar balik. Menurun terus sampai mendekati pertigaan jalan raya SPN Lido ! Disini kami istirahat memulihkan tenaga dengan gorengan dan teh manis. Setelah itu perjalanan dilanjutkan lagi melewati jalan Cinagara - Tangkil. Sempat berhenti melihat persiapan panjat pinang dan yang manis - manis (foto 52), hehehe... Perjalanan diteruskan melewati jalan yang terus menanjak dan akhirnya belok kiri kearah Nangleng ! Akhirnya kami sampai di jalan yang saya lewati 2 minggu lalu. Pas di area tanjakan L yang mantap itu......Fiuh.... Akhirnya kami sampai di Nangleng dan istirahat di rumah penduduk. Mengumpulkan tenaga untuk menuruni lembah menaiki bukit seperti yang saya lakukan 2 minggu lalu. Cuaca yang cerah, berubah mendung dan gerimis. Alamat perjalanan akan berubah menjadi berat.... Setelah sempat terjadi insiden tunggu menunggu karena salah koordinasi, akhirnya kami menyeberang ke Pancawati. Gantian sepeda yang dipanggul. Perjalanan yang sungguh berat dan menyita tenaga dan kami membalasnya dengan semangkok mie panas di Pancawati.... Di Pancawati, kang Petrus dan kang Bagja memisahkan diri, turun ke pertigaan Cimande sementara kami terus ke arah raya Tapos. Perjalanan melewati turunan makadam, tanjakan tanah, sampai akhirnya kami sampai di raya Pancawati. Dari sini full on road melewati turunan mak nyus (tapi ada tanjakan juga) sampai akhirnya sampai di Gadog. Jalanan macet total... Tapi kami terus melaju via Katulampa untuk pulang. Saya sampai di rumah pk. 17.00 pas.... Perjalanan gowes gila-gilaan bagi saya.
Jarak tempuh sekitar 70 km.... Perjalanan nyaris 12 jam bila istirahat dihitung.... 2 lt air, 1 kantung coklat, 4 botol minuman suplemen, 1 mangkok mie, 1 mangkok bakso beberapa gorengan, teh manis.....
ETAPE II menunggu : Pancawati - Makam Jerman
Terima kasih, om Guntur & om Petrus untuk tambahan foto-fotonya... |
Akhirnya, sampai juga saya di Nangleng yang siang itu cukup sejuk........ Nangleng?

Saya ingat waktu itu sekitar bulan Maret 2007. Saya penasaran dengan diterbitkannya seri peta Puncak Trek Guidebook oleh WIPA (puncaktrek.com). Setelah mencari info di indobackpackers dan mr. Google, akhirnya ada e-mail dari bu Korns, dan singkatnya satu seri puncak trek diantar ke rumah...(terima kasih, bu Korns... ).
Setelah membuka peta – peta itu, akhirnya saya tahu dimana Nangleng itu ....dan ternyata pengetahuan saya tentang wilayah Indonesia – Jawa Barat – Bogor (zoom mode on) ini alangkah minimnya...... dan rasa ingin tahu saya terhadap wilayah lereng-lereng Gede Pangrango ini semakin naik tensinya dari hari ke hari. Nangleng dalam Puncak Trek Guidebook masuk dalam Sector B – Ciawi yang diapit oleh Jalan Raya Puncak dan Jalan Raya Sukabumi dan keduanya bertemu di Pasar Ciawi dengan variasi ketinggian menurun dari 1160 mdpl sampai yang terendah 711 mdpl di barat daya dekat Kampung Nangleng. Dari Kampung Nangleng ini, hutan membentang sejauh 10,5 km ke arah puncak Pangrango.... Di sektor B ini terdapat kebun – kebun teh seperti Lemahneundeut, Arca dan Pancawati. Penduduk kampung sudah mengambil alih sebagian besar perkebunan ini untuk ditanami sayuran. Di sektor B ini juga, dapat kita temui peninggalan sejarah seperti Arca Domas dan makam tentara Jerman, beberapa Curug yang masih alami, Tapos, beberapa base camp outbound, workshop keramik FX Widayanto dan kebun – kebun organik serta hutan – hutan yang masih menyimpan flora dan fauna yang beragam seperti jenis – jenis anggrek, Monyet ekor panjang, Owa Jawa, babi hutan, tupai, musang, elang Jawa, burung puyuh gonggong Jawa, cekakak sungai, cucak kutilang dan tekukur. Pengolahan kebun dan sawah yang ekspansif menjadi ancaman tersendiri terhadap keanekaragaman tersebut..... Akhirnya, sampai juga saya di Nangleng... Waktu itu hari Minggu kami bertiga : saya, om Agung dan om Ro'uf berangkat sekitar pukul 7.30 dari Kompleks Hero / Giant Pajajaran. Semula, om Guntur, kang Bagja dan om Oki akan bergabung juga tetapi karena ada kesibukan akhirnya kami bertiga yang berangkat ke Nangleng. Setelah menyempatkan diri sarapan, kami bertiga berangkat. Semula saya usulkan naik angkot saja sampai Nangleng dan di Nangleng barulah kita mulai eksplorasi rute, tetapi om Agung dan om Ro'uf mengusulkan alternatif nggowes dari meeting point : Alamaak.....batin saya..... tetapi ya apa boleh buat..... Kami bergerak menuju Tajur – Pertigaan Ciawi. Udara masih segar sisa hujan semalam. Lalu lintas padat : angkot, sepeda motor, mobil pribadi, orang – orang bersepeda.....mendekati pertigaan Ciawi, lalu lintas semakin ramai dan jalan semakin menanjak... Selepas pertigaan Ciawi, kami belok kanan ke arah Sukabumi. Jalanan semakin ramai dan semakin menanjak juga. Tetapi inilah nikmatnya bersepeda : selap selip, meliuk – liuk diantara kendaraan, kalau perlu ambil kiri full lewat celah – celah jalan yang mustahil dilewati kendaraan lain ..... Selepas Cikereteg, jalan yang menanjak berubah turun........ Waaah....turunan panjang nih....dan turunan panjang itu berakhir di pertigaan Cimande. Waktunya belok kiri ! Kami belok kiri setelah melewati jembatan baja pertama. Gunung Pangrango mulai terlihat dan jalanan yang tadi didominasi kendaraan besar sekarang didominasi sepeda motor dan pick up terbuka... Udara mulai lebih dingin dan jalanan menanjak terus, mirip jalur ke Sukamantri. Kami melewati kampung Sasak Dua, kampung Cimande Girang menuju Kampung Nangleng : sampai batas jalan aspal habis ! Tapi tanjakan seolah – olah tidak pernah habis. Saya sebagai 'penikmat' tanjakan menikmati perjalanan dengan menggenjot sepeda pelan – pelan (hehehe)....sementara om Rouf dan om Agung – dua raja tanjakan itu – sudah menghilang entah dimana di depan. Beberapa kali saya mengambil pit stop liar karena hidung yang buntu perlu dilegakan (sorry....saya flu ). Tapi bersemangat lagi melihat Pangrango di depan yang dengan indah menampakkan diri... sementara di belakang, gunung Salak tersenyum melihat saya mengejar dua raja tanjakan yang sudah hilang melesat di depan.... Akhirnya, sampai juga saya di Nangleng... Waktu itu sekitar pukul 9.30..... 
