Akhirnya, sampai juga saya di Nangleng yang siang itu cukup sejuk........
Nangleng?

Saya ingat waktu itu sekitar bulan Maret 2007. Saya penasaran dengan diterbitkannya seri peta Puncak Trek Guidebook oleh WIPA (puncaktrek.com). Setelah mencari info di indobackpackers dan mr. Google, akhirnya ada e-mail dari bu Korns, dan singkatnya satu seri puncak trek diantar ke rumah...(terima kasih, bu Korns... ).
Setelah membuka peta – peta itu, akhirnya saya tahu dimana Nangleng itu ....dan ternyata
pengetahuan saya tentang wilayah Indonesia – Jawa Barat – Bogor (zoom mode
on) ini alangkah minimnya...... dan rasa ingin tahu saya terhadap wilayah lereng-lereng Gede Pangrango ini semakin naik tensinya dari hari ke hari.
Nangleng dalam Puncak Trek Guidebook masuk dalam Sector B – Ciawi yang diapit oleh Jalan Raya Puncak dan Jalan Raya Sukabumi dan keduanya bertemu di Pasar Ciawi dengan variasi ketinggian menurun dari 1160 mdpl sampai yang terendah 711 mdpl di barat daya dekat Kampung Nangleng. Dari Kampung Nangleng ini, hutan membentang sejauh 10,5 km ke arah puncak Pangrango....
Di sektor B ini terdapat kebun – kebun teh seperti Lemahneundeut, Arca dan Pancawati. Penduduk kampung sudah mengambil alih sebagian besar perkebunan ini untuk ditanami
sayuran.
Di sektor B ini juga, dapat kita temui peninggalan sejarah seperti Arca Domas dan makam tentara Jerman, beberapa Curug yang masih alami, Tapos, beberapa base camp outbound,
workshop keramik FX Widayanto dan kebun – kebun organik serta hutan – hutan yang masih menyimpan flora dan fauna yang beragam seperti jenis – jenis anggrek, Monyet ekor panjang, Owa Jawa, babi hutan, tupai, musang, elang Jawa, burung puyuh gonggong Jawa, cekakak sungai, cucak kutilang dan tekukur.
Pengolahan kebun dan sawah yang ekspansif menjadi ancaman tersendiri terhadap keanekaragaman tersebut.....
Akhirnya, sampai juga saya di Nangleng...
Waktu itu hari Minggu kami bertiga : saya, om Agung dan om Ro'uf berangkat sekitar pukul 7.30 dari Kompleks Hero / Giant Pajajaran. Semula, om Guntur, kang Bagja dan om Oki akan bergabung juga tetapi karena ada kesibukan akhirnya kami bertiga yang berangkat ke Nangleng.
Setelah menyempatkan diri sarapan, kami bertiga berangkat. Semula saya usulkan naik
angkot saja sampai Nangleng dan di Nangleng barulah kita mulai eksplorasi rute, tetapi om Agung dan om Ro'uf mengusulkan alternatif nggowes dari meeting point : Alamaak.....batin
saya..... tetapi ya apa boleh buat.....
Kami bergerak menuju Tajur – Pertigaan Ciawi. Udara masih segar sisa hujan semalam. Lalu lintas padat : angkot, sepeda motor, mobil pribadi, orang – orang bersepeda.....mendekati pertigaan Ciawi, lalu lintas semakin ramai dan jalan semakin menanjak...
Selepas pertigaan Ciawi, kami belok kanan ke arah Sukabumi. Jalanan semakin ramai dan semakin menanjak juga. Tetapi inilah nikmatnya bersepeda : selap selip, meliuk – liuk diantara kendaraan, kalau perlu ambil kiri full lewat celah – celah jalan yang mustahil dilewati
kendaraan lain .....
Selepas
Cikereteg, jalan yang menanjak berubah turun........ Waaah....turunan panjang
nih....dan turunan panjang itu berakhir di pertigaan Cimande. Waktunya belok
kiri !
Kami belok kiri setelah melewati jembatan baja pertama.
Gunung Pangrango mulai terlihat dan jalanan yang tadi didominasi kendaraan besar sekarang
didominasi sepeda motor dan pick up terbuka... Udara mulai lebih dingin dan jalanan menanjak terus, mirip jalur ke Sukamantri.
Kami melewati
kampung Sasak Dua, kampung Cimande Girang menuju Kampung Nangleng : sampai
batas jalan aspal habis !
Tapi tanjakan seolah – olah tidak pernah habis. Saya sebagai 'penikmat' tanjakan menikmati
perjalanan dengan menggenjot sepeda pelan – pelan (hehehe)....sementara om Rouf dan om Agung – dua raja tanjakan itu – sudah menghilang entah dimana di depan. Beberapa kali saya mengambil pit stop liar karena hidung yang buntu perlu dilegakan (sorry....saya flu ). Tapi bersemangat lagi melihat Pangrango di depan yang dengan indah menampakkan diri... sementara di belakang, gunung Salak tersenyum melihat saya mengejar dua raja tanjakan yang sudah hilang melesat di depan....
Akhirnya, sampai juga saya di Nangleng...
Waktu itu sekitar pukul 9.30.....

