SEBAGIAN BAB DARI BUKU KEHIDUPAN.......

Muhammad's posts with tag: xc

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag xc
Photo AlbumEXPLORE ETAPE I : BODOGOL - PANCAWATI (64 photos)Aug 18, '08 10:35 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Berawal dari rasa penasaran saya dan pertanyaan om Oki LH, apakah dari Bodogol ada jalur ke Pancawati?
Akhirnya kemarin, hari Senin, 18 Agustus 2008, kami bertujuh : saya, pak Oni, kang Bagja, kang Petrus, om Agung, pak Ro'uf dan om Guntur memulai eksplorasi jalur Bodogol - Nangleng - Pancawati. Sayang, om Oki LH tidak bisa ikut....
Kami berangkat dari MP Bank Niaga dengan angkot ke Bodogol sekitar pk. 7.30 dan sampai di Lido Bodogol gerbang depan pk. 8.30.
Setelah rakit sepeda kembali dan berdo'a, kami berangkat melewati jalan paving dan memotong jalur via tanjakan pinus ke arah lapangan terbang Lido. Dari lapter Lido, perjalanan diteruskan melewati kebun2 penduduk sampai akhirnya tembus di penghabisan jalan paving.
Setelah penghabisan jalan paving, kami belok kiri ke arah Srogol, sebuah desa yang terletak di lembah, diapit pasir (punggungan) Bodogol. Hutan Bodogol terlihat biru kehijauan di depan kami.
Jalan ke desa Srogol berupa single track paving dan jalan tanah berliku-liku di lereng punggungan Bodogol (foto 26). Menurun dan licin !
Sesampai di Srogol, perjalanan berubah menanjak menyisir punggungan Bodogol menuju jalan ke arah Cinagara (foto 46).
Tanjakan berubah turunan memutar balik. Menurun terus sampai mendekati pertigaan jalan raya SPN Lido !
Disini kami istirahat memulihkan tenaga dengan gorengan dan teh manis. Setelah itu perjalanan dilanjutkan lagi melewati jalan Cinagara - Tangkil. Sempat berhenti melihat persiapan panjat pinang dan yang manis - manis (foto 52), hehehe... Perjalanan diteruskan melewati jalan yang terus menanjak dan akhirnya belok kiri kearah Nangleng !
Akhirnya kami sampai di jalan yang saya lewati 2 minggu lalu. Pas di area tanjakan L yang mantap itu......Fiuh.... Akhirnya kami sampai di Nangleng dan istirahat di rumah penduduk. Mengumpulkan tenaga untuk menuruni lembah menaiki bukit seperti yang saya lakukan 2 minggu lalu.
Cuaca yang cerah, berubah mendung dan gerimis.
Alamat perjalanan akan berubah menjadi berat....
Setelah sempat terjadi insiden tunggu menunggu karena salah koordinasi, akhirnya kami menyeberang ke Pancawati. Gantian sepeda yang dipanggul.
Perjalanan yang sungguh berat dan menyita tenaga dan kami membalasnya dengan semangkok mie panas di Pancawati....
Di Pancawati, kang Petrus dan kang Bagja memisahkan diri, turun ke pertigaan Cimande sementara kami terus ke arah raya Tapos.
Perjalanan melewati turunan makadam, tanjakan tanah, sampai akhirnya kami sampai di raya Pancawati. Dari sini full on road melewati turunan mak nyus (tapi ada tanjakan juga) sampai akhirnya sampai di Gadog. Jalanan macet total...
Tapi kami terus melaju via Katulampa untuk pulang.
Saya sampai di rumah pk. 17.00 pas....
Perjalanan gowes gila-gilaan bagi saya.

Jarak tempuh sekitar 70 km....
Perjalanan nyaris 12 jam bila istirahat dihitung....
2 lt air, 1 kantung coklat, 4 botol minuman suplemen, 1 mangkok mie, 1 mangkok bakso beberapa gorengan, teh manis.....

ETAPE II menunggu : Pancawati - Makam Jerman

Terima kasih, om Guntur & om Petrus untuk tambahan foto-fotonya...

Blog EntryReport Telat : Nggowes ke Nangleng Aug 12, '08 10:56 PM
for everyone

Akhirnya, sampai juga saya di Nangleng yang  siang itu cukup sejuk........

Nangleng?