Setelah istirahat minum teh manis yang hangat, membuka peta dan bertanya ke warga setempat, kami melanjutkan perjalanan dengan asumsi bahwa kami menuju Pancawati.... Kami mengarahkan sepeda melewati rumah – rumah penduduk, kandang kambing, kebun – kebun kol yang rapat dan belok kanan.....tiba – tiba lanskap indah membentang dihadapan kami : lembah yang dihias sawah – sawah terasiring geometris berderet rapi, hijau dengan sungai cimande yang berkelok di tengahnya adalah kontras bagi hutan pinus dipuncak – puncak bukit dan Pangrango yang perkasa pagi itu berkabut misterius.... Udara lembah yang segar dingin membuat kelelahan terlupakan sejenak. 
Kami pun turun kearah lembah. Berhenti di jembatan kecil terbuat dari beton dan melewati pematang – pematang sawah menuju ke seberang : kampung Bangrung. Di jalur ini, sepeda harus rela tidak digowes. Kami berharap , di atas ada jalan sejajar dengan kontur bukit sehingga kami tidak terlalu berat memanggul sepeda. Tapi apalah daya, manusia berharap, Allah yang menentukan, jalan yang kami temukan adalah jalan setapak naik lurus menantang ketinggian bukit. No genjot, GGS (Gotong – gotong Sepeda) only.... Akhirnya kami bertiga ber-GGS ditonton orang – orang yang memandang kami dengan ekspresi : "Mas – mas......sampean ini jauh – jauh kesini kok ya cuman buat manggul sepeda, apa ya nggak ada kerjaan lain ?" But show must go on..... Kami pun ber GGS melewati jalanan setapak berundak yang licin sisa hujan tadi malam. Akhirnya, sampailah kami di sebuah musholla ...... Saya membayangkan, kalau saya bawa "My Black Scott"....walah.....ya ampun – ampunan saya melewati tanjakan dan jalur GGS tadi...... Setelah istirahat, kami melanjutkan perjalanan lagi....ke Pancawati. Tanpa babibu...kami langsung belok kiri dan berhenti di sebuah gardu pandang yang menghadap lembah. Kampung Nangleng terlihat di seberang..... indah menakjubkan.... Perjalanan kami teruskan melewati jalan makadam menurun, melewati kampung. Setelah agak jauh, saya merasa bahwa jalur yang kami lewati salah.... Apakah ini euphoria jalan turun setelah tadi habis – habisan GGS ? Akhirnya saya berhenti dan bertanya ... "Pak, jalan ini tembus kemana?" "Ke Cimande Talang, pak....." jawab mas – mas yang saya tanya..... Waduuh...itu khan pertigaan Cimande tempat kami masuk tadi..... Mau mbalik naik ? Waaah, ampuuun.... Akhirnya kami putuskan on road lagi lewat raya Sukabumi menuju Bogor.... Nanjak lagi, macet lagi malah siang itu macetnya lebih ampun ampunan........ Seperti biasa, saya menikmati tanjakan dan dua raja tanjakan melejit meninggalkan saya...... Dalam perjalanan pulang menjelang Cikereteg, om Agung terjatuh dengan sebab – sebab yang sampai sekarang masih misterius.... tapi akibatnya lumayan juga : otot betis kiri tertarik sehingga terasa nyeri setiap dipakai menggenjot pedal..... Tapi biar pun begitu, gowes tetap jalan !
No pain, no angkot.... Luar biasa.... Saya terus via Air Mancur, sementara om Agung & om Ro'uf pulang via Jambu Dua. Pukul 13.21, saya sampai kembali di rumah. 
Cyclometer menunjukkan 66,1 km jarak yang sudah ditempuh.... Alhamdulillah....akhirnya jadi juga saya ke Nangleng ..... Dan hutan – hutan Pinus di Gigir Pancawati membayang,
memanggil – manggil saya untuk kembali....... Foto - foto silahkan diintip di :
http://myunuswb.multiply.com/photos/album/43
|  | A. TCC’ERS (alphabetical order ….) : 1. TCC - AGUNG 2. TCC - ARIFIN 3. TCC – BRAM 4. TCC – DANI 5. TCC - GUNTUR 6. TCC - HASBIE 7. TCC - ROUF 8. TCC - SANTO 9. TCC – YUNUS
B. RUTE : Wr Puncak Pass – Paralayang – Tmn Safari – Ngehe’ – Wr Ngehe’ – Gadog – Katulampa - Hero – Pajajaran – Jambu Dua – Hypermart Kedung Badak - TSP
C. JARAK TEMPUH : LK. 48,5 KM D. GENJOT TIME + WAKTU ISTIRAHAT : (LK) 7 jam 40 menit (8.13 – 15.53)
Setelah melalui konferensi yang (tidak seperti biasanya ) adem ayem, akhirnya TCC jadi hajatan HARKITNAS dengan nggenjot RA – Gadog via Ngehe’. Hanya 9 orang dari rencana yang sekitar 10 - 12 orang. Setelah standby mulai jam 5.15, sebagian TCC baru nggenjot sekitar jam 6.00 ke WarJam (Warung Jambu ) karena angkot yang biasa melayani TCC diembargo pak Bram. Jadi nggenjot kali ini dievakuasi dengan truk ke RA. Sekitar jam 6.30, sampai di starting point disambut TCC’er yang lain dengan agak manyun. Hehehe….ampun jam karetnya. Soal jam karet, mungkin ada yang bisa menjelaskan ? hehehe….
Setelah sepeda naik dan penumpangnya naik dengan konfigurasi seperti ikan sarden, truk langsung tancap gas ke RA. Tiada halangan yang berarti. Bahkan polisi pun tidak. Akhirnya kami sampai dengan selamat di RA. Cuma butuh waktu untuk bisa berdiri meluruskan kaki, karena selama 1 jam lebih nggak bisa bergerak di truk…..
Setelah sarapan dan ber say ”Hello” dengan MTB’ers Tangerang yang salah satunya kolega pak Bram, TCC’ers mohon pamit berangkat duluan.....
ETAPE 1 : Warung - Paralayang
Etape 1 dilewati tanpa halangan. Hanya sepeda saya rasanya agak aneh. Apa karena ban belakang saya ganti kemarin, ya? Nggak mantep seperti biasa, tapi rasanya melejit kekanan dan kekiri. Rombongan terpisah menjadi 2 dan saya ditengah – tengah. Turunan yang lumayan curam di akhir etape akhirnya sukses dilewati semua TCC’ers…. Tumben nggak ada yang ngajak narsis foto – foto, padahal pemandangannya (seperti biasa) sangat bagus…..