Setelah istirahat
minum teh manis yang hangat, membuka peta dan bertanya ke warga setempat, kami
melanjutkan perjalanan dengan asumsi
bahwa kami menuju Pancawati....
Kami mengarahkan
sepeda melewati rumah – rumah penduduk, kandang kambing, kebun – kebun kol yang
rapat dan belok kanan.....tiba – tiba lanskap indah membentang dihadapan kami :
lembah yang dihias sawah – sawah terasiring
geometris berderet rapi, hijau dengan
sungai cimande yang berkelok di tengahnya adalah kontras bagi hutan pinus
dipuncak – puncak bukit dan Pangrango yang perkasa pagi itu berkabut
misterius....
Udara lembah yang segar dingin membuat kelelahan terlupakan sejenak.

Kami pun turun kearah lembah. Berhenti di jembatan kecil terbuat dari beton dan melewati
pematang – pematang sawah menuju ke seberang : kampung Bangrung. Di jalur ini,
sepeda harus rela tidak digowes. Kami berharap , di atas ada jalan sejajar dengan kontur bukit sehingga kami tidak terlalu berat memanggul sepeda.
Tapi apalah daya, manusia berharap, Allah yang menentukan, jalan yang kami temukan adalah jalan setapak naik lurus menantang ketinggian bukit. No genjot, GGS (Gotong – gotong Sepeda) only....
Akhirnya kami bertiga ber-GGS ditonton orang – orang yang memandang kami dengan ekspresi : "Mas – mas......sampean ini jauh – jauh kesini kok ya cuman buat manggul
sepeda, apa ya nggak ada kerjaan lain ?"
But show must go on.....
Kami pun ber GGS melewati jalanan setapak berundak yang licin sisa hujan tadi malam.
Akhirnya,
sampailah kami di sebuah musholla ......
Saya membayangkan, kalau saya bawa "My Black Scott"....walah.....ya ampun – ampunan
saya melewati tanjakan dan jalur GGS tadi......
Setelah istirahat, kami melanjutkan perjalanan lagi....ke Pancawati.
Tanpa babibu...kami langsung belok kiri dan berhenti di sebuah gardu pandang yang menghadap lembah. Kampung Nangleng terlihat di seberang..... indah menakjubkan....
Perjalanan kami teruskan melewati jalan makadam menurun, melewati kampung. Setelah agak jauh, saya merasa bahwa jalur yang kami lewati salah.... Apakah ini euphoria jalan turun setelah tadi habis – habisan GGS ?
Akhirnya saya
berhenti dan bertanya ... "Pak, jalan ini tembus kemana?"
"Ke Cimande Talang, pak....." jawab mas – mas yang saya tanya.....
Waduuh...itu khan pertigaan Cimande tempat kami masuk tadi.....
Mau mbalik naik ? Waaah, ampuuun....
Akhirnya kami putuskan on road lagi lewat raya Sukabumi menuju Bogor....
Nanjak lagi, macet lagi malah siang itu macetnya lebih ampun ampunan........
Seperti biasa, saya menikmati tanjakan dan dua raja tanjakan melejit meninggalkan saya......
Dalam perjalanan pulang menjelang Cikereteg, om Agung terjatuh dengan sebab – sebab yang sampai sekarang masih misterius.... tapi akibatnya lumayan juga : otot betis kiri
tertarik sehingga terasa nyeri setiap dipakai menggenjot pedal.....
Tapi biar pun begitu, gowes tetap jalan !
No pain, no
angkot....
Luar biasa....
Saya terus via Air Mancur, sementara om Agung
& om Ro'uf pulang via Jambu Dua.
Pukul 13.21, saya sampai kembali di rumah.

Cyclometer menunjukkan 66,1 km jarak yang sudah ditempuh....
Alhamdulillah....akhirnya jadi juga saya ke Nangleng .....
Dan hutan – hutan Pinus di Gigir Pancawati membayang,
memanggil – manggil saya untuk kembali.......
Foto - foto silahkan diintip di :
http://myunuswb.multiply.com/photos/album/43