Saya ingat waktu itu sekitar bulan Maret 2007. Saya penasaran dengan diterbitkannya seri peta Puncak Trek Guidebook  oleh WIPA (puncaktrek.com). Setelah mencari info di indobackpackers dan mr. Google, akhirnya ada e-mail dari bu Korns, dan singkatnya satu seri puncak trek diantar ke rumah...(terima kasih, bu Korns... ).


Setelah membuka peta – peta itu, akhirnya saya tahu dimana Nangleng itu ....dan ternyata
pengetahuan saya tentang wilayah Indonesia – Jawa Barat – Bogor (zoom mode
on)  ini alangkah minimnya...... dan rasa ingin tahu saya terhadap wilayah lereng-lereng Gede Pangrango ini semakin naik tensinya dari hari ke hari.

Nangleng dalam Puncak Trek Guidebook masuk dalam Sector B – Ciawi yang diapit oleh Jalan Raya Puncak dan Jalan Raya Sukabumi dan keduanya bertemu di Pasar Ciawi dengan variasi ketinggian menurun dari 1160 mdpl sampai yang terendah 711 mdpl di barat daya dekat Kampung Nangleng. Dari Kampung Nangleng ini, hutan membentang sejauh 10,5 km ke arah puncak Pangrango....

Di sektor B ini terdapat kebun – kebun teh seperti Lemahneundeut, Arca dan Pancawati. Penduduk kampung sudah mengambil alih sebagian besar perkebunan ini untuk ditanami
sayuran.

Di sektor B ini juga, dapat kita temui peninggalan sejarah seperti Arca Domas dan makam tentara Jerman, beberapa Curug yang masih alami, Tapos, beberapa base camp outbound,
workshop keramik FX Widayanto dan kebun – kebun organik serta hutan – hutan yang masih menyimpan flora dan fauna yang beragam seperti jenis – jenis anggrek, Monyet ekor panjang, Owa Jawa, babi hutan, tupai, musang, elang Jawa, burung puyuh gonggong Jawa, cekakak sungai, cucak kutilang dan tekukur.

Pengolahan kebun dan sawah yang ekspansif menjadi ancaman tersendiri terhadap keanekaragaman tersebut.....

Akhirnya, sampai juga saya di Nangleng...

 Waktu itu hari Minggu  kami bertiga : saya, om Agung dan om Ro'uf  berangkat  sekitar pukul 7.30 dari Kompleks Hero / Giant Pajajaran. Semula, om Guntur, kang Bagja dan om Oki akan bergabung juga tetapi karena ada kesibukan akhirnya kami bertiga yang berangkat ke Nangleng.

Setelah menyempatkan diri sarapan, kami bertiga berangkat. Semula saya usulkan naik
angkot saja sampai Nangleng dan di Nangleng barulah kita mulai eksplorasi rute, tetapi om Agung dan om Ro'uf mengusulkan alternatif nggowes dari meeting point : Alamaak.....batin
saya..... tetapi ya apa boleh buat.....

Kami bergerak menuju Tajur – Pertigaan Ciawi. Udara masih segar sisa hujan semalam.  Lalu lintas padat : angkot, sepeda motor, mobil pribadi, orang – orang bersepeda.....mendekati pertigaan Ciawi, lalu lintas semakin ramai dan jalan semakin menanjak...

Selepas pertigaan Ciawi, kami  belok kanan ke arah Sukabumi. Jalanan semakin ramai dan semakin menanjak juga. Tetapi inilah nikmatnya bersepeda : selap selip, meliuk – liuk diantara kendaraan, kalau perlu ambil kiri full lewat celah – celah jalan yang mustahil dilewati
kendaraan lain .....

Selepas
Cikereteg, jalan yang menanjak berubah turun........ Waaah....turunan panjang
nih....dan turunan panjang itu berakhir di pertigaan Cimande. Waktunya belok
kiri !

Kami belok kiri setelah melewati jembatan baja pertama.

Gunung Pangrango mulai terlihat dan jalanan yang tadi didominasi kendaraan besar sekarang
didominasi sepeda motor dan pick up terbuka... Udara mulai lebih dingin dan jalanan menanjak terus, mirip jalur ke Sukamantri.

Kami melewati
kampung Sasak Dua, kampung Cimande Girang menuju Kampung Nangleng : sampai
batas jalan aspal habis !