ETAPE 2 : Paralayang – Single Track Saluran Air
Diam-diam, etape ini selalu membuat saya agak grogi. Pertama, belokan- belokannya lumayan tajam dengan sisi sebelah kanan lumayan curam dan yang kedua, seluruh jalan adalah makadam yang batu – batunya sudah lepas. Ditambah faktor licin juga. Hmm lengkap bukan sebagai rute ideal ? ”Siksaan tambahan” bagi saya pribadi adalah mengganti ban belakang tanpa tes sebelumnya. Jadi, meskipun sudah memakai FS dan gaya berat tubuh sudah ditarik kebelakang, tetap saja sepeda yang saya pakai melejit kekanan kekiri. Pada belokan terakhir, saya agak ragu, mau stop di tempat kloter I (Om Agung, Om Guntur, Om Santo ) berhenti atau terus saja mencari pit stop yang lebih aman, padahal sepeda sudah meluncur kencang. Karena saya melihat ada sedikit tanjakan ditempat kloter I berhenti, akhirnya saya teruskan saja. Tapi ampuun, sepedanya nggak melambat dan karena kuatir menabrak, handle rem saya tarik kuat-kuat. Ciiiet......Hasilnya: ban depan terkunci dan saya pun terbang nyungsep di semak – semak teh diikuti sepeda yang terbang juga di atas saya. Sungguh ter...laa...luu.....
ETAPE 3 : Single Track – Gunung Mas
Saluran air dilewati tanpa kejadian berarti. Karena masih ’trauma’, beberapa tempat saya menggunakan jurus TTB, hehehe. Rasanya baru plong setelah masuk area kebun teh Gunung Mas. Setelah regroup, kami berangkat lagi. Tapi belum jauh, pak Hasbie yang ada didepan saya berhenti sambil terus mengambil sesuatu yang sepertinya jatuh. Semula saya pikir kaca mata milik salah satu TCC’ers yang sudah berangkat duluan, eeeh ternyata sadel pak Hasbie lepas. Lebih surprise lagi, lepasnya sadel itu karena baut pengikat sadel ke seatpost patah menjadi 2 bagian. Ampuun...... Kalau ban bocor atau rantai putus, sudah biasa....kalau sadel lepas karena baut seatpost patah? Ini baru luar biasa......
Masing – masing sepeda diperiksa barangkali ada baut yang cukup panjang dan bisa dikanibal. Ada baut pengikat reflektor di sepeda pak Arifin tapi ternyata terlalu pendek. Saya sudah membayangkan pak Hasbie naik angkot cari bengkel terdekat .....sampai akhirnya pak Arifin punya ide brilian untuk menukar baut pengikat seatpost sepedanya dengan baut pengikat reflektor. Fiuuh, ternyata pas juga. Akhirnya sadel sepeda pak Hasbie bisa terpasang kembali dengan menggunakan baut pengikat seatpost sepeda pak Arifin. Hanya saja baut itu tetap terlalu pendek dan membawa masalah pada etape – etape berikutnya.....
ETAPE 4 : Gunung Mas – Parkir Taman Safari
Setelah masalah sadel pak Hasbie bisa diatasi kami segera meluncur ke arah Taman Safari. Nggenjot nanjak lumayan setelah menikmati turunan panjang. Gunung Mas ramai dengan orang – orang yang berlibur tanggal merah Waisak. Belum lepas dari area Gunung Mas, sadel pak Hasbie bermasalah kembali, tapi berhasil diatasi dengan mengencangkan mur baut sadel. Akhirnya di bengkel motor, kami berhenti. Kali ini untuk mengganti baut seatpost darurat yang terpasang di sadel pak Arifin dan sudah tidak bisa diselamatkan.
ETAPE 5 : Parkir Taman Safari – Top Ngehe’
“Dorong Om…dorong Om…” Mengiringi kami mulai dari parkiran Taman Safari. Ojek sepeda sepertinya kok tambah banyak saja. Masing – masing rebutan mencari mangsa. Untung saja TCC’ers tetap kukuh sampai akhir. Nggenjot atau TTB yang penting tanpa ojek. Biar pun nanjak atau pun becyek (Cinta Laura mode On ). Setelah nggowes, (terpaksa) TTB.... hehehe dan gowes lagi. Akhirnya sampai juga di Saung Seng I. Setelah foto – foto dan mengisi perut sambil membayangkan makan nasi padang hangat – hangat, akhirnya TCC’ers nanjak lagi ke Saung 2. Tetep dengan jurus gowes ’n TTB. Istirahat lagi dan lanjut lagi sampai Top Ngehe’. Fiuh. Jalannya ampun – ampunan.
ETAPE 6 : Ngehe’ Top – Ujung Makadam
Sampai di Top Ngehe’ wajah yang tanpa ekspresi mulai tersenyum lagi. Bayangan turunan sampai Gadog sudah terbayang...... Apalagi sudah jam 12.00, waktunya makan siang. Setelah memulihkan stamina, kami berangkat lagi dengan semangat. Perjalanan pulang selalu menimbulkan semangat, bukan? Tapi jalannya ternyata ampun – ampunan, rusaknya. Apalagi di turunan kebun sayur. Bekas – bekas ban motor menimbulkan alur yang dalam apalagi batu – batu makadam yang lepas disana – sini. Di rute ini, mendung semakin tebal sampai akhirnya hujan sangat deras di area hutan. Ternyata hujan deras dan jalan yang licin masih ketambahan sadel pak Hasbie yang lepas lagi. Sampai di bangunan yang tidak terpakai, operasi darurat dilaksanakan. Ternyata satu sisi mur yang mengikat sadel sudah halus sehingga menggunakan jurus Side B karena tadi memakai Side A. Perjalanan diteruskan kembali. Hujan tetap turun dengan deras bahkan semakin deras karena kami masuk area kebun teh yang terbuka. Sampai di dekat tower hujan buatan kembali sadel sepeda pak Hasbie lepas kembali dan setelah saya cek, drat murnya sudah habis sama sekali. Khabar baiknya, diujung aspal ada bengkel. Khabar buruknya, pak Hasbie harus TTB sampai ujung aspal. Dan jaraknya ? Ampuun dijee.... Akhirnya dikeluarkanlah jurus darurat : menggunakan kabel ties ! Kebetulan saya dan pak Bram bawa kabel ties. Sadel pun diikat dengan kabel ties ke seat post. Belum cukup? Diikat pakai kawat juga...hihihi..... Darimana kawatnya? Itu rahasia kami berempat....... Setelah melewati hujan, turunan dan makadam hancur, akhirnya sampai juga kami di ujung aspal mulus. Bengkelnya juga ketemu ! Tapi hujannya masih tetap turun.
