Muhammad's posts with tag: solilokui
Entah kenapa, tiba – tiba saya ingat pak Toha. Pak Toha dan keluarganya, dulu – berpuluh tahun yang lalu – menumpang tinggal di kebun belakang rumah bapak ibu, yang dalam istilah Jawa dinamakan magersari. Saya ingat dulu, saat pertama kali pak Toha datang ke rumah, bersama istrinya – yang kemudian biasa dipanggil le' Ni – dan dua anaknya, Muslimin dan Musliman -keduanya mungkin berumur empat dan tiga tahun , hitam kecil kurus dan perutnya buncit- berdiri agak membungkuk seperti menahan beban, menanyakan bapak kepada saya.
Entah apa yang dibicarakan, saya yang masih kecil- mungkin kelas dua atau tiga SD- hanya melihat dari ruang belakang, sampai akhirnya ibu masuk dan membawa besek berisi mangga arumanis. Mangga paling manis yang pernah saya rasakan. Esoknya, ada kesibukan di kebun belakang rumah, karena ada beberapa orang yang gotong royong mendirikan rumah. Tidak sampai tiga hari, sudah berdiri sebuah rumah berdinding gedek, beratap welit - daun kelapa yang dianyam - dan berlantai tanah… Pak Toha dan istrinya bekerja sebagai buruh lepas. Membersihkan halaman, mengapur dinding rumah, menebang kayu sampai kadang menjaga rumah yang ditinggal pemiliknya dan buruh cuci. Sore ketika menerima upah, diterimanya uang itu dengan takzim... badan menghormat sambil mengucapkan "Matur nuwuun.... Alhamdulillah...." Dengan wajah gembira penuh syukur....... Sore harinya, pak Toha mengajar mengaji di musholla kecil dekat rumah dan atas jasanya ini, pak Toha tidak pernah menarik bayaran. Muridnya banyak…. Disaat akhir Ramadhan, dua hari sebelum 1 Syawal, biasanya ibu akan memanggil le' Ni, memberinya beberapa kilo beras zakat dan beberapa kilo lagi untuk membuat ketupat, beberapa kilo beras ketan, kacang tanah dan bahan-bahan lain untuk membuat lepet. Mengenai beras zakat itu, saya mempunyai rahasia…Beras-beras zakat yang didapat pak Toha dan keluarganya, diberikan lagi kepada orang-orang yang menurutnya lebih membutuhkan karena : "Pak Toha ini khan masih kuat, masih bisa bekerja…..…" begitu katanya..... Entah kenapa, tiba – tiba saya ingat almarhum pak Toha. Mungkin Allah sedang mengingatkan saya ......
Kemarin ada ada nomor telepon tak dikenal yang tiba – tiba muncul di layar HP saya. Ketika saya angkat, ternyata yang menelpon saya adalah saudara yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Setelah basa basi menanyakan khabar, beliau menanyakan sesuatu.... " Ada pekerjaan nggak, buat adikmu.....?" Saya membayangkan wajah 'adik' saya itu, tapi lama betul, bayangannya muncul dalam ingatan saya. Sudah berapa puluh tahun saya tidak ketemu, 'adik' saya itu ya? Akhirnya telepon ditutup dengan janji saya untuk menanyakan kesana dan kesini......sampai akhirnya saya pusing sendiri... Sering ada telepon seperti ini. Malah ada yang menelpon saya pukul setengah dua belas malam dan menanyakan, "Pak, ada kerjaan nggak buat saya? Sudah lama nganggur, nih...." Bahkan dulu, ada yang hampir tiap malam datang ke rumah, mengajak ngobrol dan endingnya meminta saya memasukkan beliau ke tempat saya kerja..... Ada juga yang ayahnya menelpon dan meminta anaknya dimasukkan ke tempat kerja saya, asal dengan syarat 'istri si anak ikut kerja juga'........ Ada yang pernah menitipkan CV juga, tapi ketika saya bilang kemungkinan akan dikirim ke Aceh, CV-nya ditarik lagi...... Apakah saya sukses sebagai informan dan 'penyalur' ? Wah, yaa tidak juga..... Ketika hal itu saya katakan kepada sahabat saya, dia bilang...... "Bersyukur, tho mas...sampean masih menjadi pihak yang menjadi bagian dari harapan mereka......"