Tapi tanjakan seolah – olah tidak pernah habis. Saya sebagai 'penikmat' tanjakan menikmati
perjalanan dengan menggenjot sepeda pelan – pelan (hehehe)....sementara om Rouf dan om Agung – dua raja tanjakan itu – sudah menghilang entah dimana di depan. Beberapa kali saya mengambil pit stop liar karena hidung yang buntu perlu dilegakan (sorry....saya flu ). Tapi bersemangat lagi melihat Pangrango di depan yang dengan indah menampakkan diri... sementara di belakang, gunung Salak tersenyum melihat saya mengejar dua raja tanjakan yang sudah hilang melesat di depan....

Akhirnya, sampai juga saya di Nangleng...

Waktu itu sekitar pukul 9.30.....



Setelah istirahat
minum teh manis yang hangat, membuka peta dan bertanya ke warga setempat, kami
melanjutkan perjalanan dengan asumsi 
bahwa kami menuju Pancawati....

Kami mengarahkan
sepeda melewati rumah – rumah penduduk, kandang kambing, kebun – kebun kol yang
rapat dan belok kanan.....tiba – tiba lanskap indah membentang dihadapan kami :
lembah yang  dihias sawah – sawah terasiring
geometris berderet rapi,  hijau dengan
sungai cimande yang berkelok di tengahnya adalah kontras bagi hutan pinus
dipuncak – puncak bukit dan Pangrango yang perkasa pagi itu berkabut
misterius....

Udara lembah yang segar dingin membuat kelelahan terlupakan sejenak.


Kami pun turun kearah lembah. Berhenti di jembatan kecil terbuat dari beton dan melewati
pematang – pematang sawah menuju ke seberang : kampung Bangrung. Di jalur ini,
sepeda harus rela tidak digowes. Kami berharap ,  di atas ada jalan sejajar dengan kontur bukit sehingga kami tidak terlalu berat memanggul sepeda.

Tapi apalah daya, manusia berharap, Allah yang menentukan, jalan yang kami temukan adalah jalan setapak naik lurus menantang ketinggian bukit. No genjot, GGS (Gotong – gotong Sepeda) only....

Akhirnya kami bertiga ber-GGS ditonton orang – orang yang memandang kami dengan ekspresi : "Mas – mas......sampean ini jauh – jauh kesini kok ya cuman buat manggul
sepeda, apa ya nggak ada kerjaan lain ?"

But show must go on.....

Kami pun ber GGS melewati jalanan setapak berundak  yang licin sisa hujan  tadi malam.

Akhirnya,
sampailah kami di sebuah musholla ......

Saya membayangkan, kalau saya bawa "My Black Scott"....walah.....ya ampun – ampunan
saya melewati tanjakan dan jalur GGS tadi......

Setelah istirahat, kami melanjutkan perjalanan lagi....ke Pancawati.

Tanpa babibu...kami langsung belok kiri dan berhenti di sebuah gardu pandang yang menghadap lembah. Kampung Nangleng terlihat di seberang..... indah menakjubkan....

Perjalanan kami teruskan melewati jalan  makadam menurun, melewati kampung. Setelah agak jauh, saya merasa bahwa jalur yang kami lewati salah.... Apakah ini euphoria jalan turun setelah tadi habis – habisan GGS ?

Akhirnya saya
berhenti dan bertanya ... "Pak, jalan ini tembus kemana?"

"Ke Cimande Talang, pak....." jawab mas – mas yang saya tanya.....

Waduuh...itu khan pertigaan Cimande tempat kami masuk tadi.....

Mau mbalik naik ? Waaah, ampuuun....

Akhirnya kami putuskan on road lagi lewat raya Sukabumi menuju Bogor....

Nanjak lagi, macet lagi malah siang itu macetnya lebih ampun ampunan........

Seperti biasa, saya menikmati tanjakan dan dua raja tanjakan melejit meninggalkan saya......

Dalam perjalanan pulang menjelang Cikereteg, om Agung terjatuh dengan sebab – sebab yang sampai sekarang masih misterius.... tapi akibatnya lumayan juga : otot betis kiri
tertarik sehingga terasa nyeri setiap dipakai menggenjot pedal.....

Tapi biar pun begitu, gowes tetap jalan !

No pain, no
angkot....

Luar biasa....

Saya  terus via Air Mancur, sementara om Agung
& om Ro'uf pulang via Jambu Dua.

Pukul 13.21, saya sampai kembali di rumah.


Cyclometer menunjukkan 66,1 km jarak yang sudah ditempuh....

Alhamdulillah....akhirnya  jadi juga saya ke Nangleng .....