ETAPE 7: Ujung Makadam – Gadog
Rute Ujung Makadam – Gadog full dikebut. Tapi hujan derasnya minta ampun. Rombongan terpisah menjadi 2 kelompok besar. Saya, pak Bram, pak Arifin dan ( juga) pak Hasbie di belakang sementara yang lain sudah melejit jauh di depan. Mendekati Gadog, sadel pak Hasbie bermasalah lagi tapi untung ada bengkel sehingga segera bisa diatasi. Rombongan I saya pikir menunggu di Gadog, tapi ternyata tidak. Akhirnya kami berempat melewati Katulampa dan istirahat sebentar di warung bakso. Lumayan buat tambahan energi nggowes ke Tamansari. Sekitar jam 4 sore, kami kloter II sampai di TSP dengan selamat. Lapar, lelah dan basah karena hujan tapi puass...... Minggu depan, rute Gunung Batu – Pura sudah menunggu....... Katanya tanjakannya nggak kalah sama Ngehe’......... Ampuuun.......
|
|  | Dalam ingatan saya, Bengawan Solo menjadi bagian memori yang tidak akan terhapus, karena masa kecil saya diwarnai aliran sungai ini. Mencari ikan, naik gethek tambangan dan yang pasti mencicipi ikan Bengawan Solo yang dulu besar-besar dan bermacam-macam. Kemarin, di Bojonegoro, saya sempatkan lagi mengunjungi Bengawan Solo, setelah banjir hebat beberapa bulan lalu.... Airnya sekarang coklat, banyak sampah dan orang2 tiada henti mengeksplorasinya.... Bagaimanapun, Bengawan Solo tetap menjadi bagian hidup Bojonegoro..... |
|  | Setelah beberapa minggu nggowes di dekat-dekat rumah, acara nggowes ke TW disambut meriah oleh TCC'er & rekan. Terbukti hari Minggu kemarin, rumah Gus Iful meriah seperti hajatan apalagi waktu datang konvoi 4 angkot...wuih bener-bener ramai....
Kami ber-enam belas (nanti ber-tujuh belas setelah om Ian bergabung di Taman Safari ) berangkat pukul 6.30 lebih. Agak kesiangan karena harus menunggu beberapa TCC'er. Acara nggowes kali ini lebih mantap, karena pak Yusuf yang lama absen akhirnya datang juga....
Diselingi angkot yang ndut-ndutan dan kejebak jalan yang mulai ramai, akhirnya kami sampai di Pos I sekitar pukul 8.00. Rakit ulang sepeda, ada yang sarapan, ada yang setor, ada yang ngelamun, ada yang pemanasan....sekitar pukul 8.30, TCC & friends start menuju TW trek... Trek TW hari Minggu kemarin khusus dibooking oleh TCC, jadi sepanjang jalan sampai finish nggak ketemu goweser lain...
Setelah masuk gerbang TW, insiden pertama terjadi : rantai sepeda pak Zaki putus karena nggak sanggup menahan power yang sedemikian besar.... Karena di urutan buncit, akhirnya pak Syaiful dan saya yang menemani pak Zaki, TCC'er yang lain sudah melejit karena tidak tahan melihat turunan mulus di depan... Setelah rantai sepeda pak Zaki bisa dibereskan, kami menyusul rombongan yang sudah melejit di depan.
Trek TW agak berbeda dibandingkan RA. Trek TW didominasi jalanan makadam naik turun yang relatif seimbang. Didominasi batu-batu lepas hampir sepanjang perjalanan, nyaris tanpa single trek yang cihui mantap, kecuali nanti di turunan pinus... Harus diakui, pemandangan alam TW lebih mantap punya...kalau pas di punggungan bukit dan kita melihat sekitar.......Maha Besar Allah yang menciptakan keindahan ini..... Beberapa kali saya berhenti - terutama di tanjakan - untuk mengagumi indahnya trek TW sambil mengatur nafas (hehehe.....ada aja alasan...)
Setelah sampai di pos sekolah, perjalanan dilanjutkan melewati tanjakan yang berhenti di pertigaan. Trek di GPS saya mengatakan, silahkan ambil kanan atau kiri....Saya coba konfirmasi ke om Ian dan Pak Ismu, akhirnya disepakati ambil jalan kiri.... Setelah menanjak dan belok kanan, ternyata jalan tersebut berakhir buntu yang ada hanya single trek ke arah kanan. QUE SERA SERA, ....show must go on... Pak Zaki yang jago mencari jalan hilang dengan yakin melewati single trek tersebut. Ada juga jalan pintas melewati turunan terjal, tapi rombongan pertama main aman saja melewati jalur yang lebih panjang tapi rombongan kedua (pak Syaiful, pak Ismu, pak Dani, pak Norman, pak Aco) sebagai DH'er, mencoba short cut turunan tadi.... beberapa adegan jatuh, terpeleset, angkat-angkat sepeda sempat direkam, sementara saya melacak rombongan pertama yang lepas tadi....
Entah bagaimana kejadiannya, setelah ditunggu lama tapi akhirnya datang juga, pak Ismu muncul di tanjakan sambil membawa ban belakang. "Ada masalah...." kata pak Ismu dari jauh....Saya balik kucing sambil membawa kunci pas yang katanya diperlukan.... Walah-walah....anting RD pak Ismu yang punya bakat bengkok, sekarang lebih bengkok nyaris berbentuk L.....Dicoba diluruskan tapi tetep bengkok, akhirnya diputuskan mengikuti aliran single speed....
Akan halnya jalan ke kanan dan ke kiri tadi, ternyata rombongan pertama muncul nggak sampai 500 meter dari pertigaan 'bermasalah' tadi, hehehe....
Perjalanan berlanjut melewati turunan berbatu lepas sampai akhirnya kami sampai di turunan pinus yang terkenal itu.....
Seat post diturunkan, decker dipakai, helm dikencangkan, do'a diucapkan.....mari kita turuun......tapi lha kok treknya begitu....memang benar turunan....tapi oh my god....lha itu ada akar, ada batu, ada bonggol kayu di tengah jalan? Dan waduuh...licin juga....drop off-nya juga mana tahan....belum lagi tikungan patah-patahnya..... Tapi itu kesan pertama.....beberapa tempat ada yang bisa dinikmati...beberapa tempat ada yang lebih parah dari trek awal kita masuk.... Saya yang sempat menikmati turunan, akhirnya jatuh juga karena salah ambil jalur dan membentur batang kayu yang tertutup rumput....TCC'er lain? Silahkan ditambahi cerita waktu melewati turunan pinus....yang jelas, semua merasakan jatuh, lecet-lecet dan mungkin memar-memar.... Tapi syukur tidak ada yang terluka....