|  | Bulan lalu saya sempat sepedaan di kampung halaman. Sayangnya, waktu itu sudah sore dan habis hujan.....tapi no problemo.... Perjalanan diarahkan ke sebelah utara rumah ke sawah-sawah tempat saya dulu bermain, ke sungai yang airnya bening dan segar. Tapi waktu sampai di sana, ternyata sawah-sawah itu sudah di kapling-kapling menjadi tanah siap bangun (foto 046 dan 047)...dan sungainya sudah berubah menjadi seperti tempat pembuangan limbah...apalagi saya lihat beberapa gudang atau pabrik mengarahkan saluran pembuangan limbahnya ke sana...... Perjalanan berlanjut memotong jalan besar....menuju pantai...dulu setiap liburan sekolah, hampir setiap hari saya bermain di pantai ini...mencari kerang, remis, berenang, memancing...... Pantai yang dulu landai....sekarang sudah kena abrasi (048, 050)....dulu ada gosong pasir yang melandai jauh dari bibir pantai yang melindungi tegalan-tegalan pohon kelapa dari hajaran ombak yang kadang ganas... Diantara gosong pasir dengan daratan yang sebenarnya terdapat sebuah kolam air payau yang besar dan tenang. Disitulah dulu kawanan mujair, ikan glodog dan hewan-hewan pantai hidup.....bahkan dulu masih sering kita menemukan telur burung puyuh di sela-sela rumput di gosong pasir itu..... Semua berubah....semua berkembang.....yang tetap adalah kanak-kanak yang riang bermain di pantai.......dan perubahan itu sendiri..... |
 Bogor yang kota hujan, memang mengandung banyak konsekuensi.... Seperti kemarin itu....ternyata ada yang bocor di beberapa bagian atap rumah...satu di kamar belakang, satu di kamar depan, satu di ruang tv, satu di dekat dapur dan sebaris di teras...waduh cilaka, banyak juga..... Terpaksa sore-sore yang berhujan lebat itu, saya nekat naik genteng rumah....lha paginya mau ditinggal, kok...jadi harus dibereskan dulu kekacauan ini... Tiba-tiba saya ingat masa kecil saya dulu...kalau pas hujan lebat seperti ini, saya dan gank sudah pasti tanpa janjian langsung melejit ke jalan yang puanjang dan lebar dan yang pasti sepi, karena jalan ini jalan khusus untuk keluar masuk ke pabrik. Kalau hujan lebat, jalan ini seperti sungai yang panjang dan lebar dan pasti rame oleh mereka yang main hujan-hujanan....sepak bola, lari-lari, berendam (!)...pokoknya sebelum hujan reda, bibir biru dan jari-jari mngkisut kedinginan tiada kata berhenti.... Airnya bening, segar dan herannya, diantara kami tidak pernah ada yang kena flu gara-gara main hujan-hujanan itu....  Dua berandal saya keheranan melihat saya 'main' hujan-hujanan...."Kalau sakit, gimana? Nanti dibawa ke dokter, lhooo...." kata bungsu saya... Si sulung malah ngendon di kamar, asyik main game Zuma... "Ayo hujan-hujanan..." kata saya. "Nggak mau...!!" jawab mereka kompak.... Jalanan depan rumah sepii...saya ke teras, ngambil ember bekas nyuci sepeda yang lupa dimasukkan....penuh air hujan... Walaah.....air hujannya lhaa kok hitam pekat begini....waduh...lhaa ini acid rain, iniii.... Saya langsung bilas, mandi air hangat, minum tera F dan minta jahe hangat ke PM saya..... Nanti saya pasang pengumuman : ANAK - ANAK DILARANG MAIN HUJAN-HUJANAN........ yang besar di pintu depan..... Foto dari : http://l.yimg.com/www.flickr.com/images/spaceball.gif