Dan hutan – hutan Pinus di Gigir Pancawati membayang,

memanggil – manggil saya untuk kembali.......



Foto - foto silahkan diintip di : 

http://myunuswb.multiply.com/photos/album/43

 





Photo AlbumGara - Gara Benang Layang - Layang (7 photos)Jun 16, '08 4:04 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Minggu sore kemarin sebetulnya tidak ada rencana nggowes karena badan agak 'hangat' setelah hampir seminggu turne (turu mrono mene = tidur disana disini).
Berhubung sudah menyanggupi ajakan pak Bram (TCC), jadilah saya dan pak Bram (mestinya 4 orang yang ikut nggenjot) nggowes dengan tujuan 'jalur cepat Sawit'. Jadi kalau berangkat 15.30, Insya Allah pk. 17.30 sudah sampai rumah.

Selepas TSP menuju Kayu Manis, saya lihat ada belokan single track turun yang belum dicoba....Akhirnya, jadilah kami nggowes explore di rute belakang rumah.

Ternyata single track-nya maknyus juga. Naik - turun lewat jembatan bambu segala. On road ada, off road ada juga. Rutenya juga sama sekali baru, lha wong explore trial 'n error. Salah jalan ya mbalik. Begitu....

Akhirnya, saya lewat di jalan yang banyak anak-anak main layang - layang. Wuiih...ngeri juga kalau leher kena benang gelasan yang tajam itu ; dengan penuh kewaspadaan akhirnya kami lewat dengan selamat.

Disatu belokan lewat empang - empang, kami TTB ditonton anak-anak yang heran karena ngambil rute 'tidak umum'....lha ada jalan mulus kok ya milih TTB via empang.....

Lepas empang itu, horror terjadi...Waktu pedal digenjot, lha kok keras...Saya paksa karena biasanya karena shifter kepencet waktu TTB. Satu dua kali tetep seret terus ada suara "BLETHAK" dan saya lihat, RD SRAM saya sudah tergantung dengan manis....

YA ALLAH, GUSTI........saya sudah membayangkan akan panjangnya sidang dengan komisi anggaran untuk mengajukan dana non budgeter mengganti RD baru, panjangnya lobi - lobi dengan dua anggota yang biasanya minta disuap Mc D atau AW....

Fiuh....saya bernafas lega karena tidak terjadi kerusakan apa-pun dengan RD kesayangan saya...hanya anting yang patah (ini anting home made produksi Semplak)....

Saya lihat segumpal benang membelit di RD. Sungguh terlaa...luu.... kenapa saya nggak cek 'n ricek tadi, yaa?
Untung - orang Jawa selalu untung - pak Bram membawa anting cadangan dan operasi mengganti anting sukses dilalui dengan ditonton anak-anak....

Hikmahnya :
1. Jangan sepedaan dekat anak2 main layang - layang
2. Jangan percaya dengan 1 anting RD ...jadi selalu bawa cadangan
3. Jangan lupa cek 'n ricek kondisi sepeda
4. Jangan menganggap enteng trek meskipun di ' belakang rumah '
5. Jangan lupa, SRAM ternyata memang kuaaat.....hehehe....
6. Jangan lupa selalu mengantungi tool kits
7. Jangan kapok sepedaan...
8. Jangan lupa belajar repair sepeda (ganti ban, pasang + stel FD - RD, stel rem )
9. Jangan lupa bawa kamera....( untung ada kamera HP.... )

ddd
dThumbnaild
ddd
Foto - foto hasil nggenjot ke Sawit kemarin (Sabtu, 10 Mei 2008). Laporan bisa diintip di http://myunuswb.multiply.com/journal/item/39/MENJELAJAH_SAWIT_VIA_CANDALI_BARENG_GCC_YCC_DAN_BCC.....

A. TCC’ERS (alphabetical order ….) :

1.      TCC -  ADI

2.      TCC - AGUNG

3.      TCC – AGUS R

4.      TCC –  ANTO

5.      TCC – DANI

6.      TCC – GUNTUR

7.      TCC – HASBIE

8.      TCC - IMAN

9.      TCC – ISMU

10.  TCC - KAMAL

11.  TCC -  SYAIFUL

12.  TCC –  YUNUS

13.  GCC – BAGJA N (GCC= GUNUNG BATU CYCLING CLUB J)

14.  GCC – DHANIS W

15.  GCC- HARIS

16.  GCC – LUKMAN  H / OKKY

17.  GCC – PETRUS SURYADI

18.  YCC – ACO (YCC= YASMIN CYCLING CLUB J)

19.  YCC – KAMTO

20.  YCC – RENDI

21.  YCC -  REYMOND

22.  YCC – WIDODO

23.  BCC – SANTO (BCC= BVC CYCLING CLUB J)

 