Akhirnya kami sampai di jalan aspal mulus yang basah terkena hujan. Kami segera turun arah pulang ke TSP. Hujan mengiringi sepanjang jalan kearah Gadog. Beberapa tempat sangat lebat sampai wajah seperti ditusuki jarum. Sempat ada insiden rotor rem depan om Ian bengkok, tapi setelah dilepas -karena darurat- perjalanan berlanjut lagi sampai Gadog. Dari Gadog, perjalanan berlanjut kearah TSP melewati Katulampa. Karena saya harus mengejar jadwal jam 5 harus ke Jakarta, minta maaf harus cepat-cepat dan nggak sempat menikmati sup buntut yang kondang seantero jagat TCC... Salute buat pak Yusuf yang kembali bergabung, salute buat pak Iwan, salute buat semuanya... |
Minggu lalu, saya blusukan sendirian di Jl. Gajahmada, Sidoarjo. Jalan ini terkenal sebagai pusat toko oleh-oleh makanan khas Sidoarjo dan sebagian Jawa Timur. Misi saya yang utama adalah mencarikan pesanan orang rumah yang terobsesi dengan petis Sidoarjo yang katanya terkenal di seluruh dunia. Petis? Ya, petis ! Itu adalah pasta lengket yang biasanya berwarna hitam dan ada juga yang kecoklatan hasil fermentasi udang yang dimasak overcooked dan baunya (tentu) menggemparkan jagad kuliner internasional...... Tapi, rujak cingur tanpa petis atau tahu campur tanpa petis, adalah seperti laut tanpa garam.....dan kok ya ’kebetulannya’.....saya hobi makan rujak cingur dan campur itu...... Jadi.....dimana dikau wahai petis tersayang? Supaya saya nggak nyasar kemana-mana, akhirnya saya mendamparkan diri di toko oleh-oleh yang kelihatannya ramai saja....ambil petis dan segera kabur ke Juanda. Tapi sampai di dalam toko, tetap saja saya bingung dengan banyaknya jenis petis yang dijual, akhirnya ya sudah saya jalan-jalan dulu....ada teripang, timun laut, otot teripang, lidah sapi asap (lidah sapi ternyata panjang betul yaa? Baru tahu saya), berbagai jenis kacang goreng, lorjuk, keripik jamur, berbagai macam keripik udang, ting ting jahe, berbagai macam kerupuk, ..... dan tiba-tiba pandangan saya tertuju ke bungkusan plastik yang rasanya saya kenal.....   ”Lhaa...ini khan permen Sarsaparilla saya dulu”.....kata saya membatin dengan agak heran....”Ternyata masih ada, thoo....” Saya bolak balik bungkusan itu dengan masih tidak yakin. Permen berbentuk elips itu dibungkus dengan kertas membentuk tabung elips panjang. Gambar kepala suku Indian-nya masih saya kenal...Gradasi warna orange, merah, biru dan kuningnya juga menguatkan saya bahwa ini permen masa SD saya dulu...apalagi tulisan Sin A (dibaca Sina...) ...waah ya betul....ini permen Sarsaparilla saya dulu.....Walaah masih ada thoo....Batin saya dengan campuran antara heran, kaget dan bahagia........ Walah....permen Sarsaparilla.....Bukan main. Dulu itu....permen ini adalah favorit saya… Di jaman masih sepi banjir snack seperti sekarang, walah permen ini termasuk barang mewah di lingkungan saya. Saya ingat, dulu selain sarsaparilla ini, ada lagi permen kopi dan permen jeruk produksi Sin A juga ( Sin A ini kepanjangan dari Sindhu Amritha, nama pabrik permen di Pasuruan sana). Selain permen manis ini, saya ingat juga, dulu ada permen coklat jam JAGO dan permen coklat berbungkus putih dengan merk....saya lupa....tapi saya ingat betul ada tulisan FULL CREAM berwarna biru..... Permen Sarsaparilla? Rasanya gimana sih? Hmm...rasanya seperti root beer atau Coca Cola tapi tidak terlalu manis. Enak dan unik rasanya.... Saya tanya ke mbak penjaga, ”Berapa harganya?” Si mbak menjawab ” Enam ribu rupiah, pak.......” ” Hohoho....sebungkus isi 10 batang, harganya enam ribu rupiah?” kata saya dalam hati. Masih murah juga, ya? Dulu, kalau saya nggak salah ingat, harganya sekitar 25 atau 20 rupiah di tahun 80-an.....Saya tanyakan juga permen kopi dan permen jeruk ke mbak penjaga itu. Tapi stok lagi kosong, katanya. Gara-gara Sarsaparilla itu, misi saya gagal total..... Setelah sampai rumah dan oleh-oleh dibongkar, baru ketahuan si petis Sidoarjo tersayang lupa dimasukkan tas belanjaan......
|  | Harus diakui, hotel ini adalah (menurut saya) salah satu yang terbaik di Banyuwangi. Lokasinya sekitar 10 menit dari Pelabuhan Penyeberangan Ketapang dan sekitar 15 menit dari pusat kota Banyuwangi yang kecil itu. Didisain menyerupai Cottage ditengah-tengah kebun kelapan dengan halaman luas, hotel ini cocok buat mereka yang menyukai ketenangan, apalagi lokasinya yang di tepi pantai....hmmm... Kita bisa menikmati sunrise dan di pagi hari, bisa berjalan-jalan ke TPI (Tempat Pelelangan Ikan) tradisional. Sesuatu yang langka, mungkin... Detail arsitekturnya pun sangat unik dan kreatif, sebagai contoh : dindingnya dan sebagian jalan tersusun dari batu yang dipotong sebagian kemudian 'dipatahkan', gazebo - gazebo, dan pencahayaannya.... |
|  | Macet....itu pasti. Macet total berjam-jam....juga pasti (kalau jalan raya Porong diblokir warga). Tapi itu tidak sebanding dengan hancurnya kehidupan warga setempat..... masa depan yang hilang dan hidup seperti di restart dari Nol.... |
|  | Bulan lalu saya sempat sepedaan di kampung halaman. Sayangnya, waktu itu sudah sore dan habis hujan.....tapi no problemo.... Perjalanan diarahkan ke sebelah utara rumah ke sawah-sawah tempat saya dulu bermain, ke sungai yang airnya bening dan segar. Tapi waktu sampai di sana, ternyata sawah-sawah itu sudah di kapling-kapling menjadi tanah siap bangun (foto 046 dan 047)...dan sungainya sudah berubah menjadi seperti tempat pembuangan limbah...apalagi saya lihat beberapa gudang atau pabrik mengarahkan saluran pembuangan limbahnya ke sana...... Perjalanan berlanjut memotong jalan besar....menuju pantai...dulu setiap liburan sekolah, hampir setiap hari saya bermain di pantai ini...mencari kerang, remis, berenang, memancing...... Pantai yang dulu landai....sekarang sudah kena abrasi (048, 050)....dulu ada gosong pasir yang melandai jauh dari bibir pantai yang melindungi tegalan-tegalan pohon kelapa dari hajaran ombak yang kadang ganas... Diantara gosong pasir dengan daratan yang sebenarnya terdapat sebuah kolam air payau yang besar dan tenang. Disitulah dulu kawanan mujair, ikan glodog dan hewan-hewan pantai hidup.....bahkan dulu masih sering kita menemukan telur burung puyuh di sela-sela rumput di gosong pasir itu..... Semua berubah....semua berkembang.....yang tetap adalah kanak-kanak yang riang bermain di pantai.......dan perubahan itu sendiri..... |
|  | TAJUR HALANG : LICIN, JATUH DAN TTB
Untuk ketiga kalinya, saya nggowes ke Tajur Halang dan uniknya, semua melewati jalur yang berbeda. Nggowes pertama, bareng rombongan B2W (Dani Cs), nggowes kedua bareng dedengkot kuliner B2W – (Budissimo Cs) dan yang ketiga – sekarang- bareng kuncen Tajur Halang, pak Oni.