Bagi saya, koneksi internet itu wajib karena kalau pas blusukan 'jalan-jalan' jauh dari kantor, ada saja e-mail yang masuk dan minta dijawab...termasuk juga ngecek reply atau menjawab reply dan kirim postingan seperti ini....hehehe... Tadi malam itu, saya terdampar disuatu kota di Jawa Timur bagian selatan, tiba-tiba ada sms masuk, "Pak, tolong dicek, ada kontrak yang perlu dipelajari..." Berhubung GPRS lemotnya bukan main, setelah berkali-kali gagal, saya ke Warnet yang kok ya pas di depan tempat saya menginap. Anak seusia SMP - SMA banyak sekali.... Setelah download e-mail dan mbalesi ajakan sepedaan hari Minggu, saya close browser internet saya, dan saya lihat ada folder 'funny pics' di desktop....te rhubung via jaringan ke server...waktu saya klik, ya memang lucu - lucu..... Iniii misalnya......  Tapi waktu saya cek folder-folder lain, ya ampuun...... lhaa kok isinya sembarang close up onderdil dari berbagai angle, berbagai posisi dan berbagai video ? Saya hitung, ada sekitar 50 folder, kalau misalnya dirata-rata per folder paling sedikit ada 100 file, khan ya ada 5000 file koleksi 'begituan', tho? Oh my God......  Bahwa warnet & pornografi itu adalah identik, sudah jadi rahasia umum, tapi kalau blak-blakan bikin koleksi dalam folder yang bebas dinikmati begini, baru sekarang saya tahu.... Saya merinding melihat anak - anak SMP - SMA disekitar saya, yang secara biologis sudah matang, tapi secara sosiologis - ekonomis masih belum waktunya....lha terus mau disalurkan kemana 'bom waktunya' ? Saya merinding lagi.....inget dua berandal saya di rumah.....tugas maha berat menunggu saya......, kami....
 | PNS..... | Jan 8, '08 10:19 PM for everyone |
Monggo....silahkan duduk, pak....Maaf sepi...sudah pada pulang.... Mau presentasi yaa? Waduh....sudah nggak usah saja... (Proposal yang saya susun dengan susah payah selama dua minggu, ditumpuk didepannya...) Begini....aturan mainnya seperti apa? Lhaa terus, buat saya berapa? Harus jelas dimuka dulu.... Khan saya harus ngatur sama Dewan, Kepala Dinas....Kalau mau cepet yaa bapak harus subsidi.... (Bapak PNS itu melihat jamnya...) Wah, saya mau SHALAT dulu....
Dulu...setelah ujian skripsi, dosen pembimbing memanggil saya...Saya ditanya, "Mau kemana setelah ini? Mau jadi dosen nggak?" Saya bilang, "Terima kasih, pak...Saya mau cari pengalaman dulu...." Dua hari lalu, saya bersama partner saya - yang akhirnya saya ketahui seorang dosen - 'jalan-jalan' ke pelosok Jawa Timur untuk mengurus beberapa hal.... Dalam perjalanan, dia baru ingat kalau harus menjaga ujian...agak panik juga, tapi...."Ya sudah, deh, nggak apa-apa.." sambil terus menelpon pak Kajur, "Sorry, pak, saya lupa ngirim surat ijin. Nggak apa-apa, ya? Menyusul - menyusul...Iya...lagi ngurus proyek...Iya...Beres-beres..Rabu tak masuk...Iya..." Setelah itu, pak Dosen ini mengeluarkan apologi.. "Kalau gaji dosen tinggi.....saya nggak akan mroyek begini, pak...Enak di kampus, jadi dosen, riset, sekolah lagi...." Ada nada getir di suaranya.... Saya ingat tawaran dosen saya dulu....kalau sekarang saya jadi dosen, apa saya akan mroyek seperti pak Dosen ini, ya?