B. RUTE :

Tamansari Persada – Kampung – Jemb. Bambu –Jl Raya Parung – Kemang Kiara – Candali – Bubut 1 – Bubut 2 – Tanjakan Semen -Kemang Kiara – Jl Raya Parung – Sholeh Iskandar -  Tamansari Persada

 

C. JARAK TEMPUH : 32,5 KM

    

D. GENJOT TIME  + WAKTU ISTIRAHAT : LK.  6 jam 30 menit (7.00 – 13.30)

 

Genjot kali ini diluar dugaan mencapai rekor dalam jumlah peserta, tercatat pada awal start dari rumah pak Ismu yang sudah repot – repot menyiapkan sarapan, ada sekitar 22 MTB’er yang berangkat ke Sawit. Sekian banyak peserta ini berasal dari TCC ( 12 orang), om Haris CS dari Gunung Batu (5 orang) dan om Aco Cs dari Yasmin (5 orang) dan om Santo dari Bukit Cimanggu Villa.

 

 Saya pribadi agak kuatir karena semalam,  Bogor habis disiram hujan besar dan biasanya setelah hujan, rute sawit sebagian besar tidak bisa dilewati, kecuali dengan TTB…..

Akhirnya disepakati, goweser melambung saja ke Candali untuk mencari trek yang aman.

Kami berduapuluh dua melewati rute klasik via makadam kearah Billabong, tapi sebelum kebun  bambu, kami melewati pertigaan belok kiri via Jl. Prihatin, empang dan jembatan bambu sampai muncul di jalan aspal sesudah pom bensin Billabong. Sampai disini, jumlah peserta berkurang 4 orang (pak Iman, pak Hasbie, om Agung dan om Guntur) karena harus balik. Setelah terus ke Kemang Kiara, peserta berkurang  2 lagi, karena pak Adi dan Ustadz Kamal harus balik juga, tetapi ada pak Agus Rohman yang menyusul kemudian.

Udara segar sekali, jalanan mulai ramai karena orang-orang berangkat kerja atau sekolah. Jalanan on road yang mulus membuat  sepeda enak dipacu, tetapi di Masjid setelah turunan Pabuaran, rantai sepeda om Reymond  dari Yasmin putus, dan lebih parahnya, RD-nya juga mengalami masalah sehingga harus diganti single speed. Tapi dengan pertimbangan kondisi medan yang akan dilalui, terpaksa om Reymond mengundurkan diri karena kuatir kerusakan menjadi lebih parah.

Kami berenam belas kembali memacu sepeda kearah gerbang Candali.  Cuaca masih mendung. Sebelum gerbang Candali, kami melakukan pit stop lagi untuk mengisi cadangan air minum, mengisi perut dan membuktikan kebenaran gossip dari pak Syaiful tentang teteh yang katanya manis, hehehe.....

Apakah gossipnya terbukti? Pak Dani dalam beberapa menit sudah mengajukan sanggahan ke pak Syaiful, hahaha.....

Melewati gerbang Candali, genjot yang sebenarnya dimulai. Jalan mulai menanjak dan makadam berubah menjadi jalan berbatu – batu lepas. Bekas-bekas ban truk yang melewati jalan berlumpur dan mulai mengering kadang juga menjebak ban sepeda. Setelah melewati pertigaan kedua, jalan makadam berubah menjadi jalan tanah menanjak. Jejak truk yang dalam juga semakin menyulitkan. Nafas mulai berat dan keringat mulai membasahi jersey, tetapi pemandangannya juga mulai mengasyikkan. Sawah – sawah dibawah mulai kelihatan, juga hamparan sawit yang hijau. Hmm, udaranya juga masih segar.....

Sampai di pertigaan, kami melakukan pit stop untuk menormalkan nafas yang sudah tidak teratur. Lumayan juga, ternyata yaa.... Sampai di pertigaan ini, om Petrus Suryadi  harus balik ke Bogor karena ada keperluan. Wah sayang, Om. Padahal diatas banyak sekali obyek foto menarik.....