Sayang nggowes ketiga kemarin, pesertanya cuma sedikit : 4 orang ( Saya, pak Bram, om Agung dan pak Oni – kuncen Tajur Halang ). Mau dibatalkan dan digeser, tapi nggak enak sama guide yang belum tentu bisa menemani minggu depan.
Hari Sabtu ( 8/3/2008) – sehari sebelumnya- pak Ismu, pak Dani dan pak Adi S sudah berangkat lebih dahulu, tetapi hanya menyelesaikan trek pendek. Pak Adi malah melejit lebih dulu ke TSP meninggalkan pak Ismu dan pak Dani yang 2 minggu ini punya hobi baru, nambal ban bocor, hehehe.....
Berdua dengan pak Bram, jam 6.00 saya berangkat dari TSP ke meeting point : LIPPO Bogor dekat kantor Walikota. Sampai disana sekitar jam 6.30, om Agung ternyata sudah sampai. Tumben sepi. Biasanya beberapa puluh MTB’er ngumpul disini untuk genjot ke Embrio atau Tajur Halang.
Jam 7.00, pak Oni datang dan kami langsung ke BTM untuk masuk angkot. Sebetulnya ada opsi nggenjot ke Meeting Point berikut tetapi, hehehe.....naik angkot waelah.....Ampun tanjakannya....
Empat sepeda sukses masuk angkot berikut penumpangnya dengan tujuan berikutnya: Patung Garuda. Tajur Halang........kami datang........
PATUNG GARUDA
Angkot dengan sukses mengantarkan kami ke Patung Garuda. Hujan besar ternyata turun sejak kemarin sore (8/3/2008). Waduh alamat trek bakalan licin, nih..... Kami segera men- set up ulang sepeda. Cek FD, RD, rem dan tekanan ban. Walah, baru ketahuan, kampas rem belakang sepeda pak Oni sudah habis...tapi apa mau dikata the show must go on.... Berangkatlah kami berempat setelah terlebih dahulu berdo’a....semoga tidak terjadi apa-apa....
PATUNG GARUDA – PERTIGAAN
Dari Patung Garuda, kami langsung disuguhi jalan tanah yang sedikit menanjak dan licin, setelah itu belok kanan masuk single track menurun yang sangat licin. Harus hati-hati karena disebelah kiri ada jurang yang lumayan dalamnya. Lepas dari single track, kita disuguhi belokan patah yang menanjak kekiri....licin habis....ban sepeda selip dan akhirnya kami sukses TTB..... Lepas dari tanjakan licin tersebut jalan tetap menanjak tetapi berumput, sehingga tetap bisa digowes....hanya ada beberapa bagian jalan yang diperkeras dengan batu mc adam, tapi karena bekas hujan, bagian jalan tersebut malah licin dan membuat selip ban sepeda kami. Akhirnya kami sampai di pertigaan yang kalau kita belok kiri akan mengikuti jalur full turun sampai di Bogor Nirwana....tapi kali ini, kami belok kanan....full nanjak lagi... fiuuh....
PERTIGAAN – BAWAH SAUNG SENG / START TURUN
Belokan demi belokan dilewati dengan penuh perjuangan.....tanjakannya mantap abiss.....Pak Oni dan om Agung sudah melejit lebih dulu....saya dan pak Bram selalu setia di kloter kedua....Sampai akhirnya kami sampai di bawah saung seng. Saung Seng adalah pondok tempat istirahat para peladang yang menanami kawasan lereng Gunung Salak ini dengan sayur mayur dan buah. Gerimis sempat turun beberapa kali. Suasana juga mulai berkabut....
BAWAH SAUNG SENG / START TURUN - PATUNG GARUDA
Siap – siap turun........ Wah, saya akhirnya menarik nafas lega..... Protector segera dipasang dan seat post mulai diturunkan....tapi, lhoo...jalannya mana? Kami masih harus bersabar TTB karena single track-nya sudah habis digerus hujan. Lepas dari pipa air yang melintang, akhirnya tibalah saat-saat turun....tapi tetap harus dengan kewaspadaan tinggi karena di sebelah kiri ada pipa-pipa air dari bambu yang rawan pecah, jalur yang penuh batu dan disebelah kanan, banyak rumpun nanas yang sayang belum berbuah. Kalau jatuh kesitu, waduh alamat babak belur kita.... Single trek berbatu ini lumayan panjang dan full turun juga full licin....Manfaat full sus kelihatan banget disini. Kampas rem belakang yang habis membuat sepeda pak Oni mencuit-cuit mengerikan.... Etape ini diakhiri dengan turunan panjang jalan semen yang berlumut......harus hati –hati....lebih baik sepeda jangan di rem terus tapi direm bilamana perlu. Sangat berbahaya.... Tapi lhoo? Kita kok muncul di Patung Garuda lagi? Pendek amaat.....kata om Agung...
PATUNG GARUDA - WARUNG
Dari Patung Garuda, perjalanan bersambung ke kebun-kebun penduduk. Tetap single trek, hanya saja sudah lebih aman daripada trek sebelumnya....Hanya saja, menjelang on road, kita melewati single trek turun yang licin menyusuri pinggir jalan aspal. Ada beda tinggi sekitar 2 – 4 meter antara jalur offroad dan on road. Single trek tersebut berubah menjadi jalur tangga sebelum masuk on road yang turun.....Karena tidak direm dan sepeda melompat – lompat melewati jalur tangga itu, begitu on road, sepeda seperti mendapat momentum untuk melejit. Waduuh mantapp.... tapi tiba-tiba ada yang terlompat dari stang saya dan BLETHAKK....GPS saya jatuh. Suara blethaknya lumayan keras di jalan aspal.....Walah gimana nasib GPS yang sudah udzur itu? Alhamdulillah, setelah agak pusing sedikit, GPS kesayangan saya normal kembali....
WARUNG – BOGOR NIRWANA RESIDENT
Perjalanan berlanjut lagi setelah menghabiskan beberapa kaleng Pocari, beberapa botol air minum, beberapa batang Beng – Beng dan sebungkus kacang. Kali ini rombongan bertambah menjadi sekitar 10 orang setelah grup om Jerri bergabung. Single trek Tajur Halang di etape ini cukup unik, karena lepas dari single trek sawah dan sungai kita tiba – tiba melewati single trek diantara rumah penduduk yang padat.... Hati – hati jangan sampai salah masuk kamar rumah orang, hehe... Di etape ini juga ada turunan –turunan pendek yang curam dan licin bersambung tanjakan semen yang juga licin. Tercatat ada beberapa insiden jatuh di jalur ini.... Beberapa jalur di etape ini juga memaksa kita untuk TTB, karena harus melewati pematang-pematang sawah sempit yang padinya baru ditanam. Melelahkan juga. Apalagi matahari sedang terik-teriknya....Akhirnya sampai juga kami di Bogor Nirwana Resident, tepatnya di belakang The Jungle.... Setelah mampir di toko sepeda om Jerri, kami bertiga terus ke arah Air Mancur - TSP, sementara pak Oni belok kanan ke Tajur.....