 Hari hari terakhir ini, Allah memperlihatkan kepadaku, bagaimana 'jelaga' membuat hati menjadi sekeras batu. Naudzubillah min dzalik....semoga Allah tetap melimpahkan ridha-Nya kepadaku dan keluargaku...
|  | Wah, gempa terjadi lagi di Padang dan Bengkulu, padahal hari Sabtu malam kemarin sempat malam mingguan di pantai Padang, dan ngobrol sama teman2 seperjalanan betapa ringkihnya kota Padang ini kalau terjadi Tsunami. Bagaimana tidak? Sepanjang sisi selatan kota begitu terbuka menghadap ke Samudera Hindia tanpa penghalang apa pun. Kondisi yang sama juga bisa kita lihat bila kita melakukan perjalanan dari Pesisir Selatan ke Muko - Muko terus ke kota Bengkulu. Kedua kota ini, Bengkulu dan Padang adalah kota yang familiar bagi saya, karena beberapa kali saya melakukan perjalanan panjang dari ujung Sumbar ke ujung Bengkulu, baik yang berbatasan dengan Lampung maupun Sumsel. Kota yang terbuka, berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, menyajikan pemandangan yang menakjubkan, tetapi juga membahayakan disaat gempa seperti sekarang ini. Semoga tidak akan terjadi Tsunami Aceh kedua. Semoga gempa diawal Ramadhan ini menjadi pertanda bagi kita untuk semakin mendekat kepada Allah SWT....
Sumber foto : Detik.com |
Setiap tanggal 17 Agustus, saya selalu ingat pak Siti, bapak tua di desa tempat saya KKN. Itu 12 tahun yang lalu. Waktu itu, kami berdua belas ditempatkan di desa Jenggrong, masuk 1 jam dari jalur jalan raya Probolinggo – Lumajang, tepat di pertigaan Ranuyoso. Kami berdua belas diangkut dengan truk menuju desa Jenggrong. Seperti apakah Jenggrong ? Desa yang akan menjadi tempat kami hidup selama 2 bulan… Tidak ada listrik. Tidak ada air. Tidak ada telepon. Tidak ada TV. Lebih gawat lagi, semua penduduk desa hanya bisa bahasa Madura !!! Untunglah diantara kami ada 3 yang fasih berbahasa Madura. Masalah yang lebih besar setelah kami sampai dilokasi, adalah tidak ada WC yang sesuai dengan pengertian kami. Yang ada adalah liang ukuran 1x1 (yang dalamnya saya tidak tahu) ditutup papan-papan kayu yang pas untuk duduk dengan lubang ’bidik’ ditengahnya. Saya tidak berani membayangkan bagaimana kalau papan –papan itu tidak kuat menyanggah beban tubuh dan jatuh kedalamnya. Bukan main, 20 km dari jalan nasional, ada desa yang nyaris terisolir dan masuk dalam daftar IDT...... Hambatan saya pribadi adalah bahasa. Masalah – masalah lain yang menurut teman-teman dalam kelompok kami berat, seperti listrik, telepon, TV, MCK, bukan masalah yang prinsipil bagi saya. Saya sudah pernah menghadapi yang lebih berat. Beberapa hari setelah saya di Jenggrong, saya bertemu pak Siti. Sempat grogi karena tidak bawa guide, tapi akhirnya lancar karena beliau bisa berbahasa Indonesia. Kami bertukar cerita sebentar dan diakhiri janji saya untuk kapan – kapan datang silaturahmi ke rumah beliau.... Janji tinggal janji sampai akhirnya saya bertemu kembali dengan pak Siti, di suatu subuh.. Beliau memakai seragam LVRI. Ketika saya tanya, beliau menjawab, ”Mau ikut upacara, nak. Sekarang khan tanggal 17 Agustus....” Ketika saya tanya lagi mau naik apa, beliau menjawab, ” Jalan kaki saja, ke Klakah. Maaluu kalo saya ndak ikut upacara” Saya terdiam ......membisu. Klakah itu jauh dari Jenggrong sini. Hampir 30 km melewati jalan berbatu – batu, yang mobil pun enggan lewat... Besok, tanggal 17 Agustus…. Kemarin di radio saya dengar berita bahwa para cacat veteran hanya mendapatkan ‘uang pensiun bulanan’ sebesar dua puluh dua ribu lima ratus rupiah……..
| |