Mengeja Hadir Tuhan
Tuhan pernah punya banyak nama di bumi tak banyak musim ini
masa itu, rumah Tuhan bertebaran di gerak dan tidur penyebutnya
sebagian mereka salah sebut dan kurang huruf kala mengeja nama Tuhan
tapi Tuhan enggan berang pada tabiat lidah yang menyebut nama-Nya
Tuhan pernah begitu ramah bentuk di bumi tak banyak musim ini
masa itu, Tuhan ada di air dan daging buah serta tubuh tanah penyebutnya
sebagian mereka ceroboh menggigit dan culas mengunyah kala Tuhan dermawan
tapi Tuhan senyum paham pada ratapan sekedar lapar yang bersumpah di nama-Nya
Tuhan pernah mudah ditatap dan gampang dieja di bumi tak banyak musim ini
tapi sekarang dimana Tuhan itu bersembunyi ?
*ciputat 081006 21:46
Tamuku, si Ramadhan
Selepas petang Ramadhan mengunjungiku. Dia luapkan pandangan takjub pada ujung anak lidahku. Batang kerongkonganku kaku serupa lambung waktu yang berhenti mencerna yang dikunyah mata. Kami berhenti berujar juga saling mempersilahkan. Seharusnya tak layak seperti ini, karena orang tua kami teman sebuaian.
Tetapi, demikianlah. Di sepanjang kunjungan dia, mataku masih tercagak kagum, atau apa. Mulutku terganjal desis takjub, atau apa. Begitu seterusnya hingga pinggan waktu retak pun Ramadhan beranjak.
Di atas meja sepadasan air dari simpanan batang betung yang dia bawa, abai merembesi pencernaan fikir dan hatiku.
*ciputat 041006 21:30
Berjalan dengan Ramadhan
zikirku terasa begitu panjang
setiap basah lidah satu ucapan
kau berlari dalam jarak tak berbayang
dan gelontoran tubuhku terjatuh di banyak halaman
air mataku pun tertampung di ratusan kendi
ketika pintu-pintu indraku kau belalakkan
satu persatu ruh harus kunikmati sendiri
dan jutaan nama membunuhku pada tiap tegukan
aku berjalan dengan Ramadhan
kami beriringan tapi saling diam
*ciputat 27-300906 22:25Di Rahim Ramadhan
di rahim Ramadhan akulah janin tanpa tulang
bergelayut terikat di dindingnya dalam cahaya tanpa bayang
di rahimnya ia abaikan busuk kejadianku dari tirakat laku sumbang
dan dimandikannya aku dengan darah dari madu sang pemilik tembang
*ciputat 081006 21:53
Berbahasa dengan Ramadhan
dengan bahasa darah Ramadhan ajarkan aku makna cinta
tanpa alinea dan tanda baca dia kisahkan penjelmaan hidupnya
ketika kehinaan kejadian berubah rupa
berupa kepatuhan meletakkan jutaan sel pada lintasan yang sudah ditata
dengan bahasa darah inilah cinta yang Ramadhan ajarkan
"nyanyian nafas itu bak banyak tembang yang diselaraskan."
*ciputat 290906 22:33
Puasa Di Hari ke-100
:- 119 hari setelah 27 Mei 2006
/Tarawih
tarawih malam ini menjamuku di beranda Ramadhan
dia sisihkan sesajadah ruang untukku
di antara puing banyak nama
kemudian kami bercerita berabad rakaat
kami bertukar zikir juga berabad rakaat
ketika tarawih lunglai dihitungan sujud
witir menyambutku dari ruang tamu Ramadhan
ada wangi kanthil terhiduku begitu keras..
/Sahur
sepotong telegram
mendatangiku tadi malam
setengah memaksa
dia bujuk aku membuatnya tanpa busana
di pinggir nyawaku
dia berbisik ...
"aku dan mbokmu ndak sahur di rumah titik bapakmu"
/Berbuka
Ya AlLaah, aku berbuka setelah kujaga puasa mataku
dari perih pada amben mak yang kosong
dari perih di sorjan bapak yang kehilangan tuan
dari perih papan dakon jeng Sri yang kesepian
Ya AlLaah, aku berbuka setelah kubentengi puasa mulutku
dari tirisan air sumur kami yang tertutup nisan
dari lumatan gandul kami yang memerah di laut
dari manis nasi yang amblas di lumbung bumi
Ya AlLaah, aku berbuka setelah kupagar puasa telingaku
dari nyanyian shalawat bayi-bayi kami yang menyambangiMu
dari kidung asmaradhana para mempelai yang bersanding di langit
dari gendhing tanpa bonang para resi yang tersedak namaMu
Ya AlLaah, terima puasaku dan izinkan aku berbuka..
*ciputat 230906 – 240906 22:52-------------------------
penuhi hatiku dengan-MU
http://pakcik-ahmad.net