Perjalanan yang mantapp..... Terima kasih untuk om Agung, om Bram, om Oni.... |
|  | Tanggal 19 Jauari lalu, saya agak gimanaa... gitu karena biasanya Sabtu atau Minggu saya 'bergairah' karena pasti ada acara nggenjot bareng teman2 TCC. Lhaa tanggal 19 itu saya terjebak di Surabaya tanpa sepeda. Akhirnya, saya putuskan ke kota masa-masa indah saya (hehehe) : MALANG. Singkat cerita, saya sampai di rumah saudara di Malang, disambut keponakan yang Audzubillah semakin gemuk dan saudara2 yang beberapa abad tidak basuo, hehehe... Lhadalah....waktu masuk garasi, pandangan saya terpaku pada sebiji Tyrano dan sebiji Hybrid Heizz (semoga salah nulisnya, hihihi...), wah rasanya seperti nemu emas beberapa puluh gram.....Wah, ternyata mas ipar saya keracunan sepeda waktu nyoba sepeda saya di Bogor dulu.... Minggu subuh, saya bangun dengan semangat '45 karena semalam diimingi trek Bedengan yang katanya maknyus nanjaknya.... Berhubung saya nggak bawa seluruh peralatan sepedaan, akhirnya beberapa part saya pinjam dari mas ipar dan keponakan, hehehe.... 5.30 pas, kami start . Berdua saja.... Rute yang dipilih, pun 90% on road karena mempertimbangkan sepeda hyrid Heizz tadi....Tapi ini on road yang mantap nanjaknya dan bersih udaranya...nggak seperti Sukamantri... Kami lewat jalan kecil beraspal bagus di sebelah rumah....rute pertama langsung turun tajam mak wuss.....tapi jangan salah....itu satu satunya turunan sebelum tanjakan tiada habis....menuju Perkemahan Bedengan... Satu - satu landscape hijau - indah tersaji di depan mata....Gunung Arjuno , Perbukitan Panderman, Putri Tidur, Gunung Kawi..... Pagi yang indah... Sinar matahari yang hangat - hangat diselimuti udara yang dingin.....Hmmm....Apa yang lebih indah selain hal ini? Tanjakan demi tanjakan dilewati dengan antusias...Sempat ada penanda TCC JALAN TERUS.....hehehe Sampailah saya di daerah Petung Sewu, daerah perkebunan jeruk di kaki pegunungan Panderman....Sayang, jeruknya baru layak petik sebulan lagi...Hiks.. Setelah melewati turunan panjang, akhirnya saya sampai di Bedengan. Daerah ini ditandai dengan pohon-pohon pinus dan sungai berair sangat jernih. Bersih dan adem.....Hmmm....dan landscape yang sangat memikat.... Dikejauhan, sebelah kanan terlihat Gunung Semeru yang mengepulkan asap dari puncak Mahamerunya , sebelah kiri, terlihat Gunung Arjuna dan Welirang....ditengah-tengah, terhampar kota Malang yang semakin berat menanggung beban ekspansi perumahan dan ruko yang serakah... Dengan enggan, saya meninggalkan Bedengan ini....kalau tadi nanjak, sekarang full turuuuuun....kecepatan sepeda mungkin bisa sampai 60 - 65 km. Angin dingin berkesiuran ditelinga, wuuzzz - wuuzzz... Mendekati akhir turunan, saya berpapasan dengan banyak genjoter yang mulai naik....ada 2 - 3 rombongan dengan sekitar 10 genjoter tiap rombongan....sampai di suatu warung, saya berhenti karena ada yang memanggil saudara saya.... Ternyata yang ngumpul adalah pak dosen doktor dan profesor yang rutin nggenjot ke sekitar Bedengan sini.... Sampun sepuh - sepuh (sudah tua-tua), tapi semangatnya bikin malu yang muda-muda....Heibatt.... Di warung itu juga, ada masakan yang membangkitkan nostalgia masa kecil saya : nasi empog (nasi jagung) dengan bandeng goreng dan sambal jeruk...ada apetizer pisang goreng gede-gede maknyus dan teh nasgitel....dinikmati sambil memandangi sawah terasiring dielus angin dingin pegunungan ......semilir......
KEBAHAGIAAN, KADANG TIMBUL DARI HAL-HAL SEDERHANA, saudaraku.... |
|  | Nggowes berpanas-panas ke Hill 1 dan Hill 2 Gunung Bubut selalu menantang. Kali ini, kami menemani sahabat-sahabat yang penasaran pengen nyoba trek mantap ini, om Agung dan teman, dan - ini yang menarik - Pak dan Bu Norman....
|
|  | A. TCC’ERS : 1. TCC - AGUS PRANOTO 2. TCC - ANTO 3. TCC – BRAM PRANOTO 4. TCC - DANI 5. TCC - ISMU 6. TCC - SYAIFUL 7. TCC – YUNUS 8. TCC- ZAKI 9. GS - NORMAN B. RUTE : Tamansari Persada – Taman Yasmin – Gunung Batu –Pertigaan Ciomas –Cikaret- Kota Batu – Pert. Lap. Bola Sukamantri – Warung Tutup – Kujang Raiders – Perkemahan Sukamantri – Simp 4 Taman Sari– Pom Bensin- Ciomas – Laladon – Bubulak – Taman Yasmin– Tamansari Persada
C. JARAK TEMPUH : 48,4 KM D. GENJOT TIME + WAKTU ISTIRAHAT : 8 jam 14 menit (6:38 – 14:52)
E. TOPOGRAFI KONTUR : TERENDAH 176,5 asl , TERTINGGI 888,9 asl (selisih 712 mtr dg jarak 23,81 km)
Waktu saya baca e-mail pak Syaiful waktu ngajak ke Sukamantri, saya sebetulnya agak grogi juga. Wah, alamat pasti nanjak, nih...nanjaaak terus ngalahi Sentul kemarin. Tapi berhubung penasaran, ya di - ok saja sambil deg-degan. Beberapa hari sebelumnya, sepeda di tune-up biar maknyus. Driver-nya juga di-tune up dengan pemanasan sebelum nggenjot (beberapa kali kram saya telusuri ternyata karena kurang pemanasan, ternyata). Pas hari H, akhirnya saya putuskan memakai sepeda HT yang saya culik dari kantor, hehehe....
Minggu pagi yang mendung dan basah....Pas lagi mbales SMS, pak Dani datang.... Waduh, ampun pak, pesenan yang saya janjikan ketinggalan di kantor..... Ngumpul di Orchid jam 6.00, akhirnya jam 6.30, ada sekitar 8 TCC’ers berkumpul...semua HT, kecuali sepeda pak Syaiful dan pak Bram
Beberapa saat kemudian, setelah berdo’a, kami berangkat....lewat Yasmin, pasar kaget, terus lurus ke arah kampung. Di TL RS. Karya Bhakti, kami belok kanan ke arah Gunung Batu. Turunan dan tanjakan sukses dilewati. Belok kiri ke arah Ciomas, waduh....obstacle berupa angkot mulai jadi hambatan tersendiri, karena hanya supir dan Allah yang tahu, mau dibawa kemana si angkot itu. Sampai di pertigaan, kami re-group dulu, dan ngebut lagi ke arah Cikaret.......eits...tapi macet panjang menghadang kami di depan. Ada bubaran pengajian, sepertinya....Akhirnya kami belok kanan, ngambil jalan-jalan tikus lewat perkampungan padat penduduk ( yang ....sssttt......menyimpan ’bening – bening’ kata penggenjot yang sempat-sempatnya survey di jalan sempit begitu, hahaha.... untung nggak jatuh di lapangan bulu tangkis....)