Perjalanan dilanjutkan menuju Hill 1. Jalanan yang biasanya berumput, sekarang sudah dipangkas bersih....tapi, lhaa jalan ke Hill 1, mana? Jalanan single trek yang biasanya jelas, sekarang dipenuhi semak dan rumput . Mau terus melewati jalan besar, rasanya nggak afdol tanpa melewati Hill 1 yang terkenal itu. Akhirnya dengan patokan GPS, saya menerabas jalan yang sepertinya single track. Setelah jalan, baru ketahuan kalau ada selisih jarak antara jalan masuk dengan jalan yang biasanya dilewati TCC. Waduh, lumayan juga TTB dan angkat – angkat sepedanya.....tapi Alhamdulillah, mendekati Hill 1, mulai kelihatan jalur yang sebenarnya harus dilewati, tapi lhaa kok diatas sana ? Wah, memang benar-benar salah masuk tadi.....

Akhirnya, kami sampai juga di Hill 1. Udara mulai panas, dikejauhan, Hill 2 sudah menunggu kami..... pemandangan bagus….. hmmm….Saya harus bersyukur karena dengan nggenjot kurang dari 1 jam dari rumah, saya sudah bisa menikmati trek lengkap seperti Bubut hill ini….

Setelah istirahat sekitar 20 menit, kami siap-siap mencoba turunan bubut 1. Turunan ini berupa jalan tanah  lurus menuju bubut 2 dengan kemiringan berkisar antara 20 o – 30o . Turunan sebagai bonus setelah tadi nanjak… Meskipun tetap harus hati – hati karena sering ada lubang atau batu…. di tengah jalan, apalagi sekarang jalan tersebut didominasi rumput – rumput tebal.

Alhamdulillah, kami sukses melewati turunan tanpa ada hambatan atau musibah terjatuh…

Tujuan berikutnya : Hill 2. Untuk mencapai Hill 2, kami harus melewati jalan makadam batu lepas yang menanjak dan ’siksaan’ yang cukup menyiksa adalah  cuaca yang panas. Angin pun tidak cukup mendinginkan sehingga beberapa goweser terpaksa istirahat dulu di bawah pohon – pohon  sawit.

Setelah belok kiri melewati jalan tanah, jalan makadam berubah menjadi jalan tanah, tapi masih ada tanjakan akhir sebelum masuk single track jalan rumput, mengikuti single track dan pemandangan sebelah kanan berubah menjadi sangat indah. Bagian depan terhampar kebun sawit yang luas dan hijau, bagian belakang ada hamparan hijau diselingi atap atap rumah dan bangunan dan jauuh dibelakang, lanskap kota Jakarta berdiri membentang dari ujung timur ke barat......hmmm tempat yang cocok buat NR, bukan?

Setelah foto-foto, kami siap-siap down hill. Jalanan Single Track didominasi rumput tebal di kanan kiri, tapi karena itu, bonggol karet dan batu yang tersembunyi menjadi sumber bahaya tersembunyi.

Beberapa kali saya berhenti untuk menandai ranjau bonggol karet dan batu yang tertutup rumput. Alhamdulillah, semua lewat dengan sukses….

Setelah turunan hill 2 dan sampai pertigaan kami putuskan untuk belok kiri. Hill 3 yang sudah menunggu kami terpaksa harus menunggu lagi di kesempatan berikut, karena stamina dan bayangan sop kambing sudah benar – benar menggoda. Belok kiri, artinya menikmati turunan yang panjang sampai tanjakan beton…hajar, bung….

 

Tapi tunggu dulu...ternyata turunan sawit tadi memakan korban !  Ban sepeda om Santo dan teman dari GCC menjadi korban duri sawit ! Untung ada ban dalam cadangan sehingga masalah dapat segera diatasi.

 

Setelah ban dalam diganti dan ngobrol dengan 3 bapak – bapak goweser dari Pamulang, kami segera tancap gas kearah Kemang Kiara. Full speed karena turunannya mantap, slow down melewati tanjakan semen dan belok kanan masuk jalan Kemang Kiara lagi...

Alhamdulillah, tidak ada yang jatuh atau cedera.....

Perjalanan ke Sawit siang itu ditutup dengan acara makan siang bersama di sop kambing depan Jembatan Timbang Salabenda. 

Terima kasih pak Ismu yang sudah repot – repot menyiapkan sarapan. Terima kasih buat teman2 TCC, GCC, YCC dan BCC.  Sampai jumpa lagi di acara nggenjot berikutnya........

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help