Setelah melewati jalan tikus, kami masuk jalur angkot yang ke arah Sukamantri. Dimulailah perjalanan nanjak nan panjang itu...Mulanya sih biasa saja, setelah itu....lha kok nafas sesak, betis kenceng, paha linu dan mata mulai kepyur – kepyur berkunang – kunang. Sampai di suatu tempat entah dimana, pak Dani berhenti. Pak Ismu sudah melejit jauh. Saya sih....berhenti juga.... Waktu berhenti itu, ada penggenjot misterius yang menyalip sambil senyum-senyum. Nggak pakai helm, pakai celana pendek, kaos BALI. Saya pikir warga sekitar....
Setelah ambil nafas 1 -2. Saya nggenjot lagi ngejar pak Ismu. Tubuh mulai panas mesinnya, jadi sayang kalau lama berhenti. Akhirnya penggenjot misterius itu saya salip dan ganti saya berhenti di pos ojek pertigaan lapangan bola. Penggenjot misterius itu akhirnya berhenti juga di pos ojek. Ternyata penggenjot misterius itu namanya pak Norman, dari Cilebut....Mantaap....Kalau saya, pikir-pikir dulu nggenjot sendirian ke Sukamantri sini....pak...
Satu persatu, TCC’ers bergabung kembali. Kloter pertama (pak Ismu – only) berangkat dulu ke arah Warung Tutup. Sementara yang lain, narsis, foto-foto dulu. Setelah tambah perbekalan, kami berangkat lagi.....Dimulailah petualangan yang sebenarnya.....
Waduuh jadi nanjak dari bawah tadi masih kurang berat, ya?
Jalanan berupa makadam sepertinya datar....tapi lha kok berat digenjotnya, ya? Udara mulai berubah lebih dingin dan segar....sudah bau-bau gunung, nih...Semangat terpacu lagi begitu melihat di depan sepertinya ada warung. Hmmm....enak juga kalau minum teh manis panas – panas..... Eeeh, ternyata bukan warung, saudara..... Mungkin dulu warung, tapi sekarang dijadikan rumah, tapi ada yang jual gorengan....Berhenti atau nggak? Saya putuskan terus saja...Sementara TCC’ers yang lain memilih berhenti untuk mengisi perut.
Ternyata jalanan makadam berubah menjadi jalan berbatu lepas. Pakai hard tail ternyata lumayan.....lumayan pegel, maksudnya..hehehe... Di tengah jalan, saya ketemu pak Ismu yang sudah meluncur turun dari Warung Tutup. Langsung pulang ke TSP... Pemandangan kota Bogor yang diselimuti kabut tipis mulai terlihat. Bagus sekali. Sayang jalannya tetep jelek seperti waktu saya kesini setahun lalu. Setahun lalu, saya kesini tanpa haheho kecapekan, lhooo...soalnya naik mobil, hehehe... Sampailah saya di warung tutup....beberapa goweser lewat dari arah Simpang 4 Tamansari. Sambil haheho dan berkeringat juga....Berarti trek ini memang berat, ya? Dari mana pun arah datangnya.... Setelah foto-foto dan istirahat, kami meneruskan perjalanan lagi. Tetep jalanan dengan batu lepas, nanjak dan angin lebih kencang. Di pertigaan kami berhenti untuk re-group lagi, dikejauhan kelihatan jajaran pohon-pohon pinus ....sepertinya sudah dekat, ya? Dari arah atas, saya berpapasan dengan beberapa orang yang turun dari Buper Sukamantri...hmm, yaa, sepertinya sudah dekat, karena sudah dekat, kami berhenti lagi ..
Jalan yang nanjak berbatu, berubah menjadi jalan berbatu yang nanjak dan licin. Ban sepeda selip melulu....waduh....Kami sampai di gerbang Kujang Raiders dengan penuh perjuangan. Foto – foto dulu di gerbang yang legendaris itu terus berangkat lagi...Indomie panas terbayang – bayang terus....tapi jalan kok ya nggak habis-habis, ya?
Jalur dari gerbang Kujang Raiders ke arah Buper Sukamantri dikenal dengan nama Jalur Kelok 12. Berkelok – kelok memang benar...tapi kalau jumlahnya 12, saya belum menghitung...lha untuk bernafas saja susah, hehehe.....
Jalan berbatu yang nanjak dan licin berubah menjadi jalan berbatu licin yang nanjak dan berkelok – kelok....tapi dibeberapa tempat mulai tertutup rontokan pinus jadi agak kurang licin juga....akhirnya di suatu kelokan mulai terlihat rumah jaga Buper Sukamantri. Ayo semangat – semangat....
Akhirnya dengan mengerahkan sisa – sisa tenaga, sampai juga saya di Buper Sukamantri yang terkenal ini..... Sepertinya enak juga kalau berkemah di sini yaa? Sempat terlintas bagaimana kalau NR ke sini...tapi sementara saya simpan dalam – dalam dulu...hehehe... ADA YANG TERTARIK ? Indomie dan teh panas segera diserbu...hmmm...rasanya ini Indomie terenak di dunia....tehnya juga enak....tiduran disini juga enaak..... Setelah istirahat dan pemulihan, jam 12.45 kami berangkat turun. Ada rencana offroad, tapi berhubung tidak ada trek dalam GPS dan menurut informasi jalur yang akan dilewati rusak berat, kami putuskan lewat jalur on road.
Jalur on road full turun. Melewati jalan berbatu lepas, full sus memang mak nyus di banding hard tail. Punggung dan tangan saya jadi linu sampai harus berhenti beberapa kali. Memasuki jalur aspal (warung tutup belok kiri ) linu-linu langsung hilang tapi angkot giliran datang.....
Sempat ada insiden kecelakaan kecil menimpa ’temannya pak Anto’ tapi perjalanan bisa diteruskan tanpa ada masalah serius. Kebut-kebutan terus melewati jalan-jalan kecil sepanjang Ciomas, Laladon, Bubulak, Yasmin, akhirnya kami sampai di TSP pukul 14.52. Sehat, bahagia tidak kurang suatu apa. Alhamdulillah....
|
|  | Mungkin ada yang asing dengan ketiga nama tersebut. Ketiga nama itu adalah nama-nama daerah di pelosok Musi Banyuasin, Sumbagsel. Pekerjaanlah yang mengantar saya ke ujung-ujung anak sungai Musi. Ini kunjungan kelima saya ke Musi. Waktu pertama saya datang, tukang speed yang speed boat-nya saya sewa pernah berkata, "Kalau sudah kena air sungai Musi, pasti suatu saat, bapak kembali lagi." Hahaha. Benar atau nggak, yang jelas, setelah itu bolak balik saya ke Palembang sini... |